Masyarakat Jawa saat ini terbelah pada keyakinan bahwa pemimpin yang akan muncul dalam Pemilu Presiden 2014 mendatang bisa merupakan satrio pinandito sinisihan wahyu atau pun satrio wirang. Dua kriteria itu mengerucut kepada tiga sosok, yakni Prabowo Subianto, Joko Widodo dan Hatta Rajasa.
Pengamat Kebudayaan dan peneliti dari Universitas Paramadina DR Herdi Sahrasad, mengatakan, meski Indonesia sudah berada di alam modern, masih banyak kalangan Jawa yang mempercayai ramalan ahli mistik dan pujangga terkenal Jawa, Raden Ngabehi Ronggowarsito. Menurut ramalan tersebut, Tanah Nusantara akan dipimpin beberapa pemimpin besar.
Yang pertama, Nusantara akan dipimpin seorang tokoh pembebas, Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro, alias tokoh yang akrab dengan penjara. Setelah itu oleh Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar atau pemimpin yang berharta dunia dan berwibawa, namun di akhir hayatnya dipersalahkan.
Dua ramalan itu terbukti mengacu kepada Ir Soekarno dan Soeharto sebagai pemimpin pertama dan kedua negeri ini. Ada pula ramalan tentang Satrio Jinumput Sumela Atur, yang hanya berkuasa sebentar pada masa jeda atau transisi, yang dinisbahkan kepada BJ Habibie.
“Ramalan seterusnya kemudian dinisbahkan kepada para pemimpin yang terpilih kemudian,†kata Herdi kepada pers (Minggu, 1/9).
Yang saat ini menjadi pemikiran kalangan itu adalah ramalan tentang Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu, atau pemimpin yang amat religius, yang akan senantiasa bertindak atas dasar hukum dan petunjuk Allah.
Persoalannya, kata Herdi, dengan kuatnya potensi kepemimpinan Prabowo pendapat yang ada kini terpecah. “Ada yang berpikir, sebelum itu akan muncul kepemimpinan Satria Wirang, atau pemimpin yang sebelumnya selalu dipersalahkan,†kata Herdi, yang merujuk kriteria itu kepada Prabowo.
Sementara dalam katagori Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu sendiri, muncul dua orang tokoh, yakni Joko Widodo dan Hatta Rajasa. “Jokowi karena kuat memegang aturan, sementara Hatta dianggap mewakili figur itu karena sisi religiusitasnya yang kuat,†kata doktor sosiologi Islam itu.
Hatta selama yang ini dikenal sebagai sosok relijius di kabinet Indonesia Bersatu itu saat mahasiswa adalah seorang aktivis Masjid Salman ITB, masjid kampus yang berpengaruh tak hanya untuk Bandung melainkan Islam Indonesia.
Sementara itu, pengamat politik dari UGM Ari Dwipayana, mengatakan, dikotomi calon presiden dari Jawa dan non-Jawa sudah tak lagi relevan. Selain tidak terkait dengan pembangunan dan kesejahteraan bangsa, justru dapat berpotensi memicu disintegrasi. Masyarakat juga lebih banyak melihat kepada bukti nyata kiprah calon, daripada sekadar asal-usul capres.
"Meskipun berdasar pada survei terakhir capres berasal dari Jawa masih lebih banyak, seperti Jokowi dan Prabowo, namun hal itu lebih didasarkan pada sisi kredibilitas calon," katanya.
"Walaupun pemilih dari Pulau Jawa bisa dikatakan lebih banyak dibanding daerah lainnya, namun sebaiknya orientasi memilih tetap harus didasarkan pada sisi objektivitas yang melekat pada capres," sambungnya.
Dengan begitu dalam percaturan politik pada Pemilu 2014, menurut dia, capres yang berasal dari Jawa maupun luar Jawa akan memiliki porsi yang sama dalam bersaing.
[zul]