Berita

jusuf gunawan wangkar/net

Politik

Peran Bulog Dipertanyakan, Isu Korupsi Bekas Stafsus SBY Diungkit

RABU, 17 JULI 2013 | 16:43 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Harga bahan kebutuhan pokok diperkirakan akan terus melambung tinggi. Perubahan cuaca dan kecenderungan konsumsi masyarakat yang tinggi menjelang Lebaran dan akhir tahun menjadi persoalan pelik. Salah satu penyebab meroketnya harga bahan pokok makanan di seluruh daerah diyakini adalah peran Badan Urusan Logistik (Bulog) yang dikebiri.

Strategi pengendalian Sembako dengan operasi pasar dianggap cara kuno gaya pemadam kebakaran. Sementara, Bulog yang dulu masih punya peran intervensi beras dan non beras, kini tak berdaya. Para pakar ekonomi menyatakan, sudah saatnya peran Bulog dikembalikan ke perannya sebelum krisis 1998 sebagai tangan pemerintah untuk menstabilisasi harga. Komisi di DPR yang membidang perdagangan dan perindustrian pun meminta Bulog tidak hanya mengurusi masalah beras saja, tetapi badan urusan logistik dalam skala nasional.

Tapi persoalan yang lebih gawat adalah bila di dalam Bulog sendiri digerogoti tikus-tikus mafia pangan. Para mafia ini menyusup masuk ke dalam Bulog dan menyalahgunakan wewenang demi mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Apakah hal ini sudah disadari sebelumnya oleh para anggota DPR dan pengamat ekonomi?


Baru-baru ini seruan agar pemerintah lebih tegas menindak kartel dan mafia pangan semakin kuat. Sorotan publik kepada para pejabat di bidang pangan semakin tajam. Dan berbarengan dengan itu, kabar bahwa akan ada pencopotan di internal Bulog terdengar. Siapa gerangan yang akan didepak? Tak tanggung-tanggung, dia adalah Ketua Dewan Pengawas Perum Bulog, Jusuf Gunawan Wangkar (JGW), bekas Staf Khusus Presiden SBY Bidang Pangan dan Energi.

Kabar itu belum terkonfirmasi sampai saat ini. Namun kalau melihat rekam jejaknya, sosok JGW memang penuh kontroversi. Dari berbagai sumber diketahui bahwa pria kelahiran Surabaya, 6 Maret 1962 itu punya hubungan dekat dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono. Kedekatan itu yang membuatnya dengan mudah melakukan banyak hal yang menyalahi hukum. Bahkan ia disebut sebagai mafia pangan itu sendiri.

Di Bulog, modus korupsinya adalah di bidang impor beras dengan mewajibkan Bulog membeli beras impor dari perushaan miliknya dan sang istri di Vietnam, Thailand dan Myanmar. Jajaran Direksi Bulog sudah tahu modus tersebut, tapi tidak ada yang berani melawan karena takut dipecat.

JGW yang merangkap Penasihat Ahli Kapolri juga dikaitkan dengan pengadaan pesawat MA-60 untuk PT Merpati Nusantara. Pengadaan pesawat itu diduga mengandung mark up sebesar 40 juta dollar AS. Peran JGW mulai terendus sejak kecelakaan maut Merpati tipe MA-60 berkapasitas 50 orang di Kaimana, Papua, Sabtu 7 Mei 2011.  Direktur Indonesia Development Monitoring, Munatsir, menyebut perusahaan yang menjadi broker pengadaan pesawat Merpati bukan perusahaan yang profesional di bidangnya. Munatsir menjelaskan, perusahaan yang menjadi broker pengadaan pesawat MA di Indonesia adalah PT Pelangi Golf yang dipimpin Mulyadi. PT Pelangi Golf dibantu oleh Jusuf Wangkar.  Saat itu, wartawan sempat menanyakan dugaan itu kepada JGW. Jawabannya cuma "Sumpah Demi Allah, saya tidak tahu menahu soal pengadaan itu."(saat diminta konfirmasi 26 Mei 2011).

JGW sudah tidak menjabat Staf Khusus Presiden Bidang Pangan dan Energi sejak Mei lalu. Jabatan itu sudah dipegangnya sejak 2009. Media massa baru mendapat kabar bahwa JGW mengundurkan diri pada 13 Mei lalu. Di media massa, Jurubicara Presiden Julian Pasha menyebut pengunduran diri itu karena alasan kesehatan. Sedangkan Seskab Dipo Alam mengatakan Jusuf ingin mengurus bisnis keluarganya.

Tapi, banyak yang yakin bahwa pengunduran diri itu atas desakan Presiden sendiri. SBY mendapat informasi bahwa jejak JGW dalam banyak kasus korupsi mulai terkuak.

Kabar pencopotan JGW dari Ketua Dewan Pengawas Bulog belum terkonfirmasi kebenarannya. Beberapa anggota Komisi VI DPR yang coba diminta keterangan belum merespons.

Namun, di tengah jeritan masyarakat akibat harga pangan yang meroket, dan impian Presiden SBY untuk mendarat mulus di 2014, rasanya belum terlambat untuk menggelar operasi pemberantasan mafia pangan  besar-besaran. Kita juga harus mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusut banyak informasi soal korupsi pangan dan menyeret para pelakukan untuk diadili seadil-adilnya. [ald]

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Bawaslu Minta Masukan Insan Pers Maksimalkan Kinerja Pengawasan Pemilu

Jumat, 04 September 2026 | 04:41

Dihadiri Kapolri, Apel Kebangsaan dan Kemah Nasional PUI 2026 Bidik Kaderisasi Pemuda

Jumat, 04 September 2026 | 04:14

Jangan Sampai Indonesia jadi Jalur Lalu Lintas Narkoba Internasional!

Jumat, 04 September 2026 | 03:59

PTUN Jakarta Kukuhkan PERKAPI sebagai Organisasi Kurator yang Sah

Jumat, 04 September 2026 | 03:39

PBB Perkuat Regenerasi dan Siapkan Kader Muda Rebut Kursi Parlemen 2029

Jumat, 04 September 2026 | 03:19

TNI Perkuat Pendidikan Siswa SMP di Papua Selatan

Jumat, 04 September 2026 | 02:52

Kasus Keracunan MBG Marak Lagi, Kepala BGN Mengaku Terpukul dan Drop

Jumat, 04 September 2026 | 02:26

Harga Pertamax Tidak Naik, Daya Beli Masyarakat Terjaga

Jumat, 04 September 2026 | 01:48

Kuasa Hukum Bantah Febrie Terima Rp40 Miliar dari Pengusaha Tan Kian

Jumat, 04 September 2026 | 01:20

Penjelasan Kepala BGN soal Kasus Keracunan MBG Berulang Bikin Syok

Jumat, 04 September 2026 | 00:59

Selengkapnya