Istilah yang digunakan anggota Dewan Pembina DPP Partai Demokrat Jenderal (purn) Pramono Edhie Wibowo untuk memenangkan partainya sempat mengundang tanya. Karena mantan KSAD itu menggunakan istilah yang justru pernah diterapkan Partai Komunis Indonesia (PKI) yaitu 'desa mengepung kota.'
"Karena, seingat saya, istilah 'desa mengepung kota" adalah model strategi merebut kekuasaan yang dipopulerkan oleh Mao Tse Tung dan diadopsi oleh para elite PKI untuk melakukan revolusi di Indonesia," ujar pengamat politik senior AS Hikam (Selasa, 30/7).
Edhie Pramono mengungkapkan itu saat meresmikan Masjid Zainab di Jeneponto, Sulawesi Selatan siang tadi.
"Kini justru Jenderal TNI (Purn) Pramono Edhi Wibowo (PEW), yang notabene adalah putra Pahlawan Revolusi Jend. Sarwo Edhi Wibowo (SEW), yang perannya paling top dalam pemberantasan pemberontakan PKI tahun 1965-1966, yang malah mengangkat kembali istilah tersebut," sambung Hikam.
Apakah lalu PEW ingin mengadopsi strategi parpol terlarang tersebut?
"Saya yakin tidak. Ini mungkin adalah sebuah kreativitas untuk menggunakan istilah yang menurut beliau tepat untuk menggambarkan strategi membangun dari bawah (
bottom-up), dari desa ke kota, bukan dari atas (
top down)," ungkap Hikam.
Tak hanya itu, Hikam juga yakin ipar Presiden SBY itu sangat paham tentang asal-usul atau genealogi dari istilah tersebut. "Di negeri ini mungkin tak ada yang hapal soal strategi PKI melebihi TNI, bukan?" tekannya.
Karena itu, pernyataan mantan Danjen Kopassus itu menarik dan perlu dicermati. Karena sengaja atau tidak, PEW telah melakukan semacam de-stigmatisasi terhadap suatu istilah yang dulu dianggap tabu secara politik, khususnya di era Orba.
"Dengan pemahaman baru dan konteks yang baru, bisa jadi PEW menunjukkan bahwa istilah 'desa mengepung kota' adalah istilah biasa-biasa saja, bukan monopoli satu kelompok atau paham saja. Tinggal siapa yang memakainya dan memanfaatkannya bagi kepentingan bangsa," tandasnya.
[zul]