. Banyak yang percaya, soliditas PDI Perjuangan akan tetap kokoh dan kukuh bila puncak pimpinan tetap dipegang trah Bung Karno, pasca Megawati Soekarnoputri.
Paling tidak, saat ini, ada tiga keturunan Bung Karno yang berkibar dan dinilai layak menjadi ketua umum partai berlambang banteng moncong putih ini.
Pertama adalah Puan Maharani. Karir politik Ketua Fraksi PDI Perjuangan di DPR dan juga Ketua DPP PDI Perjuangan bidang Politik dan Hubungan Antar Lembaga ini pun terus berkibar. Di antara prestasi politik paling mutakhir dari Puan Maharani adalah Pilkada Jawa Tengah. Sebagai Ketua Tim Pemenangan Pilkada Jawa Tengah, Puan berhasil mengantarkan kader partai, Ganjar Pranowo, sebagai Gubernur Jawa Tengah. Di pertarungan yang cukup sengit ini, Puan sudah berhasil mempertahankan salah satu basis merah.
Trah kedua Bung Karno adalah Prananda Prabowo. Prananda adalah anak kedua Megawati dari suami pertama, almarhum Lettu Penerbang Surindro Supjarso. Kakak seibu Puan memang jarang tampil ke publik. Bila pun tampil ke publik, sebagaimana namanya mulai berkibar saat Kongres PDI Perjuangan di Bali 2010 lalu, pria kelahiran 3 April 1970 sangat hemat untuk berbicara. Meskipun terkesan sembunyi dari publikasi media, Prananda dipercaya sedang dipingit untuk tampil bila waktunya sudah tiba.
Ketiga adalah Puti Guntur Soekarnoputra. Meski bukan anak Megawati, banyak yang yakin dengan kemampuan Puti ini. Bahkan tak sedikit orang yang menilai kapasitas Puti dalam menuangkan gagasan Bung Karno jauh di atas Puan Maharani.
Satu di antara sosok ini dinilai sangat pantas, dan bahkan harus memimpin partai untuk menjaga soliditas. Tentu saja, siapapun yang memimpin di masa mendatang, ketiganya juga harus saling mendukung dan jangan saling menegasikan.
Tapi bagaimana dengan jabatan publik, seperti presiden?
Dalam hal ini, tidak sedikit yang menilai bahwa PDI Perjuangan harus mulai membuka diri; baik terbuka baik kader sendiri di luar trah Bung Karno yang dipastikan memiliki kapasitas yang memadai atau juga terbuka terhadap sosok yang berada di luar PDI Perjuangan.
Artinya, untuk jabatan internal partai memang harus diserahkan kepada keturunan Bung Karno demi soliditas, namun untuk jabatan publik lebih baik diserahkan kepada sosok yang dinilai memiliki kompetensi dan kapasitas, yang tentu saja harus disertai dengan pemahaman terhadap gagasan-gagasan besar Bung Karno, demi menjaga ideologi dan idealitas.
Saat ini misalnya, banyak pihak yang berharap agar Joko Widodo maju dalam Pilpres. Sebagaimana terungkap dalam hasil survei, bila Joko Widodo ikut bertarung maka kandidat lain semaunya akan
lewat. Ini membuktikan bahwa PDI Perjuangan harus melihat potensi kader di luar keturunan Bung Karno untuk jabatan publik.
Joko Widodo hanyalah sebuah contoh.
PDI Perjuangan juga bisa mencari sosok di luar partai yang memang ideologis. Dalam hal ini sebenarnya PDI Perjuangan cukup beruntung. Beruntung karena memiliki banyak kader internal yang berkualitas, dan beruntung memiliki simbol seperti Bung Karno, yang masih menjadi panutan sejumlah banyak tokoh di republik ini. Tokoh-tokoh itulah yang harus dirangkul oleh PDI Perjuangan, bahkan harus mulai diseleksi dalam suksesi kepemimpinan nasional.
Bila ini dilakukan, sementara kalangan memprediksi, PDI Perjuangan akan menjadi partai besar dengan basis massa dan basis ideologis yang kian mengakar dan meluas.
[ysa]