Memanfaatkan ketidakmengertian rakyat untuk tujuan pribadi dan kelompok adalah dosa terbesar yang dimiliki kaum intelektual. Hal yang sama juga bisa dilakukan oleh media massa.
Demikian disampaikan Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana Andi Arief dalam pesan yang dipancarluaskannya melalui berbagai jaringan media sosial.
Pernyataan Andi Arief ini berkaitan dengan perkembangan terakhir yang mengiringi penelitian di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. Andi Arief sangat prihatin pada sekelompok peneliti yang berada di sejumlah Kementerian terkait yang tidak memberikan dukungan untuk penelitian yang sebetulnya sudah disetujui oleh Presiden SBY. Penelitian ini telah berkali-kali dibicarakan dalam rapat terbatas antara Presiden SBY dan menteri-menteri terkait tadi.
Namun demikian, di lapangan masih ada manuver yang seolah-olah ingin menantang keputusan rapat. Juga ada kelompok yang mengadu domba masyarakat dengan peneliti dari Tim Terpadu Riset Mandiri. Di sisi lain, kebanyakan media massa, terutama yang memiliki afiliasi dengan pihak tertentu, membatasi informasi sehingga publik mendapatkan gambaran yang tidak utuh dan bahkan salah.
"Marilah kita jelaskan pada masyarakat apa adanya. Agar warga sekitar Gunung Padang dan Cianjur tak mudah diadu domba," ujar Andi Arief.
"Tolong disampaikan bahwa saat ini ada dua pandangan berbeda soal situs Gunung Padang. Pandangan pertama, situs maha karya itu hanyalah bebatuan yang berserakan di atas permukaan seluas 900 meter persegi. Pandangan kedua, situs maha karya itu ada di bawah permukaan yang sekarang belum terlihat semua," sambungnya.
Kata Andi, sejauh ini baru lapisan satu yang tampak seperti terasering ala Machu Pichu dan lapisan dua yang sudah terlihat. Sementara lapisan dan bangunan lain belum tampak kasat mata. Diperkirakan luas bangunan yang tertimbun ini lebih dari 25 hektare.
"Isu kerusakan situs adalah gosip atau manuver politik untuk memprovokasi kebodohan terus menerus kepada masyarakat. Justru yang paling berkepentingan agar situs bawah permukaan tidak rusak saat dipugar nanti adalah TTRM dan yang percaya pada riset TTRM," masih katanya.
"Harusnya kita berterima kasih pada tim tomography yang hampir bisa dipastikan kreasinya memudahkan pemugaran dan sudah memberi informasi tembus pandang bahwa lebih dari 95 persen bangunan megah dengan teknologi dahsyat saat ini kondisinya masih utuh. Alhamdulillah," demikian Andi Arief.
[zul]