Berita

Effendi Ghazali

Wawancara

WAWANCARA

Effendi Ghazali: Saya Mundur Bila Di Tengah Jalan Konvensi Capres Tidak Ilmiah Lagi

MINGGU, 04 AGUSTUS 2013 | 10:08 WIB

Belum ada kepastian siapa yang menjadi komite konvensi capres Partai Demokrat. Penyebutan nama saat ini hanya meramaikan saja.

Maftuh Basyuni disebut sebagai Ketua Komite Konvensi Capres. Sedangkan anggotanya antara lain pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI) Effendi Ghazali.

 Menanggapi hal itu, Effendi Ghazali mengatakan, belum ada kepastian dirinya bergabung dalam komite konvensi capres.


“Belum pasti itu,” kata Effendi Ghazali kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Seperti diketahui, Ketua Harian Partai Demokrat Syarifuddin Hasan mengatakan, bekas Menteri Agama Maftuh Basyuni ditunjuk sebagai ketua Komite Konvensi Partai Demokrat.

Basyuni nantinya akan dibantu sekitar 10 tokoh eksterna lainnya salah satunya pengamat komunikasi politik Effendi Ghazali.

Effendi Ghazali selanjutnya mengatakan, belum saatnya membahas soal itu.

Berikut kutipan selengkapnya:

Kenapa belum saatnya dibahas?
Karena memang belum ada keputusan atau kepastian apa pun.

Apa Anda sudah dihubungi pimpinan Partai Demokrat ?
Belum, tapi memang waktu itu saya pernah datangi undangan pada tanggal 27 Juli. Di sana hanya dimintakan masukan-masukan saja.

Masukan soal apa?

Masukan saya waktu itu jangan lagi ada orang dalam Demokrat yang ikut menentukan berapa persen siapa calon konvensi menjadi pemenang.

Harusnya bagaimana?
Semua diserahkan kepada rakyat Indonesia mengenai siapa calon presiden Partai Demokrat nantinya.

Anda curiga kalau pemenangnya ditentukan internal Demokrat?
Kalau dulu kan konsepnya kira-kira ada juga suara dari dalam atau internal Partai Demokrat, tapi kayaknya Demokrat tidak akan berani main-main.

Anda sampaikan usulan itu langsung kepada SBY?
Ya. Saya sampaikan kalau bisa serahkan ke rakyat saja, karena Demokrat kan katanya ingin mencari presiden untuk rakyat.

Apa respons SBY?
Pak SBY menyatakan setuju atas usulan saya itu.

Penentuannya lewat survei, bukankah itu bisa dipesan?
Survei di Pilgub Jakarta saja mengalami kekeliruan dalam membuat survei. Kalau survei di Jakarta saja bisa keliru, apa lagi di tingkat nasional, tentu kemungkinan keliru juga pasti ada. Makanya saya minta lembaga survei di kampus harus dilibatkan kalau Partai Demokrat memang serius.

Apa SBY setuju?
Ya. Pak SBY juga menyetujui masukan itu.

Komite konvensi juga diisi internal Demokrat, ini bagaimana?
Ada memang yang dari independen dan ada yang dari internal Demokrat, tapi secara jumlah kayaknya akan lebih baik, lebih besar yang dari eksternal

Kalau dicampur begitu, apa independensinya masih bisa dipercaya?
Ini kan untuk memberikan image, semoga saja benar. Bahwa konvensi yang dilakukan Demokrat ini sungguh-sungguh bukan seperti anggapan orang bahwa ini hanya sebagai teater saja dan jebakan karena ada pemenangnya yang disiapkan atau ditetapkan.

Dengan lebih banyak orang luar bagus, apalagi di antaranya ada bekas pimpinan KPK. Mudah–mudahan konvensi ini bisa benar.

Kalau Anda masuk, maunya apa?
Kalau saya masuk, keinginan saya sih sederhana karena saya dosen, saya ingin melihat konvensi yang ilmiah. Selama ini kan tidak ada konvensi yang ilmiah.

Bagaimana kalau di tengah jalan, konvensi tidak ilmiah, ini bagaimana?
Kalau di tengah jalan tidak ilmiah, saya mundur. Selama ini kan konvensi yang ada hanya konvensi-konvensian.

Maksudnya?
Pokoknya, kalau saya nilai konvensi ini sudah tidak ilmiah lagi, atau misalkan sudah main-main, kan bisa saya tinggalkan karena kami independen. Tapi sekilas saya lihat niatnya sudah baik karena usulan itu diperhatikan. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

Golkar Berduka, Putri Akbar Tandjung Wafat

Rabu, 11 Maret 2026 | 15:27

Mengenal Bupati Rejang Lebong M Fikri yang Baru Terjaring OTT

Selasa, 10 Maret 2026 | 06:15

Rismon Ajukan RJ Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Dokter Tifa: Perjuangan Memang Berat

Kamis, 12 Maret 2026 | 03:14

Memalukan! Rismon Ajukan Restorative Justice

Kamis, 12 Maret 2026 | 02:07

UPDATE

Empat Anggota TNI Penyiram Air Keras Sebaiknya Diadili di Pengadilan Sipil

Sabtu, 21 Maret 2026 | 02:05

Tiga Kecelakaan di Tol Jateng Tewaskan Delapan Orang

Sabtu, 21 Maret 2026 | 02:01

Kejahatan Perang Trump

Sabtu, 21 Maret 2026 | 01:36

Hadiri Jakarta Bedug Festival, Pramono Tekankan Kebersamaan Sambut Idulfitri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 01:14

Kenapa Pemimpin Iran Mudah Sekali Diserang Israel-AS

Sabtu, 21 Maret 2026 | 01:07

Bamsoet Apresiasi Kesigapan TNI dan Polri Tangani Kasus Andrie Yunus

Sabtu, 21 Maret 2026 | 00:23

Hukum Militer, Lex Specialis, dan Ujian Akuntabilitas dari Kasus Andrie Yunus

Sabtu, 21 Maret 2026 | 00:04

Korlantas Gagal Tangani Arus Mudik

Sabtu, 21 Maret 2026 | 00:00

Dokter Tifa Ngaku Dikuatkan Roy Suryo yang Masih Waras

Jumat, 20 Maret 2026 | 23:29

Air Keras dari Orang Dalam

Jumat, 20 Maret 2026 | 23:11

Selengkapnya