Berita

presiden sby/net

Disayangkan, Presiden SBY hanya Bermain Aman dalam Menyikapi Krisis Politik di Mesir

KAMIS, 01 AGUSTUS 2013 | 14:20 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Hingga kini, pemerintah Indonesia tidak tegas terhadap persoalan krisis di Mesir. Padahal, secara historis, Indonesia dan Mesir mempunyai hubungan yang sangat kuat dan bersejarah.

Hal itu ditegaskan Direktur Pusat Kajian Timur Tengah dan Dunia Islam (PKTTDI) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Hery Sucipto, kepada Rakyat Merdeka Online, Kamis (1/8).

"Sangat disayangkan, Indonesia tidak punya sikap jelas dan tegas terhadap krisis Mesir. Pemerintah terkesan main aman saja, hanya menghimbau WNI untuk tidak terlibat dalam konflik, dan sesekali berharap agar situasi segera membaik. Ini sama sekali tidak mencerminkan sikap politik bebas aktif yang dianut Indonesia selama
ini," ujar Hery.

ini," ujar Hery.

Menurutnya, desain politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif justru menuntut peran nyata pemerintah kita dalam mewujudkan perdamaian dan mencari jalan keluar. Asas manfaat bebas aktif, lanjutnya, bagaimana Indonesia serius memberikan kontribusinya bagi kesejahteraan dunia.

"Ini justru terkesan diam, tak bersuara. Kalau sebatas himbauan, sama artinya tak bersuara. Padahal, dengan sebagai negara berpopulasi muslim terbesar di dunia, Indonesia berpotensi menjadi negara yang diperhitungkan di kancah internasional," papar dia.

Ia melanjutkan, sebagai sesama anggota OKI, Indonesia bisa saja meminta sekjend organisasi tersebut untuk bersidang membahas masalah Mesir. Jadi, dengan penekanan mencari solusi terhadap anggota yang sedang dilanda masalah, Indonesia dapat memainkan peran-peran strategis, termasuk di badan-badan lain semisal PBB.

Ia mengingatkan, tanggungjawab moral Indonesia sangat beralasan. Setidaknya, kata fungsionaris Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP DMI) ini, ikatan sejarah antara Indonesia dan Mesir sangat kuat. Mesir adalah negara pertama di dunia yang mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia, disusul negara-negara arab lain, dan negara-negara Barat maupun Asia lainnya.

Jadi, sekarang inilah, kata dia, saat yang tepat membalas budi tersebut. Bantuan kemanusiaan dan lainnya tentu sangat dibutuhkan. Ia mengapresiasi komponen masyarakat yang peduli dan menggalang bantuan kemanusiaan untuk dikirim ke Mesir, bahkan ada ormas yang akan mengirimkan utusannya untuk menemui pihak-pihak yang bertikai di Mesir. [zul]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

UPDATE

Komisi I DPR: Kisruh Rating IGRS di Steam Picu Kegaduhan

Rabu, 08 April 2026 | 19:50

JK Jangan jadi Martir Pemecah Belah Bangsa

Rabu, 08 April 2026 | 19:41

Narasi Pesimis di Tengah Gejolak Global Ganggu Stabilitas Nasional

Rabu, 08 April 2026 | 19:19

Ulama Dukung Wacana BNN Larang Vape

Rabu, 08 April 2026 | 19:18

KAMMI: Kerusakan Lingkungan Tidak Bisa Selesai di Ruang Diskusi

Rabu, 08 April 2026 | 19:05

WFH Momentum Perkuat Layanan Digital

Rabu, 08 April 2026 | 19:02

Motor Listrik Operasional SPPG Sudah Direncanakan Sejak 2025

Rabu, 08 April 2026 | 19:00

Harus Melayani, Kader PKB Jangan jadi Tamu 5 Tahunan

Rabu, 08 April 2026 | 18:51

JK Minta Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli Buat Akhiri Polemik

Rabu, 08 April 2026 | 18:44

7 Menu Warteg Paling Dicari Orang Indonesia

Rabu, 08 April 2026 | 18:42

Selengkapnya