Berita

Ilustrasi demonstrasi menolak kenaikan harga BBM/Net

Publika

Menaikkan Harga BBM Kebohongan Besar Pemerintah

OLEH: ASBIT PANATAGARA
RABU, 05 JUNI 2013 | 21:19 WIB

MARAKNYA kabar tentang rencana pemerintah menaikan kembali harga bahan bakar minyak (BBM) akhir bulan ini mendapat begitu banyak respon dari berbagai kalangan, baik yang pro maupun kontra. Akan tetapi isu kenaikan harga BBM ini bukanlah hal yang baru dihadapi oleh bangsa ini.

Meskipun fakta menyebutkan bahwa setiap adanya kenaikan harga BBM secara otomatis akan diikuti oleh kenaikan harga barang lainnya terutama harga bahan pokok manusia. Akan tetapi permasalahannya adalah bukan soal kenaikan harga semata, terlebih tidak adanya sebuah transparansi dari sebuah sistem yang dilakukan oleh pemerintah terkait pengelolaan BBM tersebut.

Masyarakat hanya diberitahukan mengenai beban APBN yang membengkak karena subsidi, dan juga teknis-teknis lainnya dengan iming-iming pengalihan dana subsidi kepada sektor lain seperti Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM).


Dari dahulu tetap saja pola "penjelasan" dari pemerintah seperti itu dari tahun ke tahun. Ini jelas pembodohan terhadap rakyat, karena rakyat sebagai objek vital penerima kebijakanlah yang mendapatkan imbas langsung dari sebuah regulasi kebijakan pemerintah yang menyengsarakan. Jika pemerintah mau jujur dan transparan, tidaklah mungkin setiap kenaikan BBM menjadi polemik. Karena adanya sarat kepentingan politik tertentu, yang dituntut oleh masyarakat adalah transparansi dari sebuah kebijakan yang dibuat, karena itu adalah hak rakyat yang juga harus dipenuhi oleh pemerintah.

Jika dihadapkan oleh persoalan kenaikan BBM, pemerintah selalu saja beralasan bahwa banyaknya masalah di sektor hulu, tapi kenapa tidak pernah membuka persoalan persoalan di sektor hili? Rakyat tidaklah selamanya bisa dibodohi terus pemerintah. Jika presiden SBY mau jujur terhadap rakyat, sejatinya apapun kebijakan yang dibutuhkan atas kondisi yang menerpa, maka rakyat akan selalu mendukung apapun itu jika demi kebaikan hajat hidup rakyat. Akan tetapi Pemerintahan SBY-Boediono sekarang ini sudah terlalu keasyikan dalam membodohi rakyat.

Jika ditanyakan tentang "formulasi penghitungan dan penentuan harga BBM yang Rp 4500 itu dari mana dan bagaimana cara penghitungannya? Tentu saja pemerintah akan berkelit dengan mengalihkan persoalan ke hulu lagi, padahal minyak kita sudah import dari asing untuk pemenuhan kebutuhan minyak nasional.  

Pemerintah sekarang sudah melakukan kebohongan yang sudah tidak bisa lagi ditolelir. Pemerintah menggunakan formula penghitungan harga yaitu MOPS + α (alfa) + Tax. Sedangkan faktanya MOPS hanya mencatat harga transaksi untuk RON 92 dan RON 95. Lalu BBM yang dijual ke masyarakat (Premium dan Solar) adalah RON 88 yang nilai transaksinya tidak tercatat di MOPS. Pertanyaannya adalah dari manakah angka 4500 per liter bisa ditentukan?

Selain itu pemerintah menaikan harga BBM di saat harga ICP dunia sedang turun. Undang-undang sudah mematok untuk membeli minyak dengan harga US $ 100 per barrel, sedangkan harga minyak mentah dunia masih di kisaran US $90,an per barrel. Artinya, kebutuhan kenaikan BBM sekarang ini belumlah perlu. UU yang menyebutkan harga US $100 per barrel masih menutupi.

Jelas ini kebohongan besar yang dilakukan pemerintah terhadap rakyat. Ada apa dibalik kebijakan menaikan harga BBM ini? Jangan jangan hanya untuk membayar hutang negara yang jatuh tempo, atau merampok uang rakyat untuk kepentingan pemilu 2014 nanti yang dibagi-bagikan kepada partai politik?

Penulis adalah Kordinator Nasional Forum Study Minyak dan Gas Bumi (Forsmigasi)


Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

UPDATE

Rudi Margono Isi Kursi Jampidsus Menggantikan Febrie Adriansyah

Sabtu, 11 Juli 2026 | 14:24

Pembiayaan Tembus Rp10 T, Laba Bank Mega Syariah Naik 17,56 Persen di Semester I-2026

Sabtu, 11 Juli 2026 | 14:24

Profil Etik Suryani Bupati Sukoharjo yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 11 Juli 2026 | 14:20

Ini Alasan KPK Batal Ikut Konferensi Pers Polda soal Perkara yang Menyeret Jampidsus

Sabtu, 11 Juli 2026 | 14:04

Jakarta Jadi Kota Termahal ke-21 di Dunia pada 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 | 13:42

Inggris Siapkan Bonus Fantastis Jika Juara Piala Dunia 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 | 13:37

Saham SK Hynix Melonjak 13 Persen Saat Debut di Nasdaq

Sabtu, 11 Juli 2026 | 13:31

Komisi III DPR Soroti Kasus Korupsi Batu Bara dan Isu Mundurnya Jampidsus

Sabtu, 11 Juli 2026 | 13:16

Biarkan Kortas Polri Usut Dugaan TPPU Jampidsus Tanpa Intervensi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 13:00

Jumlah Investor BBTN Kembali Melonjak per Juni 2026, Akhiri Tren Penurunan Dua Bulan

Sabtu, 11 Juli 2026 | 12:51

Selengkapnya