Berita

fajar riza ul haq/maarif institute

Kasus Suap Luthfi Hasan Ishaaq Tampar Wajah Islam Indonesia

JUMAT, 26 JULI 2013 | 22:23 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Geliat Islam politik di Indonesia beberapa tahun terakhir memperlihatkan sebuah keprihatinan bagi perkembangan politik Islam di masa depan. Terlebih lagi, akhir-akhir ini perilaku “kumuh” Islam politik tengah mendapat kecaman publik, terutama terkait erat dengan persoalan moral yang telah menampar wajah Islam di Indonesia.

Kasus korupsi yang menimpa bekas Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaq, bersama kolega eratnya Ahmad Fathanah, sebagai tersangka dengan tuduhan menerima suap kasus impor daging sapi, membuat keprihatinan sendiri.

“Praktek politik kumuh tidak hanya diidap oleh para politisi pada umumnya, namun juga telah menjamur di kalangan para politisi yang berlabel Islam dan mengusung isu dakwah dalam pencitraannya,” ungkap Direktur Eksekutif MAARIF Institute Fajar Riza Ul Haq.


Fajar mengungkapkan itu dalam Tadarus Ramadhan yang digelar MAARIF Institute sekaligus bedah buku HTI dan PKS Menuai Kritik: Perilaku Gerakan Islam Politik di Indonesia karya Dr. Zuly Qodir di Aula MAARIF Institute, Jl. Tebet Barat Dalam II Nomor 6, Tebet Barat, Jakarta Selatan (Jumat, 26/7).

Selain Fajar dan Zuly Qodir, turut hadir sebagai pembicara Wakil Ketua MPR Hajriyanto Y. Thohari.

Pada saat yang sama, lanjut Fajar, publik gagal memahami perilaku mereka dalam menjunjung nilai-nilai universal Islam tentang keadilan, keberpihakan terhadap kelompok tertindas, kesejahteraan rakyat, toleransi, dan anti-diskriminasi, yang sepatutnya menjadi bagian integral dari perjuangan politik mereka.

“Kita sangat sulit menemukan realitas keberpihakan mereka terhadap kelompok-kelompok minoritas tertindas di Indonesia, seperti yang menimpa kaum Syi’ah di Sampang dan jemaah Ahmadiyah, serta kepedulian mereka pada kondisi ekonomi rakyat kecil yang semakin sulit. Lalu dimana kita temukan moral Islam politik di Indonesia?” lanjut Fajar mempertanyakan. [zul]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

UPDATE

Komisi I DPR: Kisruh Rating IGRS di Steam Picu Kegaduhan

Rabu, 08 April 2026 | 19:50

JK Jangan jadi Martir Pemecah Belah Bangsa

Rabu, 08 April 2026 | 19:41

Narasi Pesimis di Tengah Gejolak Global Ganggu Stabilitas Nasional

Rabu, 08 April 2026 | 19:19

Ulama Dukung Wacana BNN Larang Vape

Rabu, 08 April 2026 | 19:18

KAMMI: Kerusakan Lingkungan Tidak Bisa Selesai di Ruang Diskusi

Rabu, 08 April 2026 | 19:05

WFH Momentum Perkuat Layanan Digital

Rabu, 08 April 2026 | 19:02

Motor Listrik Operasional SPPG Sudah Direncanakan Sejak 2025

Rabu, 08 April 2026 | 19:00

Harus Melayani, Kader PKB Jangan jadi Tamu 5 Tahunan

Rabu, 08 April 2026 | 18:51

JK Minta Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli Buat Akhiri Polemik

Rabu, 08 April 2026 | 18:44

7 Menu Warteg Paling Dicari Orang Indonesia

Rabu, 08 April 2026 | 18:42

Selengkapnya