Berita

Komisaris Jenderal Oegroseno

Wawancara

WAWANCARA

Komisaris Jenderal Oegroseno: Kejahatan Selalu Berkembang Sehingga Sering Sulit Diprediksi

SENIN, 19 AGUSTUS 2013 | 10:14 WIB

Wakil Kepala Polisi Republik Indonesia  (Wakapolri) Komisaris Jenderal Oegroseno mengaku anggota Polri saat ini memang terkotak-kotak, sehingga perlu diperbaiki secara internal.

“Saya ingin menciptakan Polri yang utuh, sebagai penjaga Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibnas). Saya mau ke depan aparat kepolisian hanya memiliki satu identitas, yaitu Polri. Sebab sekarang saya lihat anggota Polri terkotak-kotak,” ujar Oegroseno kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta.

Komisaris Jenderal (Kom jen) Oegroseno resmi dilantik sebagai Wa kapolri, Jumat, 2 Agustus 2013, menggantikan Komjen Nanan Sukarna yang telah pensiun.


Oegroseno selanjutnya mengatakan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri, peran sesungguhnya dari polisi itu  sebagai Badan Pembinaan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas).

Berikut kutipan selengkapnya:

Terkotak -kotak seperti apa maksudnya?
Selama ini polisi terkotak-kotak karena ada yang bertugas menjaga lalu lintas, menangani kriminalitas, dan lain-lain.  Seharusnya dari divisi apa pun seorang personel Polri berasal, peran utamannya tetap satu yaitu Babinkamtibmas.

Bukankah selama ini memang kerja Polri seperti itu?
Tidak. Walau memakai nama Polri, tapi di lapangan saya lihat terjadi pengkotak-kotakan seperti itu. Contohnya, saat ada aparat kepolisian yang berkelakuan tidak baik. Masyarakat yang ingin mengadu harus mencari kantor polisi dulu, untuk kemudian diarahkan melaporkannya kepada Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam).  Seharusnya kan tidak perlu sampai seperti itu. Kan tugas aparat kepolisian sama.

Seberapa besar manfaat dari program ini?
Manfaatnya besar. Misalnya ada anggapan, di Korlantas itu lebih enak karena kerjanya lebih santai dan lain-lain. Ini kan membuat personel yang lain tidak betah. Padahal sebetulnya kan tugasnya sama, yaitu melayani masyarakat. Dengan memberikan kesadaran kepada tiap-tiap anggota tentang identitasnya. Maka kesadaran untuk menjalankan tugasnya sebagai anggota Polri menjadi lebih tinggi.

Mewujudkan program ini butuh waktu karena banyaknya personel Polri, ini bagaimana?

Memang, saya sadar akan hal ini. Makanya, saya juga akan mengajukan program pendidikan jarak jauh bagi semua anggota Polri.

Pendidikan apa itu?
Selama ini kan setiap anggota Polri yang akan mengambil pendidikan, harus datang ke Sukabumi. Padahal kan belum tentu dia berasal dai Polsek terdekat. Misalnya polisi di Papua. Kalau harus ke Sukabumi kan banyak kesulitannya, seperti ongkos besar, jarak tempuh dari  tempat tugas dan tempat pendidikannya terlalu jauh, dan lain-lain. Padahal pendidikan itu hak semua personel. Kenapa pendidikannya tidak dilakukan di Polres setempat saja. Kan jadi lebih praktis.

Terkait dengan pengamanan Pemilu 2014, langkah apa yang disiapkan Polri?
Pengamanan Pemilu 2014 kita siapkan sesuai kebijakan Kapolri, yakni satu desa satu polisi.

Maksudnya ?
Selama ini para polisi di desa kurang melakukan interaksi dengan masyarakat. Saya ingin menciptakan polisi yang benar-benar menjalankan peran Babinkamtibmas.

Apa diperlukan penambahan personel?
Tidak perlu. Untuk menjalankan program ini hanya membutuhkan 80 ribu personel. Sementara jumlah personel Polri 400 ribu.

Dengan program ini bisa mengatasi teror?
Tentu saja bisa. Dengan program ini kan yang ditingkatkan itu kemampuan deteksi dini. Selama ini kejadian pengeboman, seperti di Vihara Ekayana, Jakarta Barat, beberapa waktu lalu, karena kurangnya kemampuan deteksi dini. Kurangnya kemampuan membaca gejala-gejala di masyarakat.

Ini berarti deteksi intelijen masih kurang?
Kurang sih tidak. Saya yakin teman-teman di kepolisian sudah berusaha maksimal. Hanya saja kejahatan itu selalu berkembang, sering sulit diprediksi. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Revolusi Status Buruh Harian Lepas

Senin, 22 Juni 2026 | 00:03

Nyanyian Sony Sebut 41 Nama Dituding Hanya untuk Kelabui Penyidik

Minggu, 21 Juni 2026 | 23:33

Penangkapan Roy dan Tifa Perkuat Anggapan Polisi di Bawah Kendali Jokowi

Minggu, 21 Juni 2026 | 23:17

Prabowo Panggil Rosan, Bahas Optimalisasi Aset Negara dan Transformasi BUMN

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:55

Program Sekolah Rakyat Dapat Akses Gratis Talent DNA ESQ

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:32

Malam Ini Roy Suryo dan Dokter Tifa Nginap di Rutan Polda, Besok ke Kejaksaan

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:01

Teruji di MRS 2026, Pertamax Turbo Jadi Andalan Utama Pembalap Nasional

Minggu, 21 Juni 2026 | 21:46

Penyelenggaraan Haji Tahun Ini Lebih Baik dari Sebelumnya

Minggu, 21 Juni 2026 | 21:46

Buntut Gesekan Petugas vs Ojol, Ini Strategi Baru Dishub DKI Atur Ruang Jalan Ibu Kota

Minggu, 21 Juni 2026 | 21:31

Mensos ke Pejabat Baru: Jangan Sabotase Program Sekolah Rakyat!

Minggu, 21 Juni 2026 | 20:45

Selengkapnya