Berita

dahnil anzar simanjuntak/net

Penguatan Kebijakan Ekonomi Domestik Mutlak Harus Dilakukan

JUMAT, 06 SEPTEMBER 2013 | 14:44 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Tekanan cash outflow akibat impor yang tinggi akan mengancam ekonomi Indonesia dalam jangka pendek maupun panjang. Kebijakan moneter yang dilakukan Bank Indonesia melalui kenaikan suku bunga acuan hingga 7 persen, tidak cukup meredam ancaman resiko krisis yang bisa Indonesia alami.

Pasalnya, seperti hasil survei yang dimuat The Economist, Indonesia bersama Chile, India, adalah negara emerging market yang rentan berpotensi krisis akibat tekanan neraca pembayaran yang negatif.

Hal ini berbeda dengan Malaysia, Filipina yang pada krisis tahun 1997 menjadi korban utama bersama Indonesia. Tetapi saat ini, tingkat kerentanan kedua negara itu lebih rendah dibandingkan Indonesia, yang memiliki tingkat kerentanan tinggi karena lemahnya kinerja ekspor.


Karena itu, Ekonom Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Dahnil Anzar Simanjuntak, (Jumat, 6/9), menyarankan, kondisi ekonomi seperti saat ini tidak cukup sekedar ditangani dengan kebijakan bubble berupa kebijakan moneter sebagai penyembuhan jangka pendek.

Tetapi yang lebih krusial adalah penguatan kebijakan ekonomi domestik yang mampu mencegah cash outflow, secara operasionalistik, revitalisasi kebijakan substitusi import harus dipaksakan.

"Contoh dalam jangka pendek, tidak masalah kedelai mahal karena supply kurang. Pemerintah dorong pertanian kedelai dalam negeri untuk mencegah impor. Demikian pula dengan komoditi lainnya, dibutuhkan pengorbanan dari semua komponen masyarakat untuk melakukan substitusi konsumsi juga untuk memperkuat ekonomi domestik mencegah impor yang tinggi," demikian Dahnil. [zul]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

UPDATE

Perang di Meja Runding

Kamis, 09 April 2026 | 06:16

Kecanggihan Alat Perang AS-Israel Bisa Dikalahkan

Kamis, 09 April 2026 | 06:04

Polisi di Jateng Dilaporkan Usai Rekam Polwan Mandi

Kamis, 09 April 2026 | 05:36

Tatanan Baru Dunia di Bawah Naungan Syariah Islam dan Khilafah

Kamis, 09 April 2026 | 05:26

Pemuda di Solo Tanam Ganja di Rumah

Kamis, 09 April 2026 | 05:10

Polda Sumsel Pamerkan 1.715 Unit Motor Hasil Curian

Kamis, 09 April 2026 | 04:20

Bandung Masuk 5 Besar Destinasi Wisata Terpopuler di Asia

Kamis, 09 April 2026 | 04:16

Pemprov Jateng Gratiskan Bea Balik Nama Kendaraan Bekas

Kamis, 09 April 2026 | 04:01

Mental Baja di Ujung Kiamat, Iran Tetap Berkata ‘Tidak’

Kamis, 09 April 2026 | 03:30

Jusuf Kalla Tersinggung Berat Omongan Rismon

Kamis, 09 April 2026 | 03:28

Selengkapnya