Berita

foto: net

Gerindra: Pemerintah Harus Pro Petani Lokal

SELASA, 24 SEPTEMBER 2013 | 15:45 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Partai Gerindra prihatinan mengenai kondisi pertanian Indonesia yang terus melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional.

Kepala Bidang Kominfo Gerindra, Ondy A. Saputra mengungkapkan, seperti data yang dirilis Badan Pusat Statistik, untuk impor beras selama Januari-Juni 2013, tercatat sebesar 239 ribu ton atau US$ 124,4 juta.

Sementara itu kata Ondy, jagung impor masuk ke Indonesia selama Januari-Juni 2013 tercatat 1,3 juta ton atau US$ 393 juta. Demikian pula dengan impor kedelai, periode Januari-Juni 2013 adalah 826 ribu ton atau 509,5 juta. Impor Tepung terigu juga dilakukan. Tercatat impor masuk sejak Januari-Juni 2013 mencapai 82.501 ton atau US$ 36,9 juta.


"Bahkan garam pun termasuk komoditas yang diimpor. Selama Januari-Juni 2013 impor tercatat 923 ribu ton atau senilai US$ 43,1 juta." ujar Ondy dalam rilisnya, Selasa (24/9).

Partai besutan Prabowo Subianto ini juga mempertanyakan keberpihakan Pemerintah kepada petani lokal, munculnya produk impor membuat produk lokal sulit bersaing karena kebijakan ekonomi pemerintah yang menerapkan sistem neo-liberalisme. Bahkan Pemerintah punya rencana untuk membeli lahan di Australia untuk pengembangbiakkan sapi, mengapa tidak memanfaatkan lahan di Tanah Air. Pemerintah kata Ondy seharusnya punya kebijakan yang pro-petani lokal. Karena dengan kebijakan tersebut maka tidak perlu lagi kita mengimpor karena kebutuhan pangan dapat terpenuhi oleh produk lokal.

Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Prof Suhardi mengharapkan, peringatan Hari Tani Nasional ini menjadi momentum untuk pertanian nasional yang lebih baik, dan semoga kedepannya visi besar mencapai kemandirian pangan menjadi agenda prioritas kebijakan nasional serta program kesejahteraan petani mendapat porsi yang lebih banyak dalam agenda haluan pembangunan. [rus]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Pledoi Petrus Fatlolon Kritik Logika Hitungan Kerugian Negara

Kamis, 23 April 2026 | 00:02

Tim Emergency Response ANTAM Wakili Indonesia di Ajang Dunia IMRC 2026 di Zambia

Kamis, 23 April 2026 | 00:00

Diungkap Irvian Bobby: Noel Gunakan Kode 3 Meter untuk Minta Rp3 Miliar

Rabu, 22 April 2026 | 23:32

Cipayung Plus Tekankan Etika dan Verifikasi Pemberitaan Media Massa

Rabu, 22 April 2026 | 23:29

Survei TBRC: 84,6 Persen Publik Puas dengan Kinerja Prabowo

Rabu, 22 April 2026 | 23:18

Tagar Kawal Ibam Trending X Jelang Sidang Pledoi

Rabu, 22 April 2026 | 23:00

Dorong Transparansi, YLBHI Diminta Perkuat Akuntabilitas Publik

Rabu, 22 April 2026 | 22:59

Penyelenggaraan IEF 2026 Bantah Narasi Sawit Merusak Lingkungan

Rabu, 22 April 2026 | 22:52

Belanja Ramadan-Lebaran Menguat, Mandiri Kartu Kredit Tumbuh 24,3%

Rabu, 22 April 2026 | 22:32

Terinspirasi Iran, Purbaya Kepikiran Pajaki Kapal yang Lewat Selat Malaka

Rabu, 22 April 2026 | 22:30

Selengkapnya