Berita

ilsutrasi

SURVEI MEDIAN

Publik Menghendaki Penyadapan KPK Lewat Izin Hakim

MINGGU, 30 JUNI 2013 | 12:09 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Persoalan penyadapan sudah menjadi persoalan lama namun tetap hangat dibicarakan, bahkan di negara maju sekalipun.

Dengan alasan keamanan nasional misalnya, di negara lain, penyadapan diwacanakan bisa dilakukan kepada siapa saja. Namun dengan alasan privacy dan melanggar hak-hak personal warga negara, persoalan penyadapan selalu menuai protes.

Di Indonesia, persoalan penyadapan pun masih terus ramai diperdebatkan. Khususnya lagi soal penyadapan yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Misalnya, apakah penyadapan yang dilakukan oleh KPK harus melalui izin kepada hakim atau tidak.


Menariknya, sebagaimana terekam dalam survei Media Survei Nasional (Median), mayoritas publik, atau sekitar 41 persen, menilai bahwa KPK memang harus meminta izin kepada hakim sebelum menyadap. Hanya 24 persen yang menyatakan bahwa KPK tak perlu izin kepada hakim saat mau menyadap.

"Sisanya, sebanyak 36 persen menjawab tidak tahu," kata Direktur Eksekutif Media Survei Nasional (Median), Rico Marbun, dalam rilis survei bertema Kinerja Polri, KPK, dan Budaya Korupsi, beberapa saat lalu (Minggu, 30/6).

Penilaian soal penyadapan oleh KPK ini berbanding lurus dengan tingkat kepercayaan publik soal keseriusan KPK dalam menangani kasus-kasus besar. Mayoritas publik, atau sekitar 52,5 persen, menilai KPK tidak serius menuntsakan kasus-kasus besar seperti megaskandal Century.  Mayoritas publik, atau sekitar 44,6 persen, pun menilai KPK juga tidak serius menangani kasus Hambalang.

Hal ini berbeda dengan keseriusan KPK dalam mengurus kasus-kasus kecil. Mayoritas publik, di atas 50 persen, hanya menilai KPK serius serius menuntaskan kasus suap impor sapi sebesar, kasus simulator SIM, kasus suap PON, kasus korups pengadaan al Quran dan kasus dugaan suap yang melibatkan pejabat kota Bandung.

"Publik merasakan adanya kesenjangan keseriusan KPK dalam menangani kasus besar dan kasus yang lebih kecil," simpul Rico.

Survei ini digelar pada 19-25 Juni 2013 dengan melibatkan 1.100 responden yang tersebar di 33 provinsi, dan menggunakan multistage random sampling dan proporsional. Tingkat kepercayaan survei ini adalah 95 persen, dengan margin of error plus minus 2,87 persen. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Galang Kekuatan Daerah, Reynaldo Bryan Mantap Maju Jadi Caketum HIPMI

Sabtu, 16 Mei 2026 | 08:13

Anak Muda Akrab dengan Investasi, tapi Tanpa Perencanaan Finansial

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:59

Cuaca Ekstrem di Arab Saudi, DPR Ingatkan Jemaah Haji Waspadai Heatstroke

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:46

Dolar AS Menguat 5 Hari Beruntun Dipicu Lonjakan Minyak dan Efek Perang Iran

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:33

Sindikat Internasional Digrebek, Komisi XIII DPR Minta Pemerintah Serius Berantas Judol!

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:19

STOXX hingga DAX Ambles, Investor Eropa Dibayangi Risiko Inflasi

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:03

Pesanan Hukum terhadap Nadiem Bernilai Luar Biasa

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:44

Volume Sampah di Bogor Melonjak Imbas MBG

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:37

Industri Herbal Diprediksi Berkembang Positif

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:23

Adi Soemarmo Masuk Tiga Besar Embarkasi Haji Tersibuk

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:16

Selengkapnya