Berita

sby

Sikap Politik PKS Tepat, Sekarang Terserah kepada SBY

SELASA, 18 JUNI 2013 | 14:55 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Keputusan PKS yang menyerahkan kepada Presiden SBY sepenuhnya soal nasib tiga kadernya di kabinet termasuk keberlanjutannya di Sekretariat Gabungan partai pendukung pemerintah setelah menolak kenaikan harga BBM sudah tepat.

"Bola memang ada di tangan Presiden. Karena dia yang punya hak prerogatif. Jadi tergantung presiden, apakah mau memberi sanksi kepada PKS," ujar Direktur Eksekutif Pol-Tracking Institute, Hanta Yuda kepada Rakyat Merdeka Online (Selasa, 18/6).

Hanta sendiri berpendapat, setidaknya ada tiga kemungkinan sikap yang akan diambil SBY. Pertama, tidak memberikan sanksi apapun. SBY hanya paling tidak melibatkan PKS dalam rapat strategis Setgab. Kedua, mengurangi satu jatah kursi PKS, seperti tahun lalu. Atau yang ketiga, sanksi paling ekstrem mengganti seluruh menteri-menteri PKS. Artinya PKS keluar.


"Tapi ini hampir mustahil. Kecil kemungkinannya dengan alasan sering saya katakan, untuk mengimbangi Golkar dan sebagainya. Itu prediksi saya. Jadi bola ada di tangan SBY, bukan di PKS," papar Hanta.

Meski memang, diakui Hanta, walau tidak ada kewajiban untuk mundur, akan lebih baik bagi PKS untuk melakukan itu. Dengan alasan misalnya, sekarang pemerintah tidak berpihak lagi pada rakyat karena tetap menaikkan harga BBM. "Jadi tiga menterinya mundur. Maka akan bagus bagi PKS. PKS Akan mendapatkan citra positif. Akan lebiih klimaks bagi mereka dalam membela kepentingan rakyat," tandasnya.

Soal tiga menteri asal PKS yang di kabinet tetap mendukung kenaikan harga BBM, menurut Hanta hal itu memang sudah seharusnya. Para menteri itu tidak ada urusan dengan sikap partai mereka. "Karena dia wajib membantu Presiden. Ini sistem presidensil. Kalau SBY nggak cocok, ya ganti," demikian Hanta. [zul]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

2.241 ASN Resmi jadi Komcad Usai Latsarmil Gelombang Kedua Ditutup

Rabu, 30 September 2026 | 00:13

Sabar Tobing: AI Ubah Dunia Perpajakan, Talenta Digital Makin Dibutuhkan

Selasa, 29 September 2026 | 23:50

DPR Minta Pemerintah dan ASDP Tangani Kemacetan Horor Ketapang

Selasa, 29 September 2026 | 23:46

KPK Tegaskan Penyitaan Aset Silmy Karim Sah Usai Praperadilan Ditolak

Selasa, 29 September 2026 | 23:19

KPK Harus Transparan soal Kasus CSR BI-OJK yang Libatkan Dua Anggota DPR

Selasa, 29 September 2026 | 22:39

Kuasa Hukum Faizal Assegaf Apresiasi Polda Metro Periksa Jubir KPK

Selasa, 29 September 2026 | 22:32

Kantor PT Bela Parahiyangan Digeledah Buntut Dugaan Suap HGB ATR/BPN

Selasa, 29 September 2026 | 22:17

Apartemen Vinna Ledy yang Disita KPK Diduga Pemberian Pengusaha

Selasa, 29 September 2026 | 22:09

Membangun Ekosistem Keselamatan dan Perlindungan Korban

Selasa, 29 September 2026 | 22:08

Jokowi Masuk PSI Bisa Mengubah Konfigurasi Politik 2029

Selasa, 29 September 2026 | 22:04

Selengkapnya