Berita

dradjad h wibowo/net

Dradjad H Wibowo: Kontainer Numpuk di Pelabuhan Karena Pelayanan Bea dan Cukai Sangat Buruk!

SENIN, 08 JULI 2013 | 08:15 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Secara umum, di seluruh dunia, proporsi Jalur Merah (JM) sekitar 5 persen dari total dokumen dan atau nilai impor barang. Di beberapa negara, dengan tingkat ketidakpatuhan tinggi, proporsi JM memang lebih besar karena bea cukai negara tersebut harus lebih prudent.

Namun di Indonesia, kata ekonom Dradjad H Wibowo, sungguh ironis, proporsi JM ini sangat berlebihan. Sebagai contoh, pada tahun 2012, Kantor Pelayanan Utama (KPU) Beca Cukai Tanjung Priok menerima dokumen Pemberitahuan Impor Barang sebanyak 526.275 dokumen dengan nilai impor 66.4 miliar dolar AS, yang terdiri dari1,69 juta kontainer, atau sekitar 141 ribu kontainer per bulan.

"Ternyata proporsi JM di KPU Bea Cukai Tanjung Priok mencapai sekitar 22 persen! Ini berarti empat kali lipat dari standar normal di dunia. Sebenarnya, kalau proporsi JM 8-10 persen mungkin bisa diterima mengingat risiko ketidakpatuhan di Indonesia," kata Dradjad H Wibowo kepada Rakyat Merdeka Online, Minggu kemarin (7/7).


Hebatnya lagi, lanjut Dradjad, selama periode Januari sampai Juni 2013, JM di KPU BC Tanjung Priok bahkan naik menjadi hampir 26 persen dari 252.349 dokumen PIB. Sementara di Kantor Bea Cukai juga bahkan lebih parah. Di Tanjung Perak misalnya, proporsi JM mencapai 26 persen pada tahun 2012 dan 32 persen pada semester pertama 2013. Di Tanjung Emas, proporsi JM pada tahun 2012 mencapai 48 persen, yang naik menjadi 56 persen pada semester pertama 2013.

Pada tahun 2013 ini, Dradjad melihat Ditjen Bea dan Cukai justru semakin memperbesar proporsi JM, yang sebenarnya sudah gila-gilaan. Ditjen Bea dan Cukai (DJBC) pun semakin terlihat birokratis dan semakin menumpuk kekuasaan. Di sisi lain, mereka tidak mempunyai aparat yang jumlahnya memadai, dan juga tidak memberi pelayanan 24 jam, 7 hari.

"Itu sebabnya terjadi penumpukan kontainer yang luar biasa di berbagai pelabuhan. Itu sebabnya rata-rata DT menjadi lama sekali. Jika proporsi JM diturunkan menjadi 8-10 persen, saya yakin DT dan penumpukan kontainer bisa turun drastis," kata Dradjad, membeberkan pelayanan Bea dan Cukai yang buruk.

Dradjad pun menegaskan bahwa ia tidak menginginkan kembali seperti  zaman Orde Baru, yang mengamputasi DJBC dan mengontrak lembaga asing. Namun demikian, sudah saatnya pemerintah merombak total DJBC mulai dari jajaran paling bawah hingga ke Dirjen-nya. Sebab faktanya, pelayanan DJBC saat ini sangat buruk dan lambat, menjadi salah satu bottle neck bagi lalu lintas barang, serta menyebabkan ekonomi biaya tinggi, inflasi, pelemahan daya saing dan kerusakan dunia usaha.

"Jargon MP3EI adalah tidak doing business as usual. Bukannya mengikuti jargon tersebut, DJBC malah way worse than usual. Saatnya pemerintah mengambil tindakan nyata, bukan lagi ropat-rapat," demikian Dradjad. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Galang Kekuatan Daerah, Reynaldo Bryan Mantap Maju Jadi Caketum HIPMI

Sabtu, 16 Mei 2026 | 08:13

Anak Muda Akrab dengan Investasi, tapi Tanpa Perencanaan Finansial

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:59

Cuaca Ekstrem di Arab Saudi, DPR Ingatkan Jemaah Haji Waspadai Heatstroke

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:46

Dolar AS Menguat 5 Hari Beruntun Dipicu Lonjakan Minyak dan Efek Perang Iran

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:33

Sindikat Internasional Digrebek, Komisi XIII DPR Minta Pemerintah Serius Berantas Judol!

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:19

STOXX hingga DAX Ambles, Investor Eropa Dibayangi Risiko Inflasi

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:03

Pesanan Hukum terhadap Nadiem Bernilai Luar Biasa

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:44

Volume Sampah di Bogor Melonjak Imbas MBG

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:37

Industri Herbal Diprediksi Berkembang Positif

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:23

Adi Soemarmo Masuk Tiga Besar Embarkasi Haji Tersibuk

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:16

Selengkapnya