Berita

joko widodo/net

Politik

Kalau Dicalonkan pada 2019, Jokowi Keburu Banyak Cacatnya

KAMIS, 10 OKTOBER 2013 | 17:38 WIB | LAPORAN: MUHAMMAD Q RUSYDAN

PDI Perjuangan tidak punya banyak calon yang perkasa untuk dipasang menjadi petarung Pilpres 2014. Hasil survei dari banyak lembaga riset selalu menempatkan Gubernur DKI, Joko Widodo, di tempat teratas. Di samping itu, publik menyarankan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, tak mencalonkan diri lagi.

"Kader PDIP mungkin ada yang populer, tapi tidak semenonjol Jokowi. Ada juga yang mengatakan Megawati sudah saatnya menjadi pengawal ideologi, ibu bangsa dan sebagainya. Kalau PDIP tidak majukan Jokowi, kans PDIP untuk jadi partai pemerintah sangat kecil," jelas pengamat politik dari Universitas Indonesia, Doni Gahral Adian, dalam diskusi publik "Pemilu 2014: Antara Popularitas, Elektabilitas dan Eligibilitas" di kawasan Tebet, Jakarta, Kamis (10/10).

Menurut Doni, tak penting lagi apakah Jokowi menjadi calon presiden atau calon wakil presiden. Yang penting, PDIP harus mencalonkan putra Surakarta itu jika ingin menjadi partai yang memerintah.


Doni juga tidak setuju dengan desakan agar Jokowi selesaikan dulu tugasnya sebagai Gubernur DKI sampai 2017, dan setelah itu baru mencalonkan diri pada Pilpres 2019.

"Kalau dicalonkan pada 2019, Jokowi keburu banyak cacatnya dan DKI juga tidak tahu kayak apa 4-5 tahun nanti. Masyarakat kita ingatannya tidak terlau panjang, Jokowi bisa kena Ibrahimovic effect. Hebat, tapi nanti orang keburu lupa kalau dia pernah hebat," ucapnya.

Meski minim pilihan, Doni juga yakin bahwa PDIP saat ini sedang menabung kader untuk pemilu 2019, dengan harapan PDIP punya stok capres yang cukup banyak.

"Mungkin Ganjar diusung 2019 atau 2024, jadi dikasih pengalaman jadi gubernur dulu," tutup Doni. [ald]

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

UPDATE

Momen Haru, Teddy Kenang Perjalanan Gubernur Pramono di Kantor Setkab

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:16

Fondasi Membangun Ekosistem Informasi yang Sehat di Era Digital

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:14

Jangan Sampai Pengunduran Diri Gubernur BI Picu Gejolak Pasar

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:11

PDIP Soroti Kasus Febrie: Penegakan Hukum Tidak Boleh Tebang Pilih

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:07

Kuasa Hukum Nadiem Laporkan Dugaan Pelanggaran Etik dan Intimidasi Saksi ke KY

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:04

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KDKMP Diklaim Bisa Tambah Pendapatan Petani hingga Rp263 Triliun

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:59

Transformasi Digital BRI Pacu Pertumbuhan Bisnis Merchant dan Transaksi QRIS

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:51

Chad Ikuti Jejak Burkina Faso, Mali, dan Niger Keluar dari ICC

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:49

Hasto Ogah Tanggapi Kaesang Maju Nyaleg di Jateng

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:36

Selengkapnya