Berita

maruarar-abraham

Maruarar Sirait Minta Abraham Samad Cs Awasi Pertambangan Batu Bara dan Pelabuhan

KAMIS, 04 JULI 2013 | 06:39 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Negara membutuhkan penerimaan anggaran yang sangat besar.

Penerimaan yang besar ini bisa diperoleh dengan meningkatkan pajak, terutama di sektor batu bara. Apalagi dalam beberapa kesempatan Ditjen Pajak selalu menyampaikan bahwa banyak perusahaan yang tidak membayar pajak, terutama dari izin usaha pertambangan (IUP) yang dikeluarkan oleh walikota atau bupati.

Demikian disampaikan Ketua DPP PDI Perjuangan, Maruarar Sirait, saat berbincang dengan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abraham Samad, di sela-sela Diklat Bakal Caleg PDI Perjuangan di Gedung Serbaguna Senayan, Jakarta (Rabu, 3/7).


Anggota Komisi XI ini mengatakan bahwa DPR dan pemerintah sudah sepakat per 1 Januari 2014 akan meningkatkan royalti batu bara dari 3-7,5 persen menjadi 10-13 persen. Tentu saja, peraturan ini harus diiringi dengan pengawasam yang ketat.

Salah satu caranya, kata Maruarar, adalah menempatkan petugas KPK, bersama-sama dengan polisi dan juga petugas bea dan cukai, di setiap tambang batu bara. Sehingga dapat diketahui berapa sebenarnya produksi batu bara tersebut, dan juga berapa besaran kalorinya.

"Hal ini untuk menutup celah kebocoran pajak dari perusahaan tambang yang nakal. Selama ini juga petugas pajak tidak bisa masuk untuk mencocokkan antara jumlah produksi dengan beban pajak yang harus dibayarkan," jelas Maruarar.

Maruarar juga meminta kepada KPK untuk menempatkan petugasnya di pelabuhan sehingga dapat diketahui produksi batu bara tersebut dikirim ke negara mana saja, dan kepada perusahaan apa saja.

"Sehingga tidak ada lagi transfer pricing atau penggelapan pajak lagi," tegas Ara, panggilan akrab Maruarar Sirait, yang juga Ketua Umum DPP Taruna Merah Putih.

Abraham Samad pun mengatakan bahwa sekitar 60 persen perusahaan tambang memang tak membayar pajak dan royalti kepada negara. KPK pun bertekad membuat kebijakan untuk memperbaiki dan meningkatkan tatakelola penerimaan negara dari sumber daya alam tersebut. Ia menghitung, bila tidak ada kongkalikong antara perusahaan tambang dengan pejabat dan aparat di daerah, pendapatan negara dari sektor sumber daya alam ini mencapai Rp 15.000 triliun.

Dalam perbincangan yang disaksikan para awak media ini, Ara dan Abraham Samad bersepakat untuk membuat terobosan baru dalam hal ini.

Ara pun yakin, bila penerimaan dari pajak batu bara ini maksimal, maka hal ini bisa dijadikan subsidi rakyat. Subsidi bisa dilakukan misalnya untuk membantu nelayan, petani, sektor pendidikan dan juga kesehatan. Dengan subsidi ini pula harga bahan bakar minyak (BBM) tak perlu naik.

"Saya dorong KPK untuk melakukan hal yang luar biasa. Karena KPK merupakaan lembaga ad hoc yang luar biasa karena harus mengungkap kasus yang juga melibatkan oknum besar dengan uang yang juga besar," demikian Ara. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Galang Kekuatan Daerah, Reynaldo Bryan Mantap Maju Jadi Caketum HIPMI

Sabtu, 16 Mei 2026 | 08:13

Anak Muda Akrab dengan Investasi, tapi Tanpa Perencanaan Finansial

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:59

Cuaca Ekstrem di Arab Saudi, DPR Ingatkan Jemaah Haji Waspadai Heatstroke

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:46

Dolar AS Menguat 5 Hari Beruntun Dipicu Lonjakan Minyak dan Efek Perang Iran

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:33

Sindikat Internasional Digrebek, Komisi XIII DPR Minta Pemerintah Serius Berantas Judol!

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:19

STOXX hingga DAX Ambles, Investor Eropa Dibayangi Risiko Inflasi

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:03

Pesanan Hukum terhadap Nadiem Bernilai Luar Biasa

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:44

Volume Sampah di Bogor Melonjak Imbas MBG

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:37

Industri Herbal Diprediksi Berkembang Positif

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:23

Adi Soemarmo Masuk Tiga Besar Embarkasi Haji Tersibuk

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:16

Selengkapnya