Berita

Jusuf Kalla

Wawancara

WAWANCARA

Jusuf Kalla: Bukan Saatnya Lagi Saya Ikut Kontes-kontesan Konvensi Capres

KAMIS, 11 JULI 2013 | 10:33 WIB

Bekas Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla mengaku tidak tertarik ikut Konvensi Capres Partai Demokrat.

“Masak saya harus ikut babak penyisihan lagi, kan nggak lucu. Apalagi tujuannya untuk meningkatkan popularitas partai,” kata Jusuf Kalla kepada Rakyat Merdeka, Selasa (9/7).

Alasan lain bekas Ketua Umum Partai Golkar itu tidak ikut konvensi capres karena merasa tidak pantas lagi duduk di pemerintahan.


“Kini sudah bukan saatnya lagi saya ikut kontes-kontesan konvensi capres. Biarlah generasi baru yang menggantikan,” paparnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Nama Anda disebut ikut konvensi, ini bagaimana?
Saya tidak tahu. Ini kan baru mulai, tentu belum ada penawaran ke saya.

Bukankah saat bertemu SBY ditawari ikut konvensi capres?
Tidak ada. Kami kalau bertemu berbicara secara umum saja kok.

Anda benar nih nggak berminat?
Sekali lagi saya katakan bahwa orang ikut konvensi capres itu untuk diketahui visi, misi dan performance-nya. Saya pikir saya tidak perlu lagi mengikuti itu.

Kenapa?
Saya kan sudah berada di pemerintahan cukup lama. Masak ikut babak penyisihan lagi atau kalau dikontes nyanyi saya harus ikut Indonesia Idol lagi, ha-ha-ha.

Tapi banyak yang ingin Anda maju dalam Pilpres 2014, bagaimana dong?
Ya. Bagi saya sekarang bukan lagi soal jabatan atau lainnya. Bahkan bukan untuk kehormatan juga. Saya akan melihat bangsa ini ke depan, kalau masyarakat menginginkan. Katakanlah saya turut serta dalam pembangunan bangsa, tentu saya siap.

Artinya tidak perlu jadi presiden?
Ya. Saya bisa bantu negara, baik di PMI dan Dewan Masjid Indonesia (DMI). Walau sekarang saya istirahat, tentu saya mengatur negara juga.

Ada tujuh aturan main mengikuti konvensi capres, apa tanggapan Anda?
Kalau saya lihat sih itu bukan aturan main, hanya kondisi awal saja.

Tokoh yang ikut konvensi, apa masih berani mengkritik pemerintah?
Itu menjadi pertanyaan, masih ada nggak yang berani mengkritik pemerintah atau Partai Demokrat kalau sudah masuk konvensi, tentu akan ada rasa tidak enak.

Oh ya, bagaimana menurut Anda dakwah komedi di televisi?
Saya salut dengan dakwah di Indonesia, bahkan saya menilainya tidak ada dakwah sebesar Indonesia di negara lain.

Bayangkan sebelum puasa saja dari 12 stasiun televisi, ada 10 televisi yang setiap hari menyajikan dakwah subuh. Bahkan di bulan puasa, sehari dakwah di televisi bisa mencapai lima kali.

Anda lebih suka dakwah komedi?
Selera kan macam-macam. Tidak semua orang bisa seperti Pak Quraish Shihab terangkan hadist dan lainnya. Kalau saya lebih suka mendengarkan penjelasan hadist seperti itu.

Tapi banyak yang suka dengan dakwah komedi, bagaimana ini?
Kalau dakwah komedi dipilih selama puasa, tidak apa hanya sebatas humor. Tapi jangan konyol karena unsur dakwahnya akan hilang. Maka silakan berdakwah, tapi jangan konyol.

Anda juga mengkritik penggunaan pengeras suara di masjid, kenapa?
Saya mengkritik penggunaan pengeras suara yang tidak tepat. Sebelum Adzan kan ada pengajian, kalau bisa itu tidak lebih dari lima menit dan suaranya tidak mengalahkan pengeras suara masjid lainnya. Bukan itu saja, kalau malam hari baiknya dikecilkan saja pengeras suaranya, itu untuk menghargai masyarakat sekitar yang beristirahat. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

Menguji Klaim MBG Kunci Pertumbuhan Ekonomi Triwulan 1

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:12

JK Disarankan Maafkan Ade Armando

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:07

41,7 Persen Jemaah Haji Aceh Lansia

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:43

Bank Pelat Merah Cabang Joglo Dipolisikan

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:26

Empat Hakim Ad Hoc PHI PN Medan Disanksi Kode Etik

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:03

Presensi Ilegal 3.000 ASN Brebes Alarm Serius bagi Integritas Birokrasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:42

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

Digitalisasi Parkir Genjot Pendapatan Daerah

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:02

Ini Cerita Penumpang Selamat dari Bus ALS Terbakar di Sumsel

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:31

Impor Blueray 90 Persen Tetap Jalur Merah

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:28

Selengkapnya