. Cara polisi yang melibas dengan bengis gerakan mahasiswa penolak rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), menimbulkan kecurigaan Sekjen Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI) Adhie M Massardi.
"Saya menduga tindakan bengis polisi kepada para mahasiswa yang melakukan aksi menolak rencana kenaikan harga BBM itu ada hubungannya dengan posisi Kapolri yang sebentar lagi akan ditinggalkan Jenderal Timur Pradopo. Ada beberapa jenderal polisi yang ingin memanfaatkan situasi ini untuk menarik hati SBY agar dipromosikan menggantikan Timur Pradopo," kata Adhie kepada Rakyat Merdeka Online siang ini (19/6) di Jakarta.
Sebab, menurut jubir Presiden Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) ini, meskipun para mahasiswa itu dalam aksinya sangat marah dan emosional, karena kebijakan SBY soal BBM ini 100 persen bakal menyengsarakan rakyat, tapi masih dalam batas yang bisa ditolerir.
"Maka tidak ada alasan bagi polisi untuk merepresi para mahasiswa itu secara brutal layaknya teroris, sehingga menimbulkan banyak korban seperti terjadi di Jambi, Ternate, Medan dan Jakarta. Saya percaya, kalau tidak ada perintah langsung dari petingginya, polisi yang dilapangan tidak akan segegabah itu," katanya.
"Saya curiga, jangan-jangan Kapolda Metro, Jambi, Maluku Utara dan Sumut sedang berlomba mengambil hati SBY yang cemas melihat mahasiswa di lebih dari 45 kota di seluruh Indonesia bergerak menentang kebijakannya menaikkan harga BBM. Makanya dalam menghadapi aksi-aksi mahasiswa itu mereka tidak membuka ruang dialog sebagaiman lazimnya," ujarnya.
Kecurigaan koordinator Gerakan Indonesia Bersih ini cukup beralasan. Karena pada 2008, saat masih di Komite Bangkit Indonesia dan bersama mahasiswa serta elemen pergerakan lainnya melakukan aksi menolak kenaikan harga BBM, ia mengalami perlakuan aneh dari polisi di Mabes Polri.
"Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri yang waktu itu dipimpin Irjen Bambang Hendarso Danuri (BHD), menangkapi teman-teman pergerakan dengan tuduhan melakukan tindakan anarki membakar mobil di depan Universitas Atmajaya, Jakarta. Saya juga diperiksa berjam-jam untuk kasus yang sama sekali kami tidak tahu. Semua itu rekayasa untuk membungkam perlawanan terhadap SBY,"
"Hasilnya memang dahsyat. Selama setahun lebih gerakan perlawanan lumpuh. SBY bisa tidur nyenyak. Dan tak lama kemudian BHD diangkat jadi Kapolri menggantikan Jenderal Sutanto," tutur Adhie.
"Makanya, agar mahasiswa tidak dijadikan korban hanya demi ambisi petinggi Polri naik jabatan (Kapolri), Kompolnas harus turun tangan melakukan investigasi aktif menyelidiki ihwal kekerasan dan kebengisan polisi terhadap para mahasiswa itu," pungkas Adhie Massardi.
[ysa]