Berita

saleh p. daulay

Indonesia Perlu Tingkatkan Hubungan Bilateral dengan Maroko

Raja Maroko Undang Ulama dari Berbagai Negara
KAMIS, 18 JULI 2013 | 05:50 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Pemerintah Indonesia diharapkan mengupayakan peningkatan hubungan bilateral dengan Maroko. Selain karena sama-sama berpenduduk mayoritas Muslim, Maroko juga sangat potensial dalam bidang pengembangan ekonomi, sosial, dan budaya.

Apalagi, di tengah hegemoni negara-negara Barat, Maroko dapat dijadikan sebagai alternatif untuk menjalin kerjsama. Sayangnya, potensi itu belum bisa dimanfaatkan dengan baik.

Hal itu disampaikan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Saleh P. Daulay, dalam pesan singkat kepada Rakyat Merdeka Online sesaat sebelum memasuki Royal Palace, Istana Raja Muhammad VI, di Rabat, Maroko, sesaat lalu, Kamis, (18/7).

"Salah satu negara yang paling stabil secara politik di kawasan Timur Tengah dan Afrika saat ini adalah Maroko. Arab Spring yang berhembus di Timur Tengah tidak meluas sampai ke sini," jelas Saleh.

Bersama ratusan ulama dari berbagai penjuru dunia, Saleh diundang ke Maroko untuk menghadiri The Second Religious Lecture of the Series of Hassanian Lectures of Holy Ramadan 1434 H yang berlangsung sepanjang bulan suci Ramadan.

Kegiatan tersebut langsung dihadiri oleh Raja Muhammad VI bersama anak dan pembesar kerajaan lainnya. Makalah ilmiah keagamaan dari berbagai sudut pandang dipaparkan di dalam forum tersebut.

Saleh menilai banyak sumber daya alam Maroko yang bisa dimanfaatkan di Indonesia. Salah satu di antaranya adalah fosfat sebagai bahan baku pembuatan pupuk. Sebagai negara agraris, pupuk tentu sangat dibutuhkan di Tanah Air. Dengan menggunakan bahan baku fosfat, Indonesia diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pupuk dalam negeri.

"Pemerintah Indonesia bisa memulai usaha ini dengan memfasilitasi pengusaha-pengusaha Indonesia untuk berinvestasi di Maroko. Begitu juga pengusaha-pengusaha asal Maroko berinvestasi di Indonesia," ungkap Saleh.

Saleh menilai bahwa Raja Muhammad VI sangat terbuka untuk menjalin kerjasama dengan negara-negara Islam. "Kegiatan ini pun sepertinya dimaksudkan sebagai publik diplomasi dalam menyatukan para ulama Islam dari berbagai negara. Dengan begitu, kerjasama dan silaturrahim makin mudah diwujudkan," demikian Saleh. [zul]


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

2.241 ASN Resmi jadi Komcad Usai Latsarmil Gelombang Kedua Ditutup

Rabu, 30 September 2026 | 00:13

Sabar Tobing: AI Ubah Dunia Perpajakan, Talenta Digital Makin Dibutuhkan

Selasa, 29 September 2026 | 23:50

DPR Minta Pemerintah dan ASDP Tangani Kemacetan Horor Ketapang

Selasa, 29 September 2026 | 23:46

KPK Tegaskan Penyitaan Aset Silmy Karim Sah Usai Praperadilan Ditolak

Selasa, 29 September 2026 | 23:19

KPK Harus Transparan soal Kasus CSR BI-OJK yang Libatkan Dua Anggota DPR

Selasa, 29 September 2026 | 22:39

Kuasa Hukum Faizal Assegaf Apresiasi Polda Metro Periksa Jubir KPK

Selasa, 29 September 2026 | 22:32

Kantor PT Bela Parahiyangan Digeledah Buntut Dugaan Suap HGB ATR/BPN

Selasa, 29 September 2026 | 22:17

Apartemen Vinna Ledy yang Disita KPK Diduga Pemberian Pengusaha

Selasa, 29 September 2026 | 22:09

Membangun Ekosistem Keselamatan dan Perlindungan Korban

Selasa, 29 September 2026 | 22:08

Jokowi Masuk PSI Bisa Mengubah Konfigurasi Politik 2029

Selasa, 29 September 2026 | 22:04

Selengkapnya