Berita

Heru Lelono

Wawancara

WAWANCARA

Heru Lelono: Presiden Dikhianati PKS Tapi Tetap Saja Sabar

SABTU, 15 JUNI 2013 | 08:00 WIB

Sangat aneh sikap PKS yang tidak mendukung kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

“Kalau yang nolak partai di luar koalisi, itu wajar. Tapi PKS yang tiga kadernya bagian dari kabinet, itu aneh,” kata Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Informasi, Heru Lelono kepada Rakyat Merdeka, Kamis (13/6).

Heru Lelono mengungkapkan, sebenarnya SBY menginginkan kabinet dan parpol pendukung kompak dalam setiap program dan kebijakan pemerintah.


Berikut kutipan selengkapnya:
 
Apa komentar Presiden mengenai sikap PKS itu?
Saya tidak tahu persis komentar Pak SBY. Tapi beliau berkali-kali menyatakan untuk mengambil sebuah keputusan tentu dibicarakan dengan pembantu presiden yakni menteri.

Kalau saya menilai, sebetulnya untuk menaikkan harga BBM itu selalu tidak popular.
Artinya, yang akan mengalami kerugian adalah Pak SBY.
 
Apa yang dilakukan SBY?
Presiden berkali-kali mengatakan, keputusan pemerintah itu yang paling bertanggung jawab kepada rakyat Indonesia adalah beliau. Sebab, yang dapat amanah atau mandat itu kan Presiden maka beliau yang bertanggung jawab.

Tapi alasan Presiden untuk menaikkan itu kan cukup rasional.

Kenapa Anda bilang rasional?
Selain untuk menjaga APBN tidak jebol, Presiden selalu memikirkan keberlangsungan masa depan negara kita. Kalau tidak memikirkan masa depan bisa saja. Apalagi ke depan, beliau tidak jadi presiden lagi.
 
Ada yang menilai ini langkah ragu-ragu, apa benar?
Presiden mengatakan kepada saya bahwa dirinya memberikan keputusan yang baik, bukan ragu-ragu menaikkan harga BBM. Pada saat itu SBY ingin mendapatkan penjelasan dari kabinetnya  dulu, mengenai bagaimana mengelola dana kompensasi bagi masyarakat tidak mampu.
 
Ada partai yang menolak pemberian BLSM, bagaimana tanggapan SBY?
SBY pernah menyebutkan, apa mereka tidak pernah melarat. Presiden tidak bisa membayangkan  masyarakat miskin yang terkena dampak atas kenaikan BBM ini.

Lalu ada yang komentar jangan berikan ikan tapi kail. Tapi kalau orang yang sangat miskin dikasih kail kan tidak bisa mancing juga. Jangan-jangan mati duluan.

PKS menolak kenaikan harga BBM, ini bagaimana?
Pemerintah sudah mengambil keputusan untuk menaikkan harga BBM, SBY hanya minta tolong kepada para pembantu dan partai pendukungnya untuk mensosialisasikan dengan benar kepada masyarakat kenapa pemerintah harus naikkan harga BBM.

Presiden kan hanya minta dibantu jelaskan kepada masyarakat. Jangan takut pamornya turun, karena yang tanggung jawab kan presiden dan yang paling rugi adalah beliau.
     
Mereka sebutkan ada solusi lain, tidak harus naikkan harga BBM, apa tanggapan SBY?
Semestinya kalau tidak setuju harga BBM dinaikkan disampaikan dong dalam sidang cabinet. Selama ini sidang kabinet selalu terbuka dan semua menteri ikut.

Nah yang disesalkan kalau tidak setuju harga BBM dinaikkan setelah diambil keputusan, lalu berbicara di luar. Ini kan nggak benar.
 
Apakah SBY masih sabar melihat sikap PKS ini?
Pak SBY sabar, beliau selalu mementingkan hal yang lebih besar. Presiden kalau mau marah tentu memilih mana yang penting atau tidak penting. Kalau ada yang meributkan hal yang  tidak perlu untuk apa marah.

Apa SBY merasa dikhianati?
Saya rasa semua orang kalau jadi Pak SBY pasti merasa dikhianati. Mungkin beliau tidak  ngomong karena sangat sabarnya itu. Makanya mari kita coba berpikir jernih saja, apakah harga BBM ini perlu dinaikkan atau tidak.

Pengamat malah yang lebih dulu mendorong dan mengatakan harga BBM perlu naik, pengamat kan tidak berpolitik.
 
Menteri dari PKS setuju harga BBM naik karena sebagai posisi pembantu presiden, bagaimana ini?
Ha-ha-ha, kalau saya ditanya itu biar masyarakat saja yang menilai. Kalau memang begitu seharusnya menteri itu sudah lama keluar dari PKS dong. Sebab, mereka di dalam kabinet dan masih dipercayai Presiden untuk bantu kerja di pemerintahan. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

Relawan Gigit Jari Gegara Jokowi Batal Wantimpres

Senin, 09 Februari 2026 | 02:01

Jaminan Kesehatan 11 Juta Orang Dicabut Bikin Ketar-ketir

Senin, 09 Februari 2026 | 01:29

MKMK Tak Bisa Batalkan Keppres Adies Kadir Jadi Hakim MK

Senin, 09 Februari 2026 | 01:11

Baznas-Angkasa Malaysia Perkuat Pemberdayaan Ekonomi Umat Berbasis Masjid

Senin, 09 Februari 2026 | 01:01

Kata Pengantar Buku, YIM: Keadilan yang Memulihkan Hak

Senin, 09 Februari 2026 | 00:35

Bahlil Takut Disebut Pengkhianat soal Prabowo-Gibran Dua Periode

Senin, 09 Februari 2026 | 00:32

Tradisi Jual Beli Istri di Eropa, Budaya Rakyat Abad ke-17 sampai ke-20

Senin, 09 Februari 2026 | 00:09

Sakit Jokowi Dicurigai cuma Sandiwara

Minggu, 08 Februari 2026 | 23:27

Prestasi Timnas Futsal Jadi Kebanggaan Rakyat

Minggu, 08 Februari 2026 | 23:22

Delegasi Indonesia Paparkan Konsep Diplomasi Humanis di YFS 2026 Jenewa

Minggu, 08 Februari 2026 | 23:05

Selengkapnya