Masyarakat Indonesia kerap dicap sebagai masyarakat melankolis terkait sikap mereka terhadap pemimpinnya. Masyarakat sering kali memuja pemimpin tapi tak lama mencaci dan memintanya turun sendiri dari jabatannya.
"Ada siklus kepemimpinan di Indonesia awalnya calon pemimpin ini tidak dikenal, lalu karena sepak terjang dikenal, kemudian disukai, lalu didewakan. Karena dianggap berbeda dengan rezim yang ada dipilih lalu kesukaanya turun, dicaci, diturunkan sama-sama, meninggal kemudian dicintai lagi. Semua terjadi dari zaman Soekarno hingga sekarang," ujar politisi PAN Tjatur Sapto Edy dalam diskusi publik mengenai "Pemilu 2014: Antara Popularitas, Elektabilitas dan Eligibilitas" di kawasan Tebet, Jakarta, Kamis (10/10).
Tjatur menjelaskan masyarakat Indonesia dalam ekspektasi kepemimpinan yang tidak pernah terpuaskan karena masyarakat hanya memilih di level popularitas dan elektabilitas saja. Padahal pemimpin yang bagus tidak perlu pencitraan, tapi mendapatkan respect karena dia memenuhi eligibilitas.
"Elegibilitas itu pemimpin yang bisa tut wuri handayani dan tidak perlu pencitraan. Sekarang semua hanya berkisar di pencitraan," imbuhnya.
"Demokrasi kita hanya menghasilkan pencitraan apalagi sekarang, karena semua berlomba lomba mempengaruhi back mind masyarakat kita lewat televisi yang mempengaruhi 95% masyarakat kita karena masyarakat kita begitu terhipnotis oleh tv," demikian Tjatur.
[dem]