Berita

Poempida Hidayatulloh/net

Kesehatan

DPR: Ratifikasi FCTC Penzaliman Konstitusi

MINGGU, 25 AGUSTUS 2013 | 14:10 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Rencana Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi mentargetkan ratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) dinilai bisa dilakukan sebelum masa kerja kabinet Presiden SBY berakhir pada Oktober 2014. Dan apabila ratifikasi tetap dilakukan, hal itu juga dinilai menzalimi Undang-Undang Dasar 1945.

"Jika Menkes keukeuh meratifikasi FCTC, maka Menkes sama saja menzalimi Konstitusi," tegas Anggota Komisi IX DPR RI, Poempida Hidayatulloh dalam keterangan tertulis, Minggu (25/08).

Mengapa menzalimi Konstitusi? menurut Poempida, dalam Pasal 28 A UUD 1945 dijelaskan, bagaimana setiap warga negara berhak untuk hidup dan mempertahankan hidup dan kehidupannya. Pasal ini, jelasnya, melindungi warga negaranya untuk mempertahankan hidup dan kehidupannya.


Dirinya menilai, para pihak yang paling dirugikan jika FCTC diratifikasi adalah para pihak di usaha tembakau di sektor kecil dan menengah yang akan kehilangan penghidupannya, sehingga tidak dapat lagi dapat mempertahankan hidupnya.

"Apalagi, di wilayah Temanggung yang mana wilayahnya hanya dapat ditanami dengan tembakau yang akan tumbuh dengan baik dibandingkan tanaman lainnya," ujarnya.

Politisi Partai Golkar ini menambahkan, dalam Pasal 33 Ayat 4 UUD 1945 menyebutkan bahwa perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.

"Pasalnya, jika FCTC diratifikasi, maka Pemerintah justru membuat ketidakseimbangan ekonomi nasional yang bertentangan dengan visi Presiden yaitu pro-growth, pro-job, pro-poor," tegasnya.

Padahal, Presiden SBY dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya sustainable growth with equity. Pertumbuhan ekonomi harus berkesinambungan dan merata. Presiden juga acap melontarkan visi pembangunan ekonomi yang pro-growth, pro-job, pro-poor, and pro-environment. Pertumbuhan ekonomi yang inklusif juga sering ditekankan kepala negara. "Dalam konteks ratifikasi FCTC, rencana Menkes sama halnya mengingkari visi Presiden," tegas Poempida.

Poempida memberikan solusi agar pemerintah Indonesia tetap membuat suatu aturan tersendiri yang bersifat nasional untuk mengendalikan tembakau. Seperti halnya China dan Amerika Serikat yang membuat aturan sendiri mengenai pengendalian tembakau yang tidak merugikan perekonomian nasionalnya, namun juga dapat mengendalikan tembakau secara efektif.
"Indonesia perlu mengikuti Amerika Serikat yang tidak meratifkasi FCTC, dan membuat aturan sendiri mengenai pengendalian tembakau serta tata niaganya. Selain itu, Indonesia dapat membuat langkah-langkah strategis dengan membuat aturan khusus yang mengatur tentang industri tembakau dalam negeri yang lebih menguntungkan industri dalam negeri," ujarnya.

Ia juga menjelaskan, dampak positif dari belum diratifikasinya FCTC oleh Indonesia dari segi ekonomi, adalah pengembangan Industri Hasil Tembakau (IHT) di Indonesia, terjaganya produksi tembakau dalam negeri, serta tetap terjaganya industri hasil tembakau dalam negeri. Lebih lanjut dijelaskan Poempida, dari segi politik dalam negeri, tidak meratifikasi FCTC tidak bertentangan dengan Konstitusi dan Undang-Undang.

"Dengan tidak meratifikasi FCTC, secara otomatis tidak menjadi anggota FCTC, sehingga tidak perlu terikat dengan hak dan kewajiban yang terdapat di dalam FCTC," tungkasnya [rus]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR Khawatir Pekerjaan Debt Collector jadi Ilegal, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:43

Keripik Pisang Lokal Besutan Rumah BUMN BRI Tembus Malaysia dan Hong Kong

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:19

Menlu China Mesra dengan Luhut, Sejumlah Tawaran Kerja Sama Mengalir

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:54

Program Gerakan “Warga Peduli Warga” Jaringan Aktivis 98 Berlanjut di Lampung

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:28

Sejumlah Elemen Mahasiswa Ogah Ikut Demo AMPB 27 Agustus, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:10

Ribuan Warga Meriahkan Panggung Rakyat Merdeka PANsar Murah di Kendal

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:50

BRI Raih Tiga Penghargaan Bergengsi Alpha Southeast Asia 2026

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:28

DPR Tekankan Penguatan Pengendalian Lingkungan untuk Hentikan Karhutla

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:58

YLBHI Dorong Bareskrim Usut Perwira Diduga Terlibat Penipuan Investasi Tambang Emas

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:14

Pikat Pembeli dari Singapura hingga Belanda, Produk UMKM Asal Sumut Berdaya Bersama BRI

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 21:55

Selengkapnya