. Hingga saat ini, Bank Indonesia (BI) dan Pemerintah, yang diwakili Kementerian Keuangan, tetap ngotot menolak pembentukan Bank Pertanian dalam pembahasan RUU Perlindungan dan Pemberdayaan Petani yang diusulkan DPR.
Penolakan ini pun menjadi tanda tanya Wakil Sekjen Golkar, Lalu Mara Satria Wangsa, sebab Indonesia merupakan negara agraris. Sedangkan di beberapa negara yang bukan negara agraris saja, sudah ada Bank Pertanian. Malaysia misalnya sudah lama mendirikan Bank Pertanian Malaysia. Pun demikian, Afrika Selatan sudah punya Land and Agricultural Development Bank (LADB). Demikian juga, Bank Pertanian ada di beberapa negara Skandinavia.
"Siapa bilang Bank Pertanian tidak menguntungkan. Kalau memang bank memang mencari untung," kata Lalu Mara, yang juga jurubicara Keluarga Aburizal Bakrie, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Minggu, 14/7).
Lalu Mara mengakui petani tak bisa menyiapkan administrasi. Namun demikian, bukan berarti petani akan mengemplang utang. Fakta sosio-psikologis menunjukkan komitmen petani dalam membayar utang sangat tinggi sekali. Bahkan kepada rentenir yang melipatgandakan utang saja petani tetap membayar. Padahal, ibaratnya, meminjam kepada rentenir itu, meminjam empat tapi harus mengembalikan enam dalam jangka waktu enam bulan.
"Saya mengerti bank juga memperlukan administrasi. Tapi semestinya ada jalan tengah, karena saya yakin, nilai Non Performing Loan (NPL) atau kredit macet perbankan, sangat rendah," ungkap Lalu Mara.
Lalu Mara pun menilai Bank Pertanian ini akan melengkapi bank-bank penyalur kredit usaha rakyat (KUR) yang tidak agresif. Memang butuh waktu untuk memprosesnya, namun minimal ada niat baik dari pemerintah untuk mendirikan Bank Pertanian ini. Apalagi fakta lain, Bank Rakyat Indonesia (BRI), yang menggunakan kata rakyat, sudah merambah ke berbagai sektor. Sementara Bank Pembangunan Daerah (BPD) hanya menampung uang lungsuran dari pusat.
"Jadi Bank Pertanian adalah bank khusus kepada petani dan melayani khusus modal kerja petani dalam jangka pendek, buka flat, bukan flat banci. Saya mengerti bank tak mau
capek kasih kredit besar sama kecil, sama proses yang dilalui, jadi makanya bank-bank lebih memilih kepada nasabah besar. Jadi, bisa aja,
mindset Bank Pertanian ini seperti pola kerja rentenir, tapi penerapan bunganya tak menjerat seperti rentenir," demikian Lalu Mara.
[ysa]