Berita

Figur Capres Signifikan Menjaring Pemilih

RABU, 16 OKTOBER 2013 | 11:46 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Penentuan figur calon presiden yang akan diusung setidaknya 3 bulan sebelum pemilihan legistatif akan signifikan menjaring suara pemilih. Capres dan dukungan berkorelasi positif. Tanpa figur capres, sulit bagi masyarakat memberi dukungan.

"Wajar saja kalau masyarakat harus diberi tambahan keyakinan melalui figur yang akan dimunculkan sebagai capres. Jadi bukan hanya wibawa parpol, juga capres yang akan diusung,” ujar Direktur Seven Strategic Studies (7SS) Mulyana W. Kusumah, di Jakarta Rabu (16/10).

Mulyana mengatakan, para petinggi parpol dalam berbagai kesempatan telah mengungkapkan target perolehan suara dalam Pileg 2014. Antara lain, Demokrat 15 %, Golkar 30 %, PDIP 27,2%, PKS 15%, dan sejumlah partai lain. Sudah pasti, tak semua parpol dapat memenuhi target tersebut. Sebab bila target semua parpol dijumlahkan, perolehan suara menjadi  182,3%. Hal ini tentu tidak mungkin, dan tidak akan  mengubah target yang telah ditetapkan berdasarkan kalkulasi faktual dan rasional.


Volatilitas perolehan suara akan ditentukan dinamika politik nasional, faktor  internal parpol seperti manajemen, kepemimpinan, kapasitas caleg yang berkompetisi di dapil, daya tarik capres yang diusung, serta aksesibilitas pada sumberdaya politik dan finansial, tuturnya.

Menurut Mulyana, perolehan suara parpol dalam pemilu 1999, 2004 dan 2009, dapat dikategorikan dalam 4 kelompok, yakni parpol dengan perolehan suara relatif stabil (terus berada di 3 besar). Kemudian parpol yang cenderung meningkat walau tidak signifikan, parpol yang menunjukkan tendensi menurun, dan parpol yang melonjak secara fenomenal. “Dengan parameter tersebut, PDIP, Golkar dan Demokrat tetap akan berada di posisi tiga besar,” jelas Mulyana, pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI).

Parpol yang memiliki potensi  peningkatan peringkat dibandingkan pemilu lalu, antara lain Gerindra. Sedangkan parpol dengan basis dukungan politik yang jelas, tidak akan mengalami volatilitas menyolok. “Satu hal pasti, dalam kondisi politik nasional sekarang, tidak akan ada parpol yang mengalami lonjakan perolehan suara fenomenal seperti Demokrat 2009 yang meningkat  3 kali lipat,” tukas Mulyana.

Jauh sebelumnya, board of advisor CSIS Jeffry Geovanie, mengungkapkan, bila tidak ada peristiwa-peristiwa sangat luar biasa, PDIP, Gerindra, Golkar dan Demokrat akan menguasai parlemen dengan kursi lebih dari 80 persen. Demokrat yang hampir karam akan mampu memulihkan citranya dari partai yang korup menjadi partai yang kembali memberikan harapan lewat konvensi Capres dengan format yang demokratis.

"Golkar dengan kekuatan caleg-calegnya yang lebih mapan dan sangat merata di seluruh Indonesia dipastikan mampu mengembalikan kejayaannya setidaknya dengan perolehan 20 persen kursi," tutur Jeffry akhir April lalu.

Gerindra, dengan kekuatan figur Prabowo Subianto sebagai capres yang elektibilitas begitu tinggi saat ini akan menjadi kuda hitam yang mampu setidaknya menembus angka 20 persen perolehan kursinya di tahun 2014. Yang paling kuat, kata Jeffry, tentu PDIP dengan Jokowi effect-nya. "Sulit rasanya untuk tidak mengatakan pemenang Pemilu 2014 adalah PDIP," ungkapnya.

Jeffry sendiri yakin PDIP akan mendukung Jokowi. "Sampai saat ini saya masih berkeyakinan Megawati akan mengumumkan pencapresan Jokowi pada akhir Januari atau awal Februari 2014. Tidak percaya? Tunggu saja tidak lama lagi," demikian Jeffry. [zul]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Suap ke Pejabat ATR/BPN Berawal PT Summarecon Agung Tbk Caplok Lahan Warga

Selasa, 29 September 2026 | 14:21

Prabowo Panggil Mendikti Saintek hingga Kepala BNN, Bahas Pengentasan Narkoba

Selasa, 29 September 2026 | 14:18

BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Jeblok ke Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 29 September 2026 | 14:11

Pimpinan DPR Setuju Komisi XIII Periksa Lapas Cibinong

Selasa, 29 September 2026 | 14:00

Tangis Mahathir Mohamad Pecah Saat Mengantar Istri ke Peristirahatan Terakhir

Selasa, 29 September 2026 | 13:52

Prabowo-Megawati Bakal Bertemu Lagi, Dasco: Nasi Gorengnya Belum Keluar

Selasa, 29 September 2026 | 13:51

Sistem Pemungutan Pajak Digital Luar Negeri sudah Beroperasi

Selasa, 29 September 2026 | 13:48

Bitcoin Masih Stabil Meski Harga Minyak Naik Tajam

Selasa, 29 September 2026 | 13:45

Pekan Ini DPR Bertemu Parpol Non-Parlemen Bahas RUU Pemilu

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

KRI Sriwijaya-100 Bakal Dimodifikasi Dukung Penanganan Bencana

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

Selengkapnya