Berita

Politik

Inilah Akumulasi Kekecewaan PKS di Tengah Kapal yang Retak

SABTU, 08 JUNI 2013 | 10:12 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Perahu Sekretariat Gabungan pendukung pemerintah sudah lama retak. Yang membuat makin parah karena perahu dinahkodai oleh enam nahkoda yang tujuan berlayarnya berbeda-beda. Susilo Bambang Yudhoyono (Demokrat), Aburizal Bakrie (Golkar), Muhaimin Iskandar (PKB), Suryadharma Alie (PPP), Hilmi Aminuddin (PKS) dan Hatta Rajasa (PAN) tidak punya kesamaan tujuan.

Analogi itu dikatakan pengamat politik Hanta Yuda dalam diskusi "Perahu Retak Setgab" di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (8/6) untuk menggambarkan suasana politik di dalam koalisi pemerintah pada berbagai isu politik maupun rencana kebijakan pemerintah.

"Perahu retak, perjalanan akan terseok-seok. Tapi saya yakin kapal ini tak akan tenggelam sebelum periode lima tahun selesai. Alurnya hampir sama tapi judulnya beda-beda. Judulnya bisa Century, BBM jilid 1, 2 dan 3 dan seterusnya," ucapnya.


Soal sikap tegas PKS yang menolak mentah-mentah rencana kenaikan harga BBM, menurutnya adalah bagian dari strategi politik dan bisa dibaca dalam tiga hal. Pertama, penolakan ini bagian dari pencitraan mendongkrak elektabilitas, salah satu upaya meraih simpati publik. Kedua, PKS ingin memperkuat posisi tawar di koalisi.
 
Ketiga, ini bagian dari akumulasi kekecewaan PKS. Dia ingatkan, PKS dari awal paling tak nyaman ketika Golkar bergabung ke koalisi padahal partai Aburizal Bakrie itu tidak berkoalisi sejak kampanye pilpres SBY-Boediono. Dengan kedatangan Golkar di tengah koalisi, PKS yang tadinya sangat kuat di barisan pemerintah menjadi lemah.

"Masalah lainnya, PKS yang tadinya ingin Hidayat Nur Wahid jadi Ketua MPR sangat dikecewakan setelah SBY malah mendukung Taufiq Kiemas," ucapnya.

Kemudian, kekecewaan PKS yang lain ketika SBY memilih Aburizal Bakrie sebagai ketua harian koalisi, padahal Bakrie dengan Golkar-nya datang belakangan.

"Lalu PKS banyak tak dilibatkan dalam rapat setgab. Ada pula insiden pencopotan Menristek Suharna Suraprananta," tambahnya.

"Sama halnya saya curiga dengan program BLSM sebagai strategi pencitraan. Saya sama juga curiga dengan sikap PKS dengan menolak ini (kenaikan BBM)," terangnya. [ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Muhammadiyah Himpun Rp6 Miliar untuk Korban Gempa NTT, Rp3,4 Miliar Telah Disalurkan

Sabtu, 05 September 2026 | 10:18

Emas Antam Ambruk Rp30.000, Termurah Dibanderol Rp1,3 Juta

Sabtu, 05 September 2026 | 09:19

Banding Kasus Penyiraman Air Keras, Hukuman Dua Pelaku Diringankan

Sabtu, 05 September 2026 | 08:50

Hari Pelanggan Nasional 2026, Pertagas Perkuat Layanan dan Keandalan Energi

Sabtu, 05 September 2026 | 08:14

112 Tersangka Kasus Karhutla Sudah Ditangkap, 55 Perkaran Dilidik

Sabtu, 05 September 2026 | 07:41

RUU Perampasan Aset Potensial Menjarah Aset Seluruh Rakyat

Sabtu, 05 September 2026 | 06:46

112 Tersangka Kasus Karhutla Ditangkap, Terbanyak di Riau

Sabtu, 05 September 2026 | 06:34

Muhammadiyah Layani Penyintas Gempa NTT

Sabtu, 05 September 2026 | 06:17

JHL Foundation Beri Beasiswa Kelapa untuk 100 Mahasiswa UBB

Sabtu, 05 September 2026 | 06:02

Operasi Modifikasi Cuaca Dioptimalkan di Kalbar dan Kalteng

Sabtu, 05 September 2026 | 05:52

Selengkapnya