Berita

ilustrasi

Jangan Paksakan Demokrasi Liberal di Indonesia

JUMAT, 05 JULI 2013 | 14:59 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Partai politik diharapkan menciptakan pemilu yang demokratis, jurdil dan damai pada Pemilu 2014 mendatang.

"Itu artinya partai politik harus menjaga moralnya, tidak menjalankan kampanye hitam dan politik uang," jelas Ketua BEM jurusan Perbandingan Agama(J-PA) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Laila Nihayati dalam Diskusi Publik "Membangun Indonesia Melalui Pemilu 2014 yang Demokratis, Jujur dan Damai" kemarin.

Laila menyebutkan saat ini masyarakat sudah sangat cerdas dalam memilih wakilnya di DPRD, DPR dan Presidennya. "Kami khawatir jika cara yang tidak bermoral dilakukan terus masyarakat akan apatis dan golput semakin tinggi," ujarnya.


Bukti-bukti, lanjut Laila sudah banyak terjadi,  akibat kompetisi politik yang tidak sehat tak jarang kerusuhan terjadi. "Di pemilukada saja masih sering kita lihat masalah ketidak jujuran yang betujung kerusuhan," ungkapnya.

Hal yang sama diungkapkan pengamat politik LIPI, Siti Zuhro yang mengatakan, melalui pemilu lah Indonesia bisa membangun bangsa dan negara. Asalkan tidak memaksakan demokrasi liberal. "Kita jangan paksakan demokrasi liberal karena itu tidak cocok, karena demokrasi yang dijalankan harusnya adalah demokrasi kepulauan, karena kita unik," usul Siti yang juga pembicara dalam diskusi yang digelar kampus UIN tersebut.

Meski demikian, kata Siti pemilu 2014 harus menghasilkan wakil rakyat dan presiden yang benar-benar sesuai dengan harapan rakyat, "Untuk itu demokrasi harus menghasilkan pemerintahan yang bersih," ungkapnya.

Siti menilai saat ini partai politik menjadi "autis" sibuk sendiri dalam membangun politik minus moral. "Saya setuju kalau di 2014 mahsiswa atau kampus membentuk relawan, kita jangan mudah percaya dengan parpol karena parpol sekarang masih sakit," cetusnya.[zul]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

2.241 ASN Resmi jadi Komcad Usai Latsarmil Gelombang Kedua Ditutup

Rabu, 30 September 2026 | 00:13

Sabar Tobing: AI Ubah Dunia Perpajakan, Talenta Digital Makin Dibutuhkan

Selasa, 29 September 2026 | 23:50

DPR Minta Pemerintah dan ASDP Tangani Kemacetan Horor Ketapang

Selasa, 29 September 2026 | 23:46

KPK Tegaskan Penyitaan Aset Silmy Karim Sah Usai Praperadilan Ditolak

Selasa, 29 September 2026 | 23:19

KPK Harus Transparan soal Kasus CSR BI-OJK yang Libatkan Dua Anggota DPR

Selasa, 29 September 2026 | 22:39

Kuasa Hukum Faizal Assegaf Apresiasi Polda Metro Periksa Jubir KPK

Selasa, 29 September 2026 | 22:32

Kantor PT Bela Parahiyangan Digeledah Buntut Dugaan Suap HGB ATR/BPN

Selasa, 29 September 2026 | 22:17

Apartemen Vinna Ledy yang Disita KPK Diduga Pemberian Pengusaha

Selasa, 29 September 2026 | 22:09

Membangun Ekosistem Keselamatan dan Perlindungan Korban

Selasa, 29 September 2026 | 22:08

Jokowi Masuk PSI Bisa Mengubah Konfigurasi Politik 2029

Selasa, 29 September 2026 | 22:04

Selengkapnya