. Selama kurun waktu lebih dari enam dekade, Indonesia terus tumbuh menjadi negara yang semakin maju, adil dan sejahtera. Indonesia bahkan sanggup memainkan peran dominan dalam pergaulan antar bangsa.
Dari sejumlah kemajuan pembangunan, ranah ekonomi merupakan capaian yang cukup mengesankan. Selama kurun waktu lebih dari enam dekade, Indonesia tampil sebagai etalase peradaban yang berpengalaman dalam menerapkan berbagai pola pembangunan ekonomi. Sejarah mencatat, sejak Orde Lama hingga era Reformasi, Indonesia pernah menerapkan pola pembangunan ekonomi terpimpin, ekonomi sentralistik hingga pola ekonomi berorientasi ekspor dan dinamika pasar internasional.
"Masing-masing pola yang kita terapkan itu telah memfasilitasi kinerja pembangunan ekonomi yang beragam," kata Menko Perekonomian, Hatta Rajasa, saat menyampaikan orasi ilmiah dalam acara wisuda sarjana dan pasca sarjana di Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta (Sabtu, 6/7).
Indonesia, ungkap Hatta, pernah tercatat sebagai salah satu negara miskin di dunia dengan pendapatan perkapita hanya 50 dolar dan pertumbuhan ekonomi kurang dari 2 persen pertahun. Indonesia juga pernah dinobatkan sebagai salah satu calon The New Asian Tigers dengan pertumbuhan melampaui 7 persen dan termasuk tercepat di dunia. Indonesia pun pernah terpuruk di awal reformasi 1998-1999.
Sebagai bangsa yang cerdas dan berwawasan masa depan, katanya, dinamika pembangunan ekonomi yang beragam itu, harus tetap diapresiasi sebagai bagian dari proses pembelajaran kebangsaan. Bagaimanapun juga, dinamika itu telah memfasilitasi proses pendewasaan konstruktif bagi bangsa. Dan proses pendewasaan itu membuat Indonesia semakin cermat, prudent, selektif dan novatif dalam mengelola pembangunan ekonomi.
Saat ini, katanya, Indonesia sanggup menyukseskan stabilitasi serta memastikan pengelolaan pembangunan ekonomi untuk mencapai pertumbuhan yang semakin merata, inklusif dan berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi yang dicapai juga telah semakin memantapkan kedaulatan ekonomi seperti yang diamanatkan konstitusi.
Di era reformasi gelombang pertama, secara bertahap, dari tahun 1999-2009, katanya, Indonesia mampu mengembalikan prestasi pembangunan ekonomi, dengan tingkat ketahanan yang semakin tangguh. Selama hanya satu dekade, Indonesia tampil sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia dan menjadi anggota G-20.
Ketahanan ekonomi yang makin tangguh ini, lanjut Hatta, tercermin dari kesanggupan untuk bertahan dari krisis keuangan global di tahun 2008 lalu. Dibandingkan dengan tahun 1998, maka di tahun 2008 ini ekonomi Indonrsia tetap bertahan di tengah krisis utang dunia yang lebih dahsyat. Bahkan, melalui forum G-20, Indonesia berinisiatif dalam mereformasi tatanan perekonomian dunia yang lebih terbuka dan lebih berkeadilan.
Menurut Hatta, ketahanan ekonomi yang tangguh itu mampu dipelihara di era reformasi gelombang kedua, atau paska tahun 2009 hingga beberapa tahun mendatang. Hal itu tercermin dari kemampuan Indonesia mencetak pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3 persen di tengah lambatnya pemulihan perekonomian dunia hingga akhir tahun 2012 lalu. Sebut saja misalnya pertumbuhan ekonomi Malaysia yang cuma 5,15 persen, Vietnam 4,3 persen dan Thailand 2,3 persen. Bahkan Indonesia lebih maju dibandingkan negara-negara emerging economies lainnya, seperti India yang ekonominya tunbuh 5,35 persen dan Russia tumbuh 4,45 persen.
Bahkan, kata Hatta lagi, kinerja perekonomian Indonesia selama tahun 2012 diakui komunitas internasional sebagai salah satu yang paling tangguh di dunia. Terpaan gejolak ekonomi selama tahun 2012 hanya menurunkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 6,5 persen menjadi 6,3 persen.
"Dengan mengedepankan prinsip pembangunan disertai pemerataan, pertumbuhan itu, telah kita distribusikan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Angka kemiskinan kita turunkan dari 17,75 persen di tahun 2006 menjadi 11,96 persen di tahun 2012. Angka pengangguran kita turunkan dari 10,5 persen di tahun 2006 menjadi 6,3 persen di tahun 2012. Penurunan jumlah pengangguran bahkan kita iringi dengan peningkatan kualitas lapangan kerja," jelas Hatta.
Rangkaian kemajuan ekonomi itu, masih kata Hatta, bukan sebatas klaim pemerintah. Kemajuan-kemajuan itu benar-benar diakui secara obyektif oleh komunitas internasional. Sejak tahun 2009 OECD telah memasukkan Indonesia dalam kelompok enhanced engagement countries, atau negara-negara yang harus ditingkatkan kerjasamanya dengan negara maju. Bank Dunia, sejak tahun 2010, telah menempatkan Indonesia bersama Tiongkok, India, Korea Selatan dan Brasil sebagai episentrum pertumbuhan global di kurun waktu beberapa tahun mendatang, menggantikan peran Jepang, Eropa Barat serta Amerika Serikat.
Sementara Goldman Sachs sejak tahun 2011, lanjutnya, memasukkan Indonesia ke dalam kelompok negara MIST (Mexico, Indonesia, Turki, South Korea) sebagai alternatif tujuan investasi yang menjanjikan, selain BRIC atau Brazil, Russia, India dan Cina. McKinsey Global Institute, pada rilis laporannya di bulan September tahun 2012 lalu, juga menempatkan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi ke-7 di dunia pada tahun 2030 mendatang.
[ysa]