Berita

Dahlan Iskan

MANUFACTURING HOPE 83

Cumlaude Melalui Clearing House Model Ketut

Oleh Dahlan Iskan, Menteri BUMN
SENIN, 01 JULI 2013 | 12:01 WIB

Inilah salah satu BUMN yang membuat saya selalu was-was: PT Pos Indonesia. Sebuah perusahaan yang praktis kehilangan seluruh basis bisnisnya: pengiriman surat dan pengiriman uang.

Surat sudah digantikan email atau hand phone. Kartu lebaran sudah digantikan SMS. Pengiriman uang sudah tidak lagi dengan wesel. Sudah digantikan dengan hanya satu klik di jasa perbankan, atau satu sentuhan di hand phone.

Bisakah Pos Indonesia mentransformasikan dirinya dari ancaman kematian? Berhasilkah Direktur Utamanya, I Ketut Mardjana, mengomandani perubahan arah yang begitu drastis? Bisakah karyawan yang sudah terlanjur mencapai 25.000 orang itu memahami kenyataan baru? Ataukah kapal induk Pos Indonesia itu harus kehilangan arah di lautan luas untuk kemudian tenggelam ke dasarnya? Sungguh misi yang beratnya tak tepermanaikan.


Dan hasilnya adalah: Ketut Mardjana lulus dengan predikat summa cumlaude! Mungkin saya berlebihan, tapi saya memang suka terharu melihat orang yang berhasil keluar dari kesulitan. Apalagi dalam suasana lingkungan birokrasi yang tidak bisa fleksibel seperti BUMN.

Di swasta sering terjadi perusahaan berhasil keluar dari krisis dengan melakukan perubahan yang drastis. Perubahan itu bisa dilakukan dengan lebih mudah karena fleksibilitas swasta yang hampir tak terbatas.

Sedang di BUMN kungkungan peraturannya sering menakutkan. Sungguh tidak mudah melakukan transformasi besar di sebuah BUMN. Kini masa-masa kritis transformasi itu sudah lewat. Badai yang menerpa Pos Indonesia sudah berlalu.

Gelombang laut sudah reda. Hujan pun tinggal rintik-rintik. Sesekali saya masih menerima SMS dari lingkungan dalam Pos Indonesia. Tapi isinya sudah lebih memberi harapan.

Tentu saya kagum dengan anak buah yang tabah, teguh, dan ngotot seperti Ketut Mardjana itu. Saya melihat kian lama kian banyak Dirut BUMN yang memiliki keteguhan, ketabahan, dan kengototan seperti itu. Praktis kini saya hanya lebih banyak memuji secara terang-terangan daripada memaki di dalam hati.

Kunci utamanya, saat mulai menakhodai kapal bocor Pos Indonesia yang lagi oleng itu, Ketut Mardjana tidak ikut mabuk. Dia tetap bisa berpikir jernih bagian mana yang harus ditangani dulu. "Modernisasi sistem komunikasi," ujar Ketut Marjana yang aslinya orang dengan darah keuangan itu.

“Semua kantor pos serentak saya hubungkan dengan satelit. Yang tidak bisa ditangani oleh sistem telekomunikasi biasa saya pasangi visat,” tambahnya.

Memang "awak kapal" Pos Indonesia sempat "berontak". Lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Keuangan Jakarta yang meraih doktor ekonomi dari Monash University, Melbourne, ini dianggap melakukan pemborosan besar-besaran. Langkahnya dinilai bisa menguras keuangan perusahaan yang sudah mulai mengering. Tapi Ketut Mardjana tidak mundur. Dia sudah terlanjur basah.

Ketut sudah terlanjur memutuskan untuk pensiun dini dari statusnya sebagai pegawai negeri dengan jabatan yang sudah sempat mencapai setingkat direktur di Kemenkeu. “Saya harus berhasil,” katanya.

“Bayangkan,” kisah Ketut kepada saya. “Dulunya untuk membayar gaji saja harus jualan asset,” katanya. “Orang mau menguangkan wesel tidak ada uangnya,” tambahnya.

Tentu saya bisa membayangkannya. Untung hal itu tidak terjadi di zaman awal-awal saya menjadi wartawan. Ketika saya masih menggantungkan hidup dari penghasilan saya menulis berita di koran-koran. Waktu itu, setiap minggu, saya menerima wesel dari Jakarta. Kadang dari Tempo, kadang dari Kompas. Atau dari media lain. Setiap kali menerima wesel pos saya langsung naik bemo ke kantor pos di Kebon Rojo Surabaya untuk menguangkannya. Kadang berboncengan dengan istri karena uangnya akan langsung dipakai membeli beras.

Waktu itu Kantor Pos masih jaya. Selalu ada uang untuk membayar kiriman wesel untuk saya. Alhamdulillah Pos Indonesia kembali jaya. Bukan saja sudah menemukan jalan yang benar, tapi sudah menemukan jalan tol yang lebar.

Yang membuat Ketut Marjana mendapat summa cumlaude adalah ini: berhasil mengidentifikasi kekuatan Pos Indonesia yang paling kuat. Apakah itu? "Trust!" katanya. Kepercayaan. Saya menyetujuinya seratus persen.

Bukan saja menemukan, Ketut juga akan menggunakan kekuatan utamanya itu untuk landasan bisnisnya di masa depan. Memang Pos Indonesia juga memiliki kekuatan utama lainnya: network yang luas. Tapi network saja tidak cukup.

Gabungan network dan trust itulah yang akan digunakan Ketut untuk masa depan cerah Pos Indonesia.

Bagi saya kombinasi network dan trust itu sekaligus merupakan sumbangan besar untuk Indonesia sebagai negara. Itu akan bisa menutupi salah satu kelemahan republik ini di bidang ekonomi: tidak adanya lembaga yang berfungsi sebagai clearing house. Akibatnya bisnis e-commerce tidak begitu berjalan di Indonesia.

Orang masih takut membeli barang melalui internet. Takut nomor kartu kreditnya disalahgunakan orang lain. Takut penjualnya tidak benar-benar mengirim barang yang dibelinya. Takut uangnya hilang begitu saja.

Ketut akan mengatasi tiga ketakutan itu sekaligus. Pos Indonesia akan membangun mall secara besar-besaran: Plaza Pos Indonesia. Lokasinya di langit internet.

Orang bisa membeli barang di Plaza Pos Indonesia. Melakukan pembayaran secara online. Uangnya ditahan di Pos Indonesia sampai penjualnya benar-benar kirim barangnya. Kalau barang tidak dikirim pembeli bisa mengambil kembali uangnya di Kantor Pos atau via rekening bank.

Sebaliknya penjual juga merasa aman karena dijamin Pos Indonesia.
Inilah bisnis kepercayaan. Pembeli percaya ke Kantor Pos, penjual percaya ke Kantor Pos. Ketut tidak akan mengambil jasa di transaksi keuangannya. Pos Indonesia hanya mengharapkan dari jasa pengiriman barangnya.

Kalau program Ketut ini berjalan, inilah momentum besar bagi pengusaha kecil yang serius. Yang mampu membuat produk yang bermutu dengan harga bersaing. Tidak perlu sewa mall dan tidak perlu takut tertipu pembayarannya! Bangkitlah Plaza Pos Indonesia! Bangkitlah UKM kita! ***

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

Komisi XIII DPR Soroti Perlindungan Hukum Pelaku Usaha yang Tabrak Aturan

Senin, 29 Juni 2026 | 12:22

Ketika Jalanan Pindah ke Dalam Genggaman

Senin, 29 Juni 2026 | 12:07

Gaya Komunikasi Presiden Prabowo Berisiko Menenggelamkan Kinerja Pemerintah

Senin, 29 Juni 2026 | 12:01

KPK Periksa Saksi Swasta dalam Kasus Gratifikasi Produksi Batu Bara di Kukar

Senin, 29 Juni 2026 | 11:54

Harga Bapok Kompak Anjlok, Telur Ayam Turun Jadi Rp28.850/Kg

Senin, 29 Juni 2026 | 11:32

Kasus YTR Jadi Alarm, Garnita NasDem Minta Negara Perkuat Perlindungan Perempuan

Senin, 29 Juni 2026 | 11:15

Safari Politik Jokowi Dibungkus Ritual Adat untuk Dongkrak Publisitas PSI

Senin, 29 Juni 2026 | 11:13

Petugas Haji Masih Bersiaga hingga Kepulangan Kloter Terakhir

Senin, 29 Juni 2026 | 11:07

Kenaikan Beruntun CPO Malaysia Didorong Sentimen Minyak Global

Senin, 29 Juni 2026 | 10:57

Prabowo Ingatkan Ancaman AI, Akademisi Diminta Antisipasi Dampaknya

Senin, 29 Juni 2026 | 10:52

Selengkapnya