Berita

ilustrasi/net

Ternyata Sistem Daftar Pemilih yang Dibanggakan KPU Itu Gagal

SABTU, 13 JULI 2013 | 07:15 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Ternyata, sistem daftar pemilih (Sidalih) yang dikerap dibanggakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) terbukti gagal.

Dari hasil pemantauan, kata Direktur Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma), Said Salahuddin, ditemukan bahwa penyelenggara Pemilu di tingkat bawah, seperti Panitia Pemungutan Suara (PPS) yang dimintakan bantuan oleh KPU Kabupaten/kota untuk memproses data, misalnya, ternyata tidak pernah disediakan sarana penunjang internet.

"Bagaimana mungkin petugas bisa bekerja optimal jika perangkatnya tidak disediakan?" kata Said, dalam keterangan tertulis beberapa saat lalu (Sabtu, 13/7).


Andaipun PPS berinisiatif menggunakan jaringan internet milik pribadi atau coba memanfaatkan fasilitas Warnet, misalnya, lanjut Said, tetap kerap muncul masalah pada sistem Sidalih KPU. Seringkali PPS juga harus begadang semalam suntuk hanya untuk melihat keterangan pada layar bahwa sistem sedang dalam proses atau loading. Setelah menunggu untuk waktu yang sangat lama, proses pun berakhir dengan keterangan gagal atau failed.

Kata Said, rasa frustrasi saat memproses data inilah yang boleh jadi membuat PPS menyusun DPS tanpa berpedoman pada asas kecermatan, ketelitian, dan kehati-hatian. Akhirnya yang berlaku adalah pola pikir dan pola kerja "yang penting beres,". Di saat yang sama, kualitas data pun tidak lagi menjadi prioritas, sebab PPS cenderung bekerja secara terburu-buru. Apalagi masih ditemukan adanya KPU Kabupaten/kota yang meminta kepada PPS untuk menyelesaikan DPS pada satu minggu lebih awal dari jadwal yang semestinya.

Lebih dari itu, masih kata Said, tingkat keamanan data pada Sidalih juga sangat rendah. Password yang diberikan kepada suatu PPS, misalnya, itu juga diketahui oleh PPS yang lain, dan diketahui juga oleh PPK, KPU Kabupaten/kota, sampai dengan KPU pusat.

"Ironisnya, password yang telah diberikan, tidak bisa diubah. Sehingga, bagaimana mungkin data yang disusun oleh PPS bisa terjamin kesahihannya," demikian Said. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Galang Kekuatan Daerah, Reynaldo Bryan Mantap Maju Jadi Caketum HIPMI

Sabtu, 16 Mei 2026 | 08:13

Anak Muda Akrab dengan Investasi, tapi Tanpa Perencanaan Finansial

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:59

Cuaca Ekstrem di Arab Saudi, DPR Ingatkan Jemaah Haji Waspadai Heatstroke

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:46

Dolar AS Menguat 5 Hari Beruntun Dipicu Lonjakan Minyak dan Efek Perang Iran

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:33

Sindikat Internasional Digrebek, Komisi XIII DPR Minta Pemerintah Serius Berantas Judol!

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:19

STOXX hingga DAX Ambles, Investor Eropa Dibayangi Risiko Inflasi

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:03

Pesanan Hukum terhadap Nadiem Bernilai Luar Biasa

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:44

Volume Sampah di Bogor Melonjak Imbas MBG

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:37

Industri Herbal Diprediksi Berkembang Positif

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:23

Adi Soemarmo Masuk Tiga Besar Embarkasi Haji Tersibuk

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:16

Selengkapnya