. Berdasarkan hasil survei Indonesia Research Centre (IRC), PDI Perjuangan akan memenangkan Pemilu 2014. Tiga hal yang membuat PDI Perjuangan bisa keluar sebagai pemenang karena PDI Perjuangan sebagai partai oposisi, memiliki figur yang kuat, dan merupakan partai yang ideologis.
Atas survei ini, Ketua DPP PDI Perjuangan Maruarar Sirait mengakui bahwa memang PDI Perjuangan memiliki beberapa penopang sehingga mendapatkan angka elektoral paling tinggi. Bahkan, kata Maruarar, PDI Perjuangan tidak hanya memiliki tiga penopang sebagaimana disebutkan oleh IRC, melainkan empat penopang.
Pertama, ungkap Maruarar, adalah konsistensi PDI Perjuangan berada di jalur oposisi. Sikap tegas dan jelas PDI Perjuangan berada di garis ini pun dihormati partai lain. Sebab PDI Perjuangan memiliki sikap jantan, daripada partai yang bergabung dan berkoalisi dengan pemerintahan, tapi sering mengganggu dari dalam.
"Bahkan Pak SBY juga menghormati posisi kita karena jelas sebagai partai oposisi," kata Maruarar Sirait kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Kamis, 27/6).
PDI Perjuangan, ungkap Maruarar, bukan tidak pernah ditawari masuk dalam kabinet. Bila mau jujur, PDI Perjuangan beberapa kali mendapat tawaran untuk juga duduk dalam pemerintahan. Namun semua itu selalu ditolak karena selain demokrasi membutuhkan
checks and balances, juga karena PDI Perjuangan selalu konsisten dalam sikap politik.
"Ini juga menujukkan bahwa kami bukan partai pragmatis," kata Maruarar yang juga Ketua Umum DPP Taruna Merah Putih.
Penopang kedua, lanjut Maruarar adalah karena PDI Perjuangan berbasis pada ideologi. PDI Perjuangan memiliki ideologi Pancasila 1 Juni 1945, dan memiliki bingkai dalam menentukan sikap dan langkah politiknya. Bingkai itu adalah ajaran Bung Karno sebagaimana tertuang dalam Trisakti.
Bila diurai, lanjutnya, ajaran Trisaksti ini--yang terdiri dari berdaulat dalam bidang politik, mandiri di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam bidang budaya--tetap diimplementasikan oleh PDI Perjuangan di tengah himpitan arus global. Dalam bidang politik misalnya, PDI Perjuangan terus mendorong pemerintah agar tetap berpolitik bebas aktif dan tidak memihak pada Blok Barat maupun Blok Timur.
Begitu juga dalam bidang ekonomi. PDI Perjuangan, kata Maruarar, selalu mendorong pemerintah agar bisa mandiri di tengah arus liberalisme ekonomi dan juga di tengah gelombang masyarakat ekonomi ASEAN. PDI Perjuangan terus berjuang agar pasar Indonesia tidak hanya menjadi objek sasaran dari Singpura dan Malaysia.
"Dalam bidang perbankan, kita pun harus mampu sejajar dan menerapkan asas resiprokal," kata Ara, panggilan akrab Maruarar Sirait, yang juga anggota Komisi XI DPR.
Pun demikian, lanjut Ara, dalam bidang budaya. PDI Perjuangan selalu komitmen mengusung dan berkebudayaan Indonesia di tengah serangan
pop culture dari negara lain yang begitu massif.
Kembali ke penopang kekuataan PDI Perjuangan sehingga dipercaya oleh rakyat, Ara mengatakan bahwa penopang ketiga itu adalah figur. PDI Perjuangan dipimpin dan juga dipenuhi oleh figur yang juga konsisten membela kepentingan rakyat dan juga konsisten menjaga ideologi.
PDI Perjuangan memiliki figur Megawati Soekarnoputri yang konsisten melaksanakan Ideologi Pancasila 1 Juni 1945, melaksakanakan ajaran Trisakti Bung Karno, dan juga terus konsisten membangun konsolidasi demokrasi dengan melakukan proses kaderisasi di tingkat internal. Maka di PDI Perjuangan muncul tokoh-tokoh muda baru yang tampil seperti Joko Widodo dan Ganjar Pranowo.
Penopang kekuataan keempat, dan ini tak kalah penting, lanjut Ara, adalah akar rumput. PDI Perjuangan memiliki kader yang mengakar, sama-sama konsisten dan juga sama-sama ideologis. Maka mesin partai pun berjalan dengan baik, solid dan masif.
"PDI Perjuangan memiliki struktur hingga ke tingkat RT/RW, atau hingga enam lapisan. Akar rumput ini juga menjadi penopang kekuataan PDI Perjuangan," ungkap Ara.
Masih soal survei, Ara mengatakan bahwa survei itu digelar saat ini. Artinya, masih ada sekitar satu tahun lagi menuju Pemilu 2014. Karena itu, menghadapi pertarungan yang sesungguhnya itu PDI Pejuangan harus berjuang keras, semakin menunjukkan sikap konsitensinya, dan juga harus terus mengevaluasi diri.
"Dengan survei itu kita tidak merasa di atas. Justru kita harus semakin mawas diri bahwa perjuangan masih panjang dan berliku," tegas Ara.
Ara pun berharap Pemilu dan Pilpres mendatang bisa digelar secara jujur, adil,
fair dan tanpa kecuarangan. Hal yang lebih penting, Pemilu dan Pilpres harus bisa menuntaskan berbagai persoalan ekonomi, hukum, politik dan lain sebagainya. Dalam ekonomi misalnnya, ke depan, bukan hanya pertumbuhaan yang digelorakan, melainkan juga pemerataan dan keadilan. Apalah artinya ekonomi tumbuh, tapi tidak adil sehingga masih banyak rakyat yang sengasara.
"Hukum juga harus tegak dan tidak tebang pilih. Juga persoalan pluralisme. Pemimpin mendatang harus bisa menjaga pluralisme dan kebhinekaan, yang sekarang ini terkoyak. Pemerintah mendatang harus bisa memastikan tidak ada lagi konflik horisontal," demikian Ara.
[ysa]