Berita

Mahfud MD

Wawancara

Mahfud MD: Saya Belum Punya Tim Sukses, Yang Ada Tim Pemantau Media

SELASA, 14 MEI 2013 | 08:48 WIB

Bekas Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD mengaku belum membentuk tim sukses untuk memuluskan jalannya menjadi Capres 2014.

“Kalau ada yang bilang saya sudah membentuk tim sukses, itu tidak betul. Sebab, saya masih mengkaji masalah pencapresan. Yang ada hanya tim pemantau media,” ujar Mahfud MD kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, Minggu (12/5).

Tugas tim pemantau media itu, lanjutnya, memantau media massa mengenai sejauh mana dukungan rakyat terhadap dirinya menjadi capres.


“Tim ini juga bisa disebut sebagai tim pemantau situasi. Skalanya masih kecih, hanya enam orang,’’ uangkap bekas Menteri Pertahanan itu.

Berikut kutipan selengkapnya:

Bukankah tim seperti itu bagian dari tim sukses?
Bukan dong. Kalau tim sukses untuk capres kan skalanya nasional. Di tiap-tiap kabupaten/kota ada orangnya. Ini kan tidak. Anggota tim pemantau media saya, atau bisa juga disebut tim pemantau situasi hanya terdiri dari enam orang.

Siapa saja mereka?
Saya tidak bisa menyebutkan namanya. Tapi empat orang bekas wartawan, dan dua orang bidang teknis untuk membantu saya.

Bukannya di daerah juga sudah ada yang mendukung Anda?
Mereka bukan termasuk tim sukses. Mereka orang-orang yang secara sukarela memberika dukungan kepada saya. Tapi saya nggak mengkoordinir mereka sebagai tim sukses.

Pendukung di daerah itu memakai nama dan foto Anda?
Betul. Tapi bukan berarti mereka menjadi tim sukses saya. Mereka hanya kebetulan ngefans sama saya. Kemudian meminta izin kepada saya untuk menggunakan nama, foto, dan segala sesuatu tentang saya.

Apa Anda mengizinkan?
Ya. Saya mengizinkan selama mereka menggunakannya untuk hal yang positif. Menurut saya itu sah saja jika mereka menyalurkan aspirasinya dengan cara tersebut. Saya pun mengapresiasi mereka yang mau mendukung saya dengan cara seperti itu.

Kalau sudah ada tim pemantau situasi, berarti Anda sudah siap menjadi capres?
Ya, saya lihat nanti dulu, bagaimana situasinya. Kalau mau maju, itu kan butuh banyak perhitungan. Misalnya, apakah masyarakat saya. Apakah ada partai yang juga mau mendukung saya. Apakah saya harus ikut konvensi dan lain sebagainya. Saat ini semua itu masih saya pertimbangkan.

Kalau untuk dukungan masyarakat, bukannya sudah banyak di daerah?
Ya memang. Tapi kan belum tentu seluruhnya. Yang terlihat kan baru sebagian. Saya masih menunggu bagaimana dukungan masyarakat selanjutnya.

Sejumlah kalangan mengharapkan Anda ikut konvensi, kenapa nggak diputuskan saja sekarang?
Ini semua masih dikaji. Lihat nanti saja. Yang jelas, saya belum tentu akan mengikuti konvensi capres.

Itu kalau ada parpol yang menetapkan Anda menjadi capres?
Ya. Betul. Konvensi capres itu kan hanya salah satu cara untuk maju. Itu pun kalau saya benarbenar maju menjadi capres atau cawapres.

Anda dijagokan dalam konvensi, kenapa kelihatannya masih ragu?
Sampai sekarang saya belum melihat, bagaimana aturan main dalam konvensi capres. Apa saja syarat seseorang untuk bisa ikut, apa kewajiban kandidat dan partai ketika telah terpilih. Kemudian yang melakukan penilaian terhadap konvensi itu siapa. Ini kan harus jelas dulu.

Anda meragukannya?
Bukan seperti itu. Kalau cara pemilihannya bagus, pasti bisa menghasilkan pemimpin yang bagus dalam Pilpres 2014.

Berarti konvensi yang dilakukan nanti kurang bagus?
Bukan begitu. Saya justru belum bisa menilai apa konvensi itu bagus atau tidak. Sebab, aturannya saja belum jelas seperti apa. Pada dasarnya konvensi capres itu bagus karena membuka kesempatan kepada masyarakat untuk bersaing terbuka dalam sebuah pemilihan. Tapi itu juga kan tergantung niat dari partai tersebut.

Maksudnya?
Kalau ternyata konvensi cuma trik politik supaya masyarakat beranggapan partai tersebut terbuka, bagus, kemudian memilih partai itu, kan sama saja bohong.
Penilaian tidak dilakukan dengan obyektif, pemenang sudah diatur.

Kalau caranya seperti ini, mana bisa kita menemukan pemimpin yang baik. Kalau sudah begitu, untuk apa saya ikut konvensi. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Awal Pekan, Harga Emas Antam Terpantau Turun ke Rp2.668.000 per Gram

Senin, 22 Juni 2026 | 10:21

Harta Zita Anjani Melonjak Rp100 Miliar, Hari Purwanto: Mungkin Menang Lotre

Senin, 22 Juni 2026 | 10:11

Emas Antam Mandek di Awal Pekan, Satu Gram Rp2,6 Juta

Senin, 22 Juni 2026 | 09:49

Bajak Kader Partai Lain, PSI Dinilai Tetap Berpotensi Jadi Partai Gurem

Senin, 22 Juni 2026 | 09:43

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.812 per Dolar AS

Senin, 22 Juni 2026 | 09:30

Dolar AS Menguat di Tengah Amblesnya Yen dan Poundsterling

Senin, 22 Juni 2026 | 09:20

Trump Sebut Starmer Gagal, Isu Pengunduran Diri PM Inggris Kian Menguat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:11

Gibran Ingin Layanan Kesehatan di Wilayah 3T Diperkuat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:00

Rayakan HUT ke-499, Jakarta Berikan Tarif Spesial Rp1 untuk MRT, LRT, dan TransJakarta Hari Ini

Senin, 22 Juni 2026 | 08:47

Bakal Turun Gunung Bareng PSI, Jokowi Dinilai Sulit Lepas dari Bayang-bayang Kekuasaan

Senin, 22 Juni 2026 | 08:46

Selengkapnya