Berita

PRAMONO EDHIE WIBOWO/net

Bernafsu Menangkan Demokrat, Jenderal Pramono Edhie Mau Gunakan Cara-cara PKI?

SELASA, 30 JULI 2013 | 22:49 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Istilah yang digunakan anggota Dewan Pembina DPP Partai Demokrat Jenderal (purn) Pramono Edhie Wibowo untuk memenangkan partainya sempat mengundang tanya. Karena mantan KSAD itu menggunakan istilah yang justru pernah diterapkan Partai Komunis Indonesia (PKI) yaitu 'desa mengepung kota.'

"Karena, seingat saya, istilah 'desa mengepung kota" adalah model strategi merebut kekuasaan yang dipopulerkan oleh Mao Tse Tung dan diadopsi oleh para elite PKI untuk melakukan revolusi di Indonesia," ujar pengamat politik senior AS Hikam (Selasa, 30/7).

Edhie Pramono mengungkapkan itu saat meresmikan Masjid Zainab di Jeneponto, Sulawesi Selatan siang tadi.


"Kini justru Jenderal TNI (Purn) Pramono Edhi Wibowo (PEW), yang notabene adalah putra Pahlawan Revolusi Jend. Sarwo Edhi Wibowo (SEW), yang perannya paling top dalam pemberantasan pemberontakan PKI tahun 1965-1966, yang malah mengangkat kembali istilah tersebut," sambung Hikam.

Apakah lalu PEW ingin mengadopsi strategi parpol terlarang tersebut?

"Saya yakin tidak. Ini mungkin adalah sebuah kreativitas untuk menggunakan istilah yang menurut beliau tepat untuk menggambarkan strategi membangun dari bawah (bottom-up), dari desa ke kota, bukan dari atas (top down)," ungkap Hikam.

Tak hanya itu, Hikam juga yakin ipar Presiden SBY itu sangat paham tentang asal-usul atau genealogi dari istilah tersebut. "Di negeri ini mungkin tak ada yang hapal soal strategi PKI melebihi TNI, bukan?" tekannya.

Karena itu, pernyataan mantan Danjen Kopassus itu menarik dan perlu dicermati. Karena sengaja atau tidak, PEW telah melakukan semacam de-stigmatisasi terhadap suatu istilah yang dulu dianggap tabu secara politik, khususnya di era Orba.

"Dengan pemahaman baru dan konteks yang baru, bisa jadi PEW menunjukkan bahwa istilah 'desa mengepung kota' adalah istilah biasa-biasa saja, bukan monopoli satu kelompok atau paham saja. Tinggal siapa yang memakainya dan memanfaatkannya bagi kepentingan bangsa," tandasnya. [zul]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Suap ke Pejabat ATR/BPN Berawal PT Summarecon Agung Tbk Caplok Lahan Warga

Selasa, 29 September 2026 | 14:21

Prabowo Panggil Mendikti Saintek hingga Kepala BNN, Bahas Pengentasan Narkoba

Selasa, 29 September 2026 | 14:18

BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Jeblok ke Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 29 September 2026 | 14:11

Pimpinan DPR Setuju Komisi XIII Periksa Lapas Cibinong

Selasa, 29 September 2026 | 14:00

Tangis Mahathir Mohamad Pecah Saat Mengantar Istri ke Peristirahatan Terakhir

Selasa, 29 September 2026 | 13:52

Prabowo-Megawati Bakal Bertemu Lagi, Dasco: Nasi Gorengnya Belum Keluar

Selasa, 29 September 2026 | 13:51

Sistem Pemungutan Pajak Digital Luar Negeri sudah Beroperasi

Selasa, 29 September 2026 | 13:48

Bitcoin Masih Stabil Meski Harga Minyak Naik Tajam

Selasa, 29 September 2026 | 13:45

Pekan Ini DPR Bertemu Parpol Non-Parlemen Bahas RUU Pemilu

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

KRI Sriwijaya-100 Bakal Dimodifikasi Dukung Penanganan Bencana

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

Selengkapnya