Tak ada yang menampik atas tingginya popularitas dan elektabilitas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo saat ini. Partai Demokrat yang sedang menggelar konvensi untuk mencari calon presiden juga mengakui hal tersebut.
"Jokowi harus kita akui adalah tokoh yang sekarang ini paling populer di negeri ini. Memang kalau diadakan Pemilu hari ini, sudah pasti Pak Jokowi akan menang. Itu realitas politik. Demokrat mengakui itu," ujar Ketua DPP Partai Demokrat, Ulil Abshar Abdalla, kepada Rakyat Merdeka Online (Senin, 16/9).
Namun, Ulil menjelaskan, pertarungan dalam politik ibarat pergerakan di bursa saham. Karena itu, dalam sehari bisa saja terjadi satu perubahan yang sangat-sangat radikal. Tokoh yang saat ini sangat populer, belum tentu besok juga demikian.
"Ini memberikan kesempatan kepada semua tokoh politik untuk bekerja keras. Yang bisa bekerja paling baik itulah yang akan menang. Karena nggak ada yang bisa memastikan, apalagi ini masih setahun. Itu masa yang sangat-sangat panjang," demikian pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL) ini.
Board of Advisor CSIS, Jeffrie Geovanie, awal Juni lalu mengungkapkan demikian. Katanya, jika Pilpres dimajukan hari ini, dapat dipastikan Jokowi pemenangnya. "Jokowi akan menang dengan suara mutlak di atas 60 persen, siapa pun lawannya," ujar Jeffrie.
Namun, karena pilpres baru akan digelar pada 2014, kepastian Jokowi akan tampil sebagai pemenang terpaksa harus tertunda. "Waktu satu tahun ke depan ini akan sangat bergantung pada keberhasilan konvensi capres Partai Demokrat," tutur Jeffrie.
Menurut dia, bila konvensi capres Partai Demokrat berjalan sangat demokratis dan diikuti oleh calon-calon presiden dari generasi baru seperti Gita Wiryawan, Marzuki Ali, Irman Gusman, Dino Patti Djalal, sangat mungkin lahir penantang baru yang bisa mengimbangi Jokowi.
"Konvensi capres Partai Demokrat akan jadi panggung yang menarik, tempat tampilnya tokoh-tokoh muda dari generasi baru yang secara leluasa bisa memperkenalkan diri dan unjuk gigi secara elegan," ungkap Jeffrie.
Namun, imbuh Jeffrie, bila ternyata konvensi capres Partai Demokrat berjalan tidak seperti yang diharapkan, Jokowi dipastikan tak akan memiliki pesaing yang berat. "Sehingga, pada 2014 yang akan datang teka-tekinya hanya siapa yang akan menjadi wakil presiden Indonesia berikutnya," papar Jeffrie, pengamat yang pertama kali menyarankan partai menggelar konvensi.
[zul]