Berita

Wiranto Ajak Mahasiswa Selamatkan Indonesia yang Kian Terpuruk

JUMAT, 29 NOVEMBER 2013 | 06:14 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Setelah bangsa ini jatuh bangun sejak zaman Orde Baru tumbang dan berganti menjadi Orde Reformasi, bangsa ini belum juga mampu bangkit dari keterpurukan. Sebaliknya, Orde Reformasi yang diusung dan diperjuangkan para mahasiswa berubah menjadi orde yang sarat korupsi.
 
Karena itu, Calon presiden (capres) dari Partai Hanura, Wiranto, mengajak mahasiswa duduk bersama membahas rumusan menyelamatkan bangsa yang saat ini dalam kondisi karut-marut. Wiranto menyebutkan bahwa mahasiswa harus tergerak merumuskan formula perubahan.

"Indonesia butuh obat mujarab perubahan. Saya akui saya serius roadshow bertemu mahasiswa se-lndonesia untuk bergandeng tangan mencari rumusan berupa perubah¬an yang tepat untukbangsa ini," kata Wiranto dalam dialog ke-bangsaan "Mencari Pemimpin Indonesia" di Auditorium Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo kemarin.
 

 
Dalam dialog kebangsaan yang bekerjasama dengan Pol-Tracking Institute dan dihadiri oleh anggota DPR Hidayat Nur Wahid dan Ketua Asosiasi Gubernur Se-lndonesia Syahrul Yasin Limpo serta diikuti oleh ratusan mahasiswa ini, Wiranto menegaskan bahwa seluruh elemen bangsa jangan sampai pesimistis dengan kondisi bangsa yang bisa memicu sikap acuh terhadap bangsa ini.

"Tak ada yang tak bisa dan tidak ada yang tidak mungkin sepanjang kita berniat mulia untukbangsa, perubahan itu bisa diwujudkan," katanya.
 
Terkait dengan perubahan, Wiranto sempat menceritakan masa kecilnya hingga sukses menjadi Panglima TNI. Saat kecil, Wiranto sepulang sekolah pernah berjalan di sekitar area Istana Mangkunegaran Solo. Lucunya di sini pria yang tumbuh besar dan pernah mengenyam pendidikan di SMAN 4 Solo itu lari karena dikejar - kejar oleh petugas keamanan istana.
 
Hal ini berbeda ketika menjabat sebagai Pangdam Jaya, Wiranto yang saat itu bertugas untuk turut membantu renovasi istana, datang dan diperlakukan sebagai tamu kehormatan. Ia pun mencari sosok satpam yang pernah mengejarnya saat kecil.

"Saya tidak tahu namanya dan hanya tahu (perawakannya) besar. Ternyata pensiun, saya tidak ingin balas dendam tapi hanya ingin kasih hadiah, sebab dia pegawai disiplin. Artinya sesuatu yang tidak mungkin jadi mungkin. Ketika SMP, saya tidak tahu akan jadi jenderal seperti ini. Dan dengan ketekunan dan kesungguhan itu bisa munculkan perubahan," jelasnya. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Tokoh Reformasi Amien Rais, Megawati, Sultan HB X dan Gus Dur

Selasa, 12 Mei 2026 | 14:15

KPK Panggil Mantan Kepala BBPJN Stanley Cicero

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:55

Trump Geram Kuba Tak Kunjung Tumbang Meski Dihantam Embargo Minyak AS

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:54

UEA Diduga Diam-Diam Ikut Serang Iran

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:47

Juri Lomba Cerdas Cermat Jangan Antikritik

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:45

Dua Ajudan Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Digarap KPK

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:41

Purbaya Dorong Insentif Mobil Listrik di Tengah Ancaman Konflik Iran-AS Berkepanjangan

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:25

Gibran Puji Inovasi Transportasi Gratis Pemprov DKI

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:20

Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar di Kalbar Harus Diulang

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:18

Aktivis Global Sumud Flotilla Alami Penyiksaan Selama Ditahan Israel

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:18

Selengkapnya