Berita

ilustrasi/net

IGJ Ungkap Laporan Bank Dunia soal Penyebab Ekonomi Indonesia Tertekan

SENIN, 15 JULI 2013 | 14:50 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Meningkatnya impor dan menurunnya ekspor yang memicu defisit transaksi berjalan membuat ekonomi Indonesia tertekan.

Demikian laporan Bank Dunia pada Maret 2013. Dalam laporan itu juga disebutkan faktor lain yang membuat ekonomi Indonesia tertekan. Yaitu meningkatnya pembayaran utang pokok dan bunga utang luar negeri yang menyedot devisa serta keselamatan ekonomi yang bergantung pada investasi fortopolio dan tambahan utang luar negeri yang justru akan mempercepat ekonomi ambruk.

Menurut Salamuddin Daeng dari Indonesia for Global Justice (IGJ) beberapa saat lalu (Senin, 15/7), data Dank Dunia juga mengemukakan bahwa di tahun 2012 defisit neraca berjalan mencapai 24,2 miliar dolar AS. Ini merupakan defisit setahun penuh pertama kali dalam 14 tahun terakhir, yang juga merupakan cerminan dari mengecilnya surplus perdagangan barang yang turun dari 34,8 miliar dolar AS di tahun 2011 menjadi 8,4 miliar dolar AS di tahun 2012.


Sementara itu, ungkap Salamuddin, paparan utang luar negeri swasta bruto terus meningkat, dengan kenaikan terutama terlihat pasca krisis keuangan global naik sebesar 70 persen dalam tiga tahun terakhir. Dan untuk pertama kalinya, utang luar negeri swasta bruto melampaui utang luar negeri pemerintah dan meningkatnya pertumbuhan pinjaman luar negeri yang melebihi dari pertumbuhan cadangan devisa.

Peningkatan utang luar negeri, katanya, telah mengakibatkan kebutuhan pembiayaan luar negeri Indonesia meningkat tajam sejak tahun 2011, dengan total pembayaran pengembalian utang tercatat sebesar 43 miliar dolar AS di kuartal ke-4 2012, atau naik dari 15 miliar dolar AS di kuartal ke-1 2011.

Sedangkan sekitar 88 persen dari utang luar negeri swasta saat ini merupakan utang yang berdenominasi dolar AS dan perusahaan perusahaan yang bergerak dalam sektor industri pengolahan, infrastruktur dan jasa keuangan berkontribusi hanya kurang dari setengah total utang swasta.  Dengan demikian sebagian besar utang digunakan sektor spekulatif.

"Ketiga faktor tersebut merupakan sumber utama meningkatnya tekanan ekonomi, dan menjadi sebab dolar mengamuk di 2013," demikian Salamuddin. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Galang Kekuatan Daerah, Reynaldo Bryan Mantap Maju Jadi Caketum HIPMI

Sabtu, 16 Mei 2026 | 08:13

Anak Muda Akrab dengan Investasi, tapi Tanpa Perencanaan Finansial

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:59

Cuaca Ekstrem di Arab Saudi, DPR Ingatkan Jemaah Haji Waspadai Heatstroke

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:46

Dolar AS Menguat 5 Hari Beruntun Dipicu Lonjakan Minyak dan Efek Perang Iran

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:33

Sindikat Internasional Digrebek, Komisi XIII DPR Minta Pemerintah Serius Berantas Judol!

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:19

STOXX hingga DAX Ambles, Investor Eropa Dibayangi Risiko Inflasi

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:03

Pesanan Hukum terhadap Nadiem Bernilai Luar Biasa

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:44

Volume Sampah di Bogor Melonjak Imbas MBG

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:37

Industri Herbal Diprediksi Berkembang Positif

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:23

Adi Soemarmo Masuk Tiga Besar Embarkasi Haji Tersibuk

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:16

Selengkapnya