Berita

ilustrasi/net

Transisi Demokrasi Mesir Makin Tak Menentu

KAMIS, 04 JULI 2013 | 13:04 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Krisis politik di Mesir dalam beberapa hari terakhir yang berujung penggulingan presiden Mohamed Morsy, mengejutkan dunia.

Menurut Direktur Pusat Kajian Timur Tengah dan Dunia Islam, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Hery Sucipto, demo ratusan ribu massa penentang Morsi dan memaksa militer mengambil alih kekuasaan di negeri itu tak menjamin kondisi kembali kondusif dalam waktu dekat.

"Meskipun militer mengambil alih kekuasaan, tak ada jaminan Mesir kembali normal dalam waktu dekat. Psikologis rakyat Mesir sebenarnya trauma dengan kekuasaan otoriter. Jadi, meski rakyat meluapkan kegembiraan dan menyambut penggulingan Morsi oleh militer, hal ini hanya sementara," ujar Hery kepada Rakyat Merdeka Online bebrapa saat lalu (Jakarta, 4/7).


Menurut alumnus Universitas Al-Azhar Mesir ini, pada dasarnya yang diinginkan rakyat Mesir adalah kehidupan yang aman, damai dan mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, lanjut dia, pasca revolusi Arab Spring yang menumbangkan diktator Hosni Mubarak pada Februari 2011 lalu, dan tampilnya kekuatan Islam Ikhwanul Muslimin di pentas kekuasaan Mesir melalui pemilu bebas pertama, ternyata kondisi sosial politik Mesir tak kunjung membaik.

"Bahkan aksi rakyat terus terjadi dan puncaknya selasa malam lalu yang berakibat pada tumbangnya presiden Morsi. Rakyat ingin revolusi membuahkan hasil kehidupan yang sejahtera, daya beli rakyat terjangkau dan lain sebagainya. Pasca revolusi, kehidupan rakyat makin susah," paparnya.

Untuk itu, meskipun kudeta militer di negara manapun di alam demokrasi modern tidak dibenarkan dan menjadi preseden buruk, ia berharap berkuasanya kembali militer di panggung kekuasaan Mesir tidak akan lama.

"Militer sudah menunjuk ketua Mahkamah Konstitusi Mesir, Adly Mansour, menjadi presiden sementara hingga pemilu digelar. Mudah-mudahan militer dapat menahan diri dan tidak terlibat lebih jauh dalam pemerintahan sementara sipil ini," pungkas Hery, sembari menambahkan, bahwa melewati masa transisi demokrasi suatu negara tidaklah mudah. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Galang Kekuatan Daerah, Reynaldo Bryan Mantap Maju Jadi Caketum HIPMI

Sabtu, 16 Mei 2026 | 08:13

Anak Muda Akrab dengan Investasi, tapi Tanpa Perencanaan Finansial

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:59

Cuaca Ekstrem di Arab Saudi, DPR Ingatkan Jemaah Haji Waspadai Heatstroke

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:46

Dolar AS Menguat 5 Hari Beruntun Dipicu Lonjakan Minyak dan Efek Perang Iran

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:33

Sindikat Internasional Digrebek, Komisi XIII DPR Minta Pemerintah Serius Berantas Judol!

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:19

STOXX hingga DAX Ambles, Investor Eropa Dibayangi Risiko Inflasi

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:03

Pesanan Hukum terhadap Nadiem Bernilai Luar Biasa

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:44

Volume Sampah di Bogor Melonjak Imbas MBG

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:37

Industri Herbal Diprediksi Berkembang Positif

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:23

Adi Soemarmo Masuk Tiga Besar Embarkasi Haji Tersibuk

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:16

Selengkapnya