Berita

Jangan Sampai Kecolongan, Periksa Alat Sadap Bantuan Australia untuk Densus

RABU, 20 NOVEMBER 2013 | 08:41 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Berbagai peralatan, terutama alat-alat sadap bantuan asing yang memang banyak dimiliki Kepolisian, lebih khusus peralatan sadap milik Detasemen Khusus 88 Anti-Teror yang merupakan bantuan Australia, harus segera dievaluasi  Sebab, bukan mustahil lewat bantuan alat sadap untuk Densus 88 itu, pihak Intelijen Australia melakukan penyadapan terhadap segala sesuatu alat komunikasi para pejabat Indonesia.

Karena itu, Ketua Presidium IPW, Neta S. Pane (Rabu, 20/11), mendesak, pemerintah Indonesia dan kalangan Intelijen Negara melakukan pengecekan terhadap alat sadap bantuan asing, terutama Australia ke Densus 88 Anti Teror, apakah pihak Australia melakukan penyadapan lewat alat bantuan tersebut.

"Jika memang terbukti penyadapan itu lewat alat sadap bantuan, itu berarti sudah waktunya semua alat tersebut diblokir, dinonaktifkan dan tidak perlu difungsikan lagi. Jika pun tidak terbukti, pemerintah dan jajaran intelijen negara patut mewaspadainya, kenapa intelijen Australia dan negara asing lainnya terlalu gampang menyadap para pejabat Indonesia.


Neta mengungkapkan, Australia menunggangi kepolisian Indonesia bukan hal baru. Setidaknya, hal ini sudah terjadi sejak lima tahun lalu. Saat itu banyak perwira menengah Polri yang mendapat bea siswa pendidikan kepolisian di Australia.

"Hasilnya, setelah para Pamen itu kembali ke Tanah Air, mereka menjadi kaki tangan Australia dan diperintah-diperintah Pemerintah Australia untuk mencegah imigran Timur Tengah yang hendak masuk ke Australia di kawasan perairan Indonesia. Sebab itu, sudah waktunya semua bantuan asing ke Indonesia dievaluasi agar Indonesia tidak kecolongan," demikian Neta. [zul]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Zero ODOL Sulit Diterapkan, DPR Ingatkan Risiko Inflasi di Sektor Logistik

Jumat, 10 April 2026 | 12:14

Catut Nama Pimpinan KPK, Komplotan Pegawai Gadungan Peras Anggota DPR

Jumat, 10 April 2026 | 11:51

Sentimen Perang Picu Spekulasi Logistik: Ancaman Baru bagi Stabilitas Pangan Nasional

Jumat, 10 April 2026 | 11:39

Komplotan Pegawai KPK Gadungan Dibongkar, 17.400 Dolar AS Disita dari Aksi Pemerasan

Jumat, 10 April 2026 | 11:28

DPR: Sejumlah Jalan Tol Cacat Sejak Awal Konstruksi

Jumat, 10 April 2026 | 11:16

Emas Antam Makin Mahal, Cek Daftarnya Hari Ini

Jumat, 10 April 2026 | 11:05

KPK-Polda Metro Tangkap 4 Pegawai Gadungan di Jakarta Barat

Jumat, 10 April 2026 | 11:03

Ini Kronologi Kasus Petral yang Menjerat Riza Chalid dan Enam Tersangka Lainnya

Jumat, 10 April 2026 | 10:53

Bulan Ini Prabowo Bakal Groundbreaking 21 Proyek Hilirisasi dan 29 Titik PSEL

Jumat, 10 April 2026 | 10:49

KPK Terapkan Skema Kerja BDR-BDK untuk Dukung Efisiensi Energi

Jumat, 10 April 2026 | 10:34

Selengkapnya