Berita

hartati murdaya/net

Hartati Murdaya Merasa Dikorbankan dan Ditelikung

KAMIS, 07 NOVEMBER 2013 | 13:24 WIB | LAPORAN:

. Terpidana suap pengurusan izin Hak Guna Usaha (HGU) di Kabupaten Buol, Siti Hartati Murdaya merasa dikorbankan dan ditelikung oleh anak buahnya, terdakwa Totok Lestiyo, untuk menyuap mantan Bupati Buol, Amran Batalipu.

Bos PT Hardaya Inti Plantation itu menegaskan dirinya tak pernah menyetujui dan tak pernah memerintahkan pemberian uang kepada Bupati Buol. Pemberian uang itu murni atas inisiatif anak buahnya, dan dilakukan dengan cara mengelabuhi dirinya.

"Bagaimana bisa disebut menyetujui, saya tidak pernah menyampaikan persetujuan, dan tidak tahu-menahu, saya baru tahu belakangan setelah kasus ini diungkap oleh KPK," kata Hartati saat bersaksi dalam sidang lanjutan Totok Lestiyo di Pengadilan Tipikor, Jakarta (Kamis, 7/11)


Hartati menyatakan bahwa dirinya justru dikorbankan oleh anak buahnya, Totok Lestyo dan Arim. Kata Hartati, saat dirinya berusaha menghindar dari Bupati Buol yang terus meminta uang, kedua anak buahnya diam-diam tanpa persetujuan dirinya mengeluarkan uang perusahaan dan diberikan kepada Amran.

"Saya heran, sebenarnya ada konspirasi apa antara para anak buah saya dengan Bupati Buol saat itu, sehingga tanpa persetujuan saya mereka berani mengambil uang perusahaan untuk Bupati Buol," kata istri pengusaha Murdaya Poo itu.

Hartati mengaku tidak punya kepentingan untuk menyuap Bupati Buol, Amran Batalipu. Sebab, semua perijinan perkebunannya di Buol sudah lengkap dan sah. Sementara itu mengenai pembicaraan terkait sadapan telepon dengan Amran, Hartati mengaku menggunakan kata barter sebagai upaya menolak secara halus permintaan uang. Barter, menurutnya adalah dengan pekerjaan yang tidak mungkin dilakukan Amran terkati dengan kewenangannya sebagai Bupati.

"Saya tahu untuk menerbitkan HGU bukan kewenangan Amran, itu kewenangannya BPN. Jadi saya minta ke Amran sesuatu yang tidak mungkin dia lakukan sehingga saya tidak perlu memberikan uang kepadanya," urai dia.

Menurutnya, dia tidak menolak secara tegas karena kondisi pabrik dan perusahaan sedang diduduki preman suruhan Amran sehingga berhenti operasi. "Saya takut kalau saya tolak kondisinya pabrik dan perkebunan makin runyam," demikian Hartati. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

UPDATE

Konflik Agraria di Program Lumbung Pangan

Minggu, 17 Mei 2026 | 03:59

Riset Advokasi Harus Perjuangkan Kebutuhan Masyarakat

Minggu, 17 Mei 2026 | 03:36

Hati-hati! Pelemahan Rupiah Juga Bisa Hantam Warga Desa

Minggu, 17 Mei 2026 | 03:19

Kebangkitan Diplomasi Korporat di Balik Pertemuan Trump-Xi

Minggu, 17 Mei 2026 | 02:59

Pemkot Semarang Gercep Tangani Banjir Tugu-Ngaliyan

Minggu, 17 Mei 2026 | 02:33

TNI AD Pastikan Penanganan Insiden Panhead Cafe Berjalan Transparan

Minggu, 17 Mei 2026 | 02:12

Mantan Pimpinan KPK Sebut Vonis Banding Luhur Ngawur

Minggu, 17 Mei 2026 | 01:50

Jokowi-PSI Babak Belur Usai Serang JK Pakai Isu Agama

Minggu, 17 Mei 2026 | 01:25

Pemkot Semarang Pastikan Penanganan Permanen di Jalan Citarum

Minggu, 17 Mei 2026 | 01:10

Celios: Prabowo Kayaknya Perlu Dibriefing Ekonomi 101

Minggu, 17 Mei 2026 | 00:54

Selengkapnya