Berita

ist

Politik

Isu Mega Pensiun Nyapres Cuma untuk Dongkrak Citra?

Pilihan Mega Cuma Jokowi
KAMIS, 30 MEI 2013 | 15:07 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Apa yang dilakukan PDI Perjuangan sekarang, dengan mewacanakan regenerasi pencapresan dari Megawati Soekarnoputri ke tangan kader muda, mirip apa yang sedang dilakukan oleh Partai Demokrat dalam wacana konvensi kandidat capres. Demokrat bermain-main dengan wacana konvensi untuk "menyelamatkan muka" dari kejatuhan elektabilitas dan kasus-kasus korupsi.

"Itu mirip wacana konvensi yang dicetuskan Demokrat. Menggiring sentimen positif pada kedua partai. Citra PDIP menguat sebagai partai modern pro perubahan. Mau tidak mau itu jadi pencitraan," kata analis politik, Umar S. Bakry, kepada Rakyat Merdeka Online, Kamis (30/5).

Umar berharap, isu regenerasi di tubuh PDIP yang dilontarkan oleh Puan Maharani (Ketua DPP), bukan cuma omong kosong. Cara mengukurnya adalah dengan melihat sejauh apa partai banteng menyiapkan kader mudanya masuk ke kancah politik nasional.


"Politik itu adalah the art of possibility. Maka peluang masih 50:50. Ada persaingan di internal PDIP sendiri siapa yang layak dimajukan sebagai capres. Apakah tetap Bu Mega atau orang muda. Di situ ada pertarungan yang akan jadi realitas," ucap Direktur Eksekutif Lembaga Survei Nasional ini.

Realitasnya, lanjut Umar, keberanian PDIP melontarkan isu regenerasi tidak lepas dari kehadiran Joko Widodo. Gubernur DKI yang juga mantan Walikota Solo itu mendongkrak PDIP dalam berbagai hasil survei.

"Sekarang PDIP meroket karena faktor Jokowi paling dominan. Kalau ada pertanyaan, kenapa Anda memilih PDIP, paling banyak di antara mereka jawabannya karena figur Jokowi," terangnya.

Dia tak menutup kemungkinan Megawati tetap ngotot nyapres di Pilpres dan menarik Jokowi sebagai pendampingnya.

"Sekarang siapapun yang berpasangan dengan Jokowi pasti menang. Kalau Mega masih mau jadi presiden, pilihannya cuma Jokowi," tandasnya. [ald]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Tertekan Lonjakan Minyak, Harga Emas Dunia Anjlok ke Level 4.254 Dolar AS

Senin, 28 September 2026 | 08:30

Iran Siap Hadapi "Perang Kiamat" dengan AS

Senin, 28 September 2026 | 08:12

Jalan Terbuka Bagi Dividen BEI: Proses Demutualisasi Masuki Tahap Pengkajian Saham

Senin, 28 September 2026 | 07:52

Halal Jangan Berhenti di Sertifikat

Senin, 28 September 2026 | 07:38

IAMI Lahir di Jakarta, Nasaruddin Umar Jadi Presiden Pertama

Senin, 28 September 2026 | 07:07

APH Harus Turun Tangan Tertibkan Tarif Parkir Tak Wajar

Senin, 28 September 2026 | 07:05

Kejagung Didesak Bongkar Mata Rantai Uang Chromebook

Senin, 28 September 2026 | 06:47

Pagar Nusa Kukuhkan 25 Kader Pasukan Inti di Taiwan

Senin, 28 September 2026 | 06:42

Indonesia Ikut Ajang WSC 2026 di Shanghai, Ini Manfaatnya

Senin, 28 September 2026 | 06:20

Ekosistem Logistik di Kawasan Timur Masih Penuh Tantangan

Senin, 28 September 2026 | 05:54

Selengkapnya