Berita

noorsy/ist

RUPIAH MELEMAH

Ichsanuddin Noorsy: Nilai Tukar Rupiah Terpuruk Bukti Pondasi Ekonomi Indonesia Buruk

SELASA, 11 JUNI 2013 | 11:23 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS benar-benar terpuruk. Kini nilai tukar rupiah mencapai Rp 10.050 per dolar AS.

Menurut pengamat ekonomi politik Ichsanuddin Noorsy, ada penyebab eksternal dan internal mengapa nilai tukar rupiah ini terpuruk. Penyebab eksternal karena The Fed akan mengurangi pembelian surat-surat utang pemerintah AS. Akibatnya kebutuhan dolar di AS sendiri meningkat karena ekonomi sedang menggeliat.

"Jatuhnya harga emas dan fluktuatifnya harga minyak internasional mendorong orang untuk tetap memegang dolar AS di saat pemulihan krisis ekonomi Eropa terseok-seok," kata Noorsy kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Selasa, 11/6).


Dari sisi internal, lanjut Noorsy, kondisi internal Indonesia memburuk. Hal ini tercermin pada defisit neraca berjalan dan neraca modal sehingga menurunkan cadangan devisa menjadi 104,8 miliar dolar AS. Khusus di neraca modal, asing melepas SBN mencapai Rp 5 triliun lebih. Sedangkan di pasar modal, asing melakukan aksi jual hingga Rp 13 triliun. Di saat yang sama, kebutuhan dolar AS untuk impor tetap tinggi seperti untuk mengimpor bahan bakar minyak (BBM) dan untuk kebutuhan barang modal dan bahan baku lainnya.

"Situasi ini menggambarkan, sesumbar Pemerintah bahwa fundamental makro kuat dan makroprudensial bagus adalah semu," tegas Noorsy.

Melihat situasi di atas, masih kata Noorsy, maka problem utamanya adalah rupiah yang diperdagangkan bebas, bebasnya lalu lintas modal dan tingginya ketergantungan pasar domestik atas pasokan barang asing. Maka selama tiga hal itu tidak diselesaikan secara struktural fundamental, nilai tukar rupiah akan selalu fluktuatif, walau dalam jangka pendek sesekali menunjukkan kestabilan.

"Dalam bahasa yang lain, kestabilan ekonomi Indonesia sebenarnya semu. Meminjan istilah Paul Krugman, perekonomian Indonesia akan terbiasa menghadapi situasi tidak normal. Karena sudah biasa tidak normal, maka hal itu menjadi normal. Sama seperti orang mabuk minuman keras. Kalau sehari tidak mabuk, dia merasa tidak normal. Itulah situasi ekonomi Indonesia," jelas Noorsy.

Jadi, saran Noorsy, selain penting menata ulang sistem nilai tukar dan lalu lintas devisa serta liberalisasi keuangan dan perdagangan, Indonesia juga harus berhenti mengikuti jejak perekonomian Barat yang sudah terbukti gagal sejak satu setengah abad lalu. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

UPDATE

Brigjen Victor Alexander Lateka Dikukuhkan Sebagai Ketua Umum PABKI

Sabtu, 16 Mei 2026 | 17:48

MBG Program Baik, Namun Pelaksanaannya Terlalu Dipaksakan

Sabtu, 16 Mei 2026 | 17:07

Suporter Indonesia Bisa Transaksi Pakai wondr by BNI di Thailand Open 2026

Sabtu, 16 Mei 2026 | 16:46

Rupiah Jebol Rp17.600, Prabowo: di Desa Nggak Pakai Dolar

Sabtu, 16 Mei 2026 | 16:06

Sjafrie Kumpulkan BIN hingga Panglima TNI, Fokus Kawal Mineral Strategis RI

Sabtu, 16 Mei 2026 | 15:16

Saham Magnum Melonjak Usai Rumor Akuisisi Blackstone dan CD&R

Sabtu, 16 Mei 2026 | 15:02

Prabowo Curhat Kenyang Diejek TNI-Polri Urus Jagung: Itu Aparat Rakyat!

Sabtu, 16 Mei 2026 | 14:35

Kemenhaj Perkuat Tata Kelola Dam, Jemaah Haji Diminta Gunakan Jalur Resmi Adahi

Sabtu, 16 Mei 2026 | 14:18

Instants Fitur Baru Instagram, Ini Bedanya dengan Stories

Sabtu, 16 Mei 2026 | 14:13

Prabowo Minta Aparat Koreksi Diri: Jangan Jadi Beking Narkoba

Sabtu, 16 Mei 2026 | 14:03

Selengkapnya