Berita

morsy/net

KRISIS MESIR

Besar Kemungkinan Ikhwanul Muslimin Tak Pukul Balik Militer

KAMIS, 04 JULI 2013 | 13:54 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Saat rezim Husni Mubarok berkuasa, kelompok Ikhwanul Muslimin tampil sebagai oposisi. Mubarok pun menggunakan cara-cara refresif untuk meredam gerakan Ikhwan, begitu sebutan lain Ikhwanul Muslimin. Dan langkah Mubarok ini, dalam kadar tertentu, sangat berhasil.

Setelah Mubarok tumbang oleh people power, Morsy menjadi Presiden Mesir. Morsy adalah politisi Ikhwan yang terpilih melalui pemilihan presiden langsung yang bebas.

Rabu malam tadi (3/7), militer mengkudeta Morsy. Bagaimana kira-kira langkah politik dan juga masa depan Ikhwan?


Pengamat politik Timur Tengah, Muhammad Jafar, menilai bahwa Ikhwan masih menunggu perkembangan, dengan banyak pertimbangan. Namun besar kemungkinan, Ikhwan tidak akan reaktif dan apalagi mengerahkan kekuatan fisik untuk melawan militer.

Di antara pertimbangan Ikhwan, kata Jafar kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Kamis, 4/7), adalah keselamatan yang lebih banyak. Aktivis Ikhwan sadar betul bila melawan maka akan jatuh korban dari rakyat yang sangat banyak. Ikhwan juga yakin betul militer sudah mempertimbangkan resiko paling besar, termasuk mengalirkan darah.

Usaha militer menggunakan segala cara ini, ungkap Jafar, terlihat dari kondisi di Tahrir Square. Di Tahrir, belakangan, banyak pelecehan terhadap perempuan. Ini dicurigai sebagai bagian upaya dari pembuatan citra bahwa kondisi Mesir sudah tidak kondusif dan akhirnya melegitimasi kudeta militer.

"Instabilitas merupakan idiom politik di Mesir yang memiliki tradisi politik militer yang kuat," ungkap Jafar.

Ke depan, bila militer terus berkuasa, atau bila pada akhirnya kudeta ini melahirkan rezim diktator yang baru, Jafar memprediksi nasib Ikhwan di masa mendatang akan kembali sama seperti di masa lalu.

"Mungkin Ikhwan akan kembali mengalami refresifitas dari rezim," demikian Jafar. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Galang Kekuatan Daerah, Reynaldo Bryan Mantap Maju Jadi Caketum HIPMI

Sabtu, 16 Mei 2026 | 08:13

Anak Muda Akrab dengan Investasi, tapi Tanpa Perencanaan Finansial

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:59

Cuaca Ekstrem di Arab Saudi, DPR Ingatkan Jemaah Haji Waspadai Heatstroke

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:46

Dolar AS Menguat 5 Hari Beruntun Dipicu Lonjakan Minyak dan Efek Perang Iran

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:33

Sindikat Internasional Digrebek, Komisi XIII DPR Minta Pemerintah Serius Berantas Judol!

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:19

STOXX hingga DAX Ambles, Investor Eropa Dibayangi Risiko Inflasi

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:03

Pesanan Hukum terhadap Nadiem Bernilai Luar Biasa

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:44

Volume Sampah di Bogor Melonjak Imbas MBG

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:37

Industri Herbal Diprediksi Berkembang Positif

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:23

Adi Soemarmo Masuk Tiga Besar Embarkasi Haji Tersibuk

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:16

Selengkapnya