Berita

Dradjad H.Wibowo /net

Revisi DNI Bahayakan Kepentingan Nasional

SABTU, 09 NOVEMBER 2013 | 08:52 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

Sikap pemerintah membuka keran kepemilikan asing untuk berinvestasi sektor strategis melalui revisi Daftar Negatif Investasi (DNI) merupakan sikap yang membahayakan kepentingan nasional.

Begitu diungkapkan ekonom Indef Dradjad H.Wibowo dalam rilis yang diterima redaksi beberapa saat lalu (Sabtu, 9/11).

Menurutnya, rencana revisi DNI ini menimbulkan kesan bahwa pemerintah justru berusaha membuka ruang negosiasi kepemilikan sektor strategis bagi asing. Padahal sektor ini seharusnya dipegang sepenuhnya oleh negara. Uniknya, masih lanjut Dradjad, semua itu dilakukan di saat Pemerintahan SBY-Boediono berada di masa akhir rejimnya. Tentu saja bagi pihak asing, hal demikian bisa saja dianggap sebagai 'hadiah' manis.


"Kita tidak boleh anti asing karena dunia sudah masuk ke dalam globalisasi. Tapi jangan kebablasan memanjakan asing sehingga merugikan kepentingan nasional," tegas Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional ini.

Baginya, bukan hanya masalah kesempatan ekonomi, namun pemerintah juga seharusnya mempertimbangkan resiko jaringan, intelijen bisnis, hingga ke keamanan nasional. Sebagai gambaran, Pemerintah AS yang sangat liberal sekalipun gegap gempita menolak ketika salah satu pelabuhan di sana saat akan diakuisisi oleh Dubai Investment. Berbagai argumen dikemukakan termasuk keamanan nasional menghadapi teror biologi.

"Akhirnya Kongres AS menolak akuisisi tersebut. Ini Indonesia kok malah mau sok liberal," cibir Dradjad.

Seperti diketahui, pemerintah telah menyelesaikan draf revisi DNI menyusul rilis paket kebijakan ekonomi Kemudahan Berusaha oleh Wakil Presiden Boediono. Dari keputusannya itu, pemerintah menetapkan lima sektor baru yang dibuka bagi kepemilikan asing berkaitan dengan Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS). Selain itu, pemerintah juga menetapkan kelonggaran kebijakan dengan menaikkan porsi saham kepemilikan asing di 10 bidang usaha dalam relaksasi DNI. [ian]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Kapolri Resmikan Laboratorium Uji Seragam untuk Tingkatkan Perlindungan

Rabu, 13 Mei 2026 | 00:17

MK Tolak Gugatan UU IKN, Ibu Kota RI Tetap Jakarta

Rabu, 13 Mei 2026 | 00:00

Menhut Gaungkan Pengakuan Hutan Adat di Markas PBB

Selasa, 12 Mei 2026 | 23:39

Rupiah Babak Belur, BI Kembali Sebut Kebutuhan Dolar Membludak

Selasa, 12 Mei 2026 | 23:12

Eks Kasat Narkoba Polres Kutai Barat Diduga jadi Kaki Tangan Bandar Narkoba Kelas Kakap

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:49

Laut dan Manusia Harus Saling Menjaga

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:39

Bleng-Blengan Sawah Blora, Cara Lama Petani Usir Tikus

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:28

Peradilan Berjalan, GMNI Tetap Minta Dibentuk TGPF Kasus Andrie Yunus

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:16

Menkop dan Wakil Panglima Kompak Kawal Operasional Kopdes

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:10

Masa Depan Hotel Mewah dan Pariwisata di Indonesia Tourism Xchange 2026

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:01

Selengkapnya