Susilo Bambang Yudhoyono/net
Pada tahun 2045 Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi yang kuat, adil dan berkelanjutan, politik stabil dan berkualitas, serta menghormati norma-norma demokrasi dan HAM, tapi tidak meninggalakn nilai agama, lokal dan budaya.
Optimisme itu disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat memberikan sambutan pada buka puasa bersama tokoh masyarakat dan ulama Jawa Timur, di Gedung Grahadi, Surabaya, kemarin (Kamis, 1/8).
"Di atas semua hal tersebut, saya berpandangan peradaban yang tumbuh di negara ini menjadi peradaban yang maju unggul dan mulia. InsyaAllah kalu kita bekerja keras dengan waktu 32 tahun itu, kondisi tersebut dapat kita capai," ujar SBY.
Namun demikian, menurut Kepala Negara, tantangan selalu ada, salah satu contoh adalah tantangan di bidang politik yang dihadapi sekarang ini dengan tahun 2014, dimana Indonesia akan melaksanakan pemilu legislatif dan presiden yang diikuti dengan berakhirnya jabatan SBY sebagai presiden.
Jes SBY, meskipun 15 tahun INdonesia sudah melaksanakan reformasi, dan dunia memuji perjalanan transisi demokrasi di Indonesia dibanding dengan negara lain, tetapi bangsa Indonesia masih menghadapi tiga tantangan utama. Pertama, demokrasi atau politik kita baru menuju ke tingkat kematangannya, belum matang benar sehingga wajar kalau masih terdapat konflik permasalahan atau benturan. Tantangan kedua, kalau dulu partai politik hanya tiga, namun kalau sekarang partai politiknya banyak dengan demokrasi multi partai yang lebih kompleks dan lebih ruwet.
"Dikarenakan lebih kompleks sehingga banyak kepentingan, banyak dinamika, pasti timbul pertentangan dan ketegangan, instabilitas dan sebagainya," terang SBY seperti dilansir dari situs resmi Sekretariat Kabinet RI (
setkab.go.id).
Sedangkan tantangan yang ketiga adalah kemajemukan bangsa Indonesia. Kemajemukan ini bisa karena agama, karena suku, karena etnis, karena daerah. Demokrasi multi budaya ini juga menimbulkan permasalahan tersendiri. "Lengkaplah sudah negara kita dalam era transformasi ini, meskipun begitu kita harus tetap optimistis perjalanan bangsa ini menuju ke arah yang benar suatu saat akan berada di tempat yang mulia," terang SBY.
Soal kemajemukan, Presiden menyampaikan beberapa hal yang harus dipertimbangkan dan perlu mendapatkan perhatian lebih. Dengan bangsa yang majemuk tersebut maka ada keharusan yang disebut dengan imperative bagi bangsa yang hidup dalam kemajemukan. Kalau kita lulus kata SBY, kemajemukan itu akan menjadi rahmat yang patut kita syukuri dan banggakan. "Namun apabila sebaliknya maka kita telah menyia-nyiakan anugerah Allah," tuturnya.
Sebagai bangsa yang majemuk, SBY menegaskan, kita harus siap menerima perbedaan. Hidup rukun dan damai meskipun ada perbedaan. Sebagai bangsa majemuk, meskipun suara mayoritas lebih banyak menentukan halauan, pilihan-pilihan, kebijakan, program atau strategi. Tapi perlu diingat, aspirasi kaum minoritas tidak bisa diabaikan, dan mesti harus saling hormat menghormati.
"Kalau ada pertentangan diantara kita, marilah kita selesaikan secara damai, secara berkeadaban. Jangan pernah ada yang melecehkan atau menistakan nilai-nilai dan simbol yang dimiliki oleh identitas lain. Kalau ada pertentangan tersebut, mari utamakan kepentingan bersama, kepentingan bangsa dengan kepentingan yang lebih sempit harus dapat dinomorduakan," jelasnya.
Hal tersebut menurutnya dapat terwujud dengan dicontohkan dari para tokoh dan pemimpin yang memiliki perbedaan. Hal ini akan membuat teduh tenang dan damai situasi kondisi umat dengan tauladan yang dicontoh oleh para tokoh dan para pemimpin.
Dalam kesempatan itu, Presiden mengharapkan dunia juga dapat menghargai kemajemukan sebagaimana yang diusahakan di Indonesia dan jangan sampai yang kuat dapat mengatur dunia. "Jangan sampai melakukan tindakan yang tidak semestinya, seperti terorisme. Bahkan dunia harus tahu kenapa ada terorisme? Kalau adanya terorisme dikarenakan ketidakadilan dan kemiskinan, harus dapat dicegah dan diatasi bersama-sama. Dengan demikian apabila dapat diwujudkan, dunia akan lebih aman, nyaman adil dan damai," demikian SBY.
[rus]