. Bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) seiring dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bukanlah kebijakan yang tepat.
Demikian disampaikan Ketua Umum Partai Hanura, Wiranto, dalam acara Konservasi Alam
Penanaman Pohon Gaharu di Perkebunan PT. Karti Wana Raya, di Kabupaten
Purwakarta (Rabu, 19/6).
"Lebih baik adalah mereka diberikan lapangan pekerjaan maupun modal unduk melakukan usaha, masyarakat tidak mampu juga memiliki harkat dan martabat, jangan menganggap bahwa masyarakat yang tidak mampu itu adalah sekedar orang yang menengadahkan tangan meminta-minta sumbangan," kata Wiranto.
Menurut Wiranto, hal yang menjadi perhatian utama adalah ketika bantuan itu dihentikan, dan masyarakat sudah terbiasa untuk diberi. Selain itu juga terkait dengan anggaran belanja negara itu sendiri.
"Itu semua tentunya harus diperhitungkan dengan cermat, oleh karena itu Partai Hanura akan melakukan langkah-langkah yang sifatnya bukan sekedar menolak kenaikan dari subsidi BBM yang selama ini dianggap memberatkan anggaran negara, namun kita juga tapi mencoba meluruskan kebijakan subsidi BBM tersebut sehingga dikemudian hari itu dapat menyentuh sasaran yang tepat," ujarnya.
Seperti diketahui, Fraksi Hanura di DPR RI menolak kenaikan harga BBM termasuk rencana Pemerintah memberikan BLSM kepada masyarakat. Hal tersebut karena Partai Hanura menilai waktunya kurang tepat bagi pemerintah menikkan harga BBM, dan pemerintah dinilai kurang berempati dengan kesulitan masyarakat dengan menaikkan harga BBM.
Terkait dengan hasil Rapat paripurna untuk mengesahkan RAPBN-P 2013 yang dilakukan pada Senin malam (17/6) dan akhirnya ditempuh melalui mekanisme voting yang menunjukan hasil sebanyak 65 persen anggota Dewan yang hadir menyetujui RAPBN-P 2013 yang berisi dana kompensasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, Wiranto menghargai apapun keputusan dari hasil rapat tersebut.
"Namun yang harus diingat bahwa Pemerintah itu dipilih oleh rakyat dan mendapat mandat dari rakyat, sehingga dalam memnentukan kebijakan haruslah berinspirasi dari kehendak rakyat," ujarnya.
Menurut Wiranto, Hanura sendiri yang juga mewakili sebagian rakyat indonesia, tentu menyerap kebijakan itu. Namun demikian dirinya menyatakan bahwa besarnya hutang negara Indonesia haruslah menjadi perhatian.
"Seyogyanya kita bisa mendidik rakyat kita untuk tidak terbiasa meminta-minta, namun bentuklah mereka menjadi masyarakat yang tanggu, kuat, mampu berjuang, mempunyai pekerjaan dan memiliki martabat yang tinggi, sehingga mereka bisa
survive," demikian wiranto.
[ysa]