Berita

M Nuh

Wawancara

WAWANCARA

M Nuh: Saya Akan Datang Ke Ombudsman, Kenapa Kemendikbud Rapornya Merah

KAMIS, 01 AGUSTUS 2013 | 09:28 WIB

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  M Nuh bersedia datang ke Ombudsman untuk menayakan kenapa rapor kementeriannya merah.

“Dalam waktu dekat ini saya mau datang ke Ombudsman. Saya ingin tahu kenapa Kemendikbud mendapatkan rapor merah,’’ kata M Nuh kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.

Seperti diketahui, Ombudsman melakukan observasi terhadap 18 kementerian yang menyelenggarakan pelayanan publik, khususnya unit pelayanan perizinan. Observasi itu dilakukan berdasarkan Undang-Undang Pelayanan Publik Nomor 25 Tahun 2009.


Hasilnya, lima kementerian mendapatkan rapor merah. Yakni Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan, Kementerian Sosial, Kementerian Pertanian serta Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Ombudsman akan memanggil lima menteri yang diganjar rapor merah tersebut.

M Nuh selanjutnya mengatakan, tanpa dipanggil pun, dirinya akan datang ke Ombudsman karena ingin tahu dari sisi apa kementerian yang dipimpinnya mendapat rapor merah.

Berikut kutipan selengkapnya;

Anda tidak menerima mendapat rapor merah?
Saya heran saja atas penilaian Ombudsman itu. Sebab, saat diperiksa oleh lembaga lainnya, seperti KPK dan BPK, tidak ada masalah.

Terlebih sekarang kan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat sudah lama menggunakan sistem online.

Jadi Anda menolak dinilai Ombudsman?
Bukan begitu. Penilaian itu kami anggap baik juga. Artinya kami mendapatkan penilaian dari internal maupun eksternal. Kalau yang lain bilang baik, ya terima kasih. Kalau belum baik, ya kita kerja terus. Justru saya akan mempelajari apa-apa yang dianggap belum baik itu.

Memang ada yang aneh dari penilaian itu?
Nampaknya Ombudsman hanya melihat apa yang terlihat saja. Padahal, ada banyak pelayanan publik yang kami berikan sudah berbasis online di web Kemendikbud.

Dengan kata lain, jauh lebih mempermudah publik dalam mendapatkan pelayanan dari Kemendikbud. 

Dengan sistim online, masyarakat lebih dimudahkan dari sisi pelayanan. Sebab, masyarakat tidak perlu antri, bisa dilakukan dari mana saja dan waktunya lebih singkat serta efisien. Bukan itu saja, biaya pelayanan juga tidak ada kok. Pelayanan publik di Kemendikbud semua gratis.

Makanya saya merasa aneh Ombudsman tidak menilai kecanggihan pelayanan publik di Kemendikbud. Hanya melihat pelayanan secara konvensional saja.

Maksudnya?
Kalau penilaiannya lengkap, termasuk pelayanan via teknologi tinggi, seperti internet atau web, tentu kami jauh lebih bagus. Sebab, KPK bilang kami bagus. BPK juga bilang kami bagus.

Mungkin berdasarkan laporan dari maayarakat untuk menilai pelayanan publik?
Tidak apa kalau itu berdasarkan pengaduan masyarakat. Kami mengapresiasi laporan Ombudsman itu. Makanya, saya akan melihat laporannya secara detil dulu.

Anda merasa dirugikan?
Nggak dirugikan. Monggo mau dibilang dapat merah, kuning atau hijau, terserah saja. Yang penting saya kerja terus. Ini akan saya anggap warning saja. Kami sikapi secara positif dan ucapkan terima kasih.

Apa itu terkait Ujian Nasonal yang bermasalah?
Ah, saya rasa tidak. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

Relawan Gigit Jari Gegara Jokowi Batal Wantimpres

Senin, 09 Februari 2026 | 02:01

Jaminan Kesehatan 11 Juta Orang Dicabut Bikin Ketar-ketir

Senin, 09 Februari 2026 | 01:29

MKMK Tak Bisa Batalkan Keppres Adies Kadir Jadi Hakim MK

Senin, 09 Februari 2026 | 01:11

Baznas-Angkasa Malaysia Perkuat Pemberdayaan Ekonomi Umat Berbasis Masjid

Senin, 09 Februari 2026 | 01:01

Kata Pengantar Buku, YIM: Keadilan yang Memulihkan Hak

Senin, 09 Februari 2026 | 00:35

Bahlil Takut Disebut Pengkhianat soal Prabowo-Gibran Dua Periode

Senin, 09 Februari 2026 | 00:32

Tradisi Jual Beli Istri di Eropa, Budaya Rakyat Abad ke-17 sampai ke-20

Senin, 09 Februari 2026 | 00:09

Sakit Jokowi Dicurigai cuma Sandiwara

Minggu, 08 Februari 2026 | 23:27

Prestasi Timnas Futsal Jadi Kebanggaan Rakyat

Minggu, 08 Februari 2026 | 23:22

Delegasi Indonesia Paparkan Konsep Diplomasi Humanis di YFS 2026 Jenewa

Minggu, 08 Februari 2026 | 23:05

Selengkapnya