Berita

ilustrasi

Bisnis

Penuhi Stok 2 Juta Ton, Bos Bulog Ngimpi Nggak Impor Beras Lagi

Kedaulatan Pangan Dipertanyakan, Lagi-lagi Petani Yang Jadi Korban
SABTU, 12 OKTOBER 2013 | 10:47 WIB

Perum Bulog terus berusaha memenuhi target stok beras nasional tahun ini sebesar 2 juta ton. Namun, jika tidak tercapai, Indonesia terpaksa impor beras lagi.

“Itu (2 juta ton) sesuai dengan harapan pemerintah agar Bulog tidak perlu mengimpor beras dari luar,” ujar Direktur Utama Bulog Sutarto Alimoeso, kemarin.

Menurut Sutarto, target itu masih berupa harapan. Bila tidak bisa dicapai, mau tidak mau pihaknya harus melakukan impor untuk mengamankan stok beras nasional.


Meski harus melakukan impor, dia bilang impornya tidak akan terlalu banyak. “Kalau tahun lalu kita melakukan impor beras 600 ribu ton, paling tahun ini kita hanya impor separuhnya atau sekitar 300 ribu ton,” jelasnya.

Sutarto mengatakan, melihat kondisi cuaca yang sejak akhir Juli 2013 tidak ada hujan dan petani kemungkinan baru akan melakukan tanam pada November, maka hingga akhir tahun ini tingkat penyerapan beras petani oleh Bulog akan semakin kecil.

Dengan kondisi itu, kemungkinan berkurangnya stok beras nasional semakin besar. Nah, tugas Bulog bagaimana menjaga stabilitas harga beras karena akan mendongkrak laju inflasi.

“Kalau harga beras tinggi, kita harus makin banyak menggelontorkan beras ke pasar agar harga tidak semakin menjulang,” kata Sutarto.

Sutarto mengklaim, pihaknya terus melakukan penyerapan pangan di dalam negeri. Penyerapan beras dalam negeri telah mencapai 3,2 juta ton hingga sekarang.

Asumsinya, sampai akhir tahun harus ada stok 2 juta ton.

Penyerapan beras tersebut cukup besar dibanding tahun sebelumnya. Sementara untuk produksi dalam negeri diperkirakan hanya naik 0,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, dia tidak ingin buru-buru menutup keran impor. “Prediksi paling pahit jika impor misalnya, jumlahnya jauh lebih rendah kalau dibanding impor tahun lalu,” jelasnya.

Mulai September 2013 hingga Februari 2014, penyerapan pangan bakal menurun. Menurunnya penyerapan dikarenakan petani memasuki masa tanam dan baru memasuki musim panen pada Maret tahun depan.

Kedaulatan Pangan

Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Ali Masykur Musa menyayangkan pemerintah masih harus melakukan impor beras. Dia mendesak pemerintah segera mewujudkan komitmennya terhadap kedaulatan pangan dengan mempercepat pencetakan sawah baru.

Menurut Ali, peningkatan produktivitas pangan dalam negeri harus dilaksanakan, mengingat kebijakan impor sebagai jalan pintas masih saja diterapkan.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), setiap tahunnya impor beras mencapai 2,2 juta ton. Sedangkan laju alih fungsi lahan produktif mencapai 120 ribu hektar per tahun. Kalau kondisi itu dibiarkan, maka impor beras tidak terhindarkan.

Ali juga mendesak Kementerian Pertanian segera memperbaiki infrastruktur dan irigasi pertanian yang rusak parah setelah era otonomi daerah akibat saling lempar tanggung jawab.

Direktur Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menyayangkan kebijakan pertanian pemerintah yang tergantung pada impor. Kondisi itulah yang membuat produktivitas rendah.

Selain itu, pemerintah tidak konsisten dalam kebijakan soal pangan. Hal itu terlihat jelas dari anggaran untuk sektor pertanian yang hanya 1,3 persen dari total APBN 2013. Jangan heran kalau produktivitas petani mengalami penurunan, seperti pada komoditas kedelai, jagung dan padi.

Menurut Enny, kebijakan pertanian pemerintah juga minim koordinasi antar sektor terkait. “Koordinasi yang buruk terjadi ketika petani panen, eh pemerintah malah membuka keran impor. Jadinya harga-harga dimainkan spekulan, petani lagi yang jadi korban,”  sesal Enny. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Langkah Polri Bongkar Kasus Dugaan Korupsi Kejagung Tuai Apresiasi

Kamis, 09 Juli 2026 | 03:59

UPDATE

Harga iPhone di Indonesia Naik Juli 2026, Cek Daftar Harga Terbaru Semua Seri

Jumat, 10 Juli 2026 | 18:21

Investasi Masyarakat, BRI Hadirkan ORI030 dengan Kupon Hingga 7%

Jumat, 10 Juli 2026 | 18:13

IPW Desak Polri Periksa Febrie Adriansyah usai Akui Rumah Sentul Miliknya

Jumat, 10 Juli 2026 | 18:09

Apa Saja Hak Pegawai Usai Kena PHK? Ini Daftar Hak yang Wajib Dipenuhi Perusahaan

Jumat, 10 Juli 2026 | 18:08

Berpotensi Abuse of Power, Jampidsus Febrie harus Dinonaktifkan

Jumat, 10 Juli 2026 | 17:56

Jampidsus Febrie Adriansyah Ajari Kortastipidkor Polri Cara Tangani Kasus Batu Bara

Jumat, 10 Juli 2026 | 17:51

Modal Dukungan 34 DPD, Wihaji Maju Jadi Ketum Ormas MKGR

Jumat, 10 Juli 2026 | 17:30

Pakar Hukum: Temuan 74 Kg Emas Cukup jadi Alasan Kuat Jampidsus Mundur

Jumat, 10 Juli 2026 | 17:17

KPK Periksa LHKPN Jampidsus Febrie Adriansyah, Ditemukan Dugaan Penggunaan Nominee

Jumat, 10 Juli 2026 | 17:15

Tegang! Gedung Promoter Dijaga Puluhan Brimob Bersenjata Lengkap Jelang Konferensi Pers

Jumat, 10 Juli 2026 | 17:05

Selengkapnya