Berita

Anas Urbaningrum

Wawancara

WAWANCARA

Anas Urbaningrum: Ada Yang Curhat Nomor Urut

SENIN, 06 MEI 2013 | 10:11 WIB

Bekas Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum mengaku akan datang ke KPK, Senin (6/5).

“Insya Allah saya akan datang. Saat itu memang saya tidak bisa datang karena sakit. Tapi sakitnya bukan karena nasi kucing,’’ kata Anas Urbaningrum kepada Rakyat Merdeka di kediamannya, di Komplek TNI AL, Jalan Teluk Semangka, Duren Sawit, Jakarta Timur.

Seperti diberitakan, Anas tidak menghadiri panggilan KPK, 29 April 2013, sebagai saksi atas kasus Andi Mallarangeng karena sakit.


Anas Urbaningrum selanjutnya mengatakan, Senin (6/5) sudah menjadwalkan dirinya hadir di KPK.

“Wartawan di KPK pasti sudah kangen juga dengan saya, ha-ha-ha,” ujarnya.
Berikut kutipan selengkapnya:

Anda sakit karena apa?
Senin (29/4) lalu itu saya dijadwalkan menjadi saksi Pak Andi Mallarangeng. Tapi tidak hadir karena kondisi kesehatan saya yang kurang baik.

Sakit adalah sakit. Tapi saya tegaskan sakit saya ini bukan karena nasi kucing.
 
Memang benar malamnya makan nasi kucing. Tapi bukan malam itu saja saya makan nasi kucing. Sebab, nasi kucing itu adalah salah satu makanan favorit saya. Tadi malam pun saya makan nasi kucing kok.

Lalu sakit gara-gara apa?
Sakit ya sakit saja.  Kasihan penjual nasi kucing kalau dibilang saya sakit karena makan nasi kucing. Sakit saya ini adalah kebetulan saja dapat hadiah  kurang sehat dari Tuhan. Sehat atau sakit itu adalah manusiawi. Kalau ada orang yang tidak pernah sakit, itu Firaun saja, ha-ha-ha.

Sebenarnya sakit apa sih?
Sakitnya secara teknis dan detilnya tidak perlu diumumkan. Nanti kalau saya sampaikan secara detail dan teknisnya disangka dokter.

Kegiatan Anda apa saja setelah tidak jadi Ketua Umum Partai Demokrat?
Kegiatan saya normal-normal saja, tidak berkurang, kecuali kegiatan berpartai.

Seluruh kegiatan berjalan seperti biasa. Yang bertambah malah kesempatan saya sebagai suami, bapak dari anak-anak saya dan silaturahim dengan teman.

Bertemu dengan para sahabat juga lebih longgar. Pagi teman-teman datang, malam juga begitu, karena waktu saya lebih longgar dan banyak waktunya.

Pokoknya yang rutin itu arisan, acara masjid dan gotong royong bersih-bersih lingkungan. Kalau tidak ke luar kota, saya pasti kumpul.

Dengan keluarga pergi ke mana saja?
Dengan keluarga kadang jalan-jalan saja, ke toko buku, kadang makan, nonton.
Alhamdulillah sekarang jadi keluarga yang normal.

Apa teman-teman dari Partai Demokrat sering datang, termasuk saat Anda sakit?
Ada. Memang tidak seramai dulu. Rumah ini terbuka untuk teman-teman ngobrol, ngopi dan bertukar pikiran.

Apa yang biasanya dibicarakan?

Macam-macam yang dibicarakan. Kami biasa bicara serius. Sampai dengan bicara ngalor-ngidul ha-ha-ha.

Siapa saja yang sering datang?
Ah, banyak. Saya tidak mau sebut nama. Nanti saya dijadikan juru sensus, he-he-he.

Kalau bicara serius, tentang apa saja?
Jangan sangka bicara yang kecil-kecil itu tidak serius. Misal bicara kuliner. Itu adalah isu yang serius karena itu menyangkut kearifan budaya bangsa, ekonomi kerakyatan, menyangkut turisme atau kreatifitas rakyat. Ternyata yang dianggap sepele ternyata bisa juga serius.

Apa ada yang datang untuk  konsultasi politik?

Ya, itu juga yang paling sering. Ada yang curhat, cerita, diskusi dan konsultasi masalah politik.

Anda menampung curhat itu?
Jangan salah, curhat itu adalah bagian dari relasi antar manusia yang lazim. Apa lagi antar teman dan kawan-kawan seperjuangan dalam silaturahmi tentunya ada elemen curhat juga.

Apa saja curhatnya?
Ada yang curhat nomor urut, dapil, curhat penggalangan konstituen dan lain-lain.

Tapi di rumah saya suasananya enjoy, santai, tertawa-tertawa, sambil menertawakan diri sendiri, kadang berkelakar juga mengenai keadaan yang terjadi.

Di rumah Anda selalu ada pengajian?

Ya. Yang wajib itu Senin dan Kamis.

Apa baru-baru ini saja?
Tidak. Sejak awal sudah ada pengajian di rumah saya. Sebulan sekali pengajian besar. Mengaji ini tradisi di kampung, saya melestarikan saja.

Anda dengan lingkungan sekitar bagaimana?
Di sini lingkungan kompleks. Tapi hubungannya paguyuban karena semangat ke arah paguyuban itu terasa sekali.  Kalau dibilang seperti paguyuban seperti di kampung, ya tidak. Disebut patembayan seperti di kota juga tidak. Saya komunikasi dengan antar tetangga cukup baik kok.

Apa tidak ada perasaan risih pasca kasus Anda ini?
Tidak. Malah makin banyak yang minta foto saat saya ke pasar, bandara, atau di tempat keramaian lainnya.

Selama di partai lebih sibuk karena banyak acara ke luar kota.

Komunikasi dengan HMI bagaimana?
Komunikasi dengan adik-adik Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) jalan terus. Bahkan sampai ke daerah. Kalau saya ke daerah saya selalu sempatkan diri untuk datang ke adik-adik HMI daerah.

O ya, kenapa pilih Adnan Buyung Nasution sebagai kuasa hukum Anda?
Bang Buyung sudah kenal lama, kan saya pernah sama-sama di tim 11. Setelah itu komunikasi berjalan baik. Beliau itu kan pengacara senior yang punya kapabilitas, kredibilitas dan idealis, saya merasa cocok dengan beliau.

Bang Buyung kan kontra dengan SBY, apa karena itu?
Saya tidak pernah tanya ke Bang Buyung dan berdiskusi mengenai itu. Saya juga belum tahu hubungannya dengan Pak SBY.

Yang jelas, saya memilih Bang Buyung tidak ada relevansi hubungan beliau dengan Pak SBY

Apa yang biasa disiskusikan?
Banyak hal, tapi yang utama saya diskusikan adalah kasus yang disangkakan kepada saya, termasuk juga konteks non hukumnya.  Ternyata Bang Buyung sudah punya pemahaman yang memadai tentang konteks non hukumnya.  [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

Relawan Gigit Jari Gegara Jokowi Batal Wantimpres

Senin, 09 Februari 2026 | 02:01

Jaminan Kesehatan 11 Juta Orang Dicabut Bikin Ketar-ketir

Senin, 09 Februari 2026 | 01:29

MKMK Tak Bisa Batalkan Keppres Adies Kadir Jadi Hakim MK

Senin, 09 Februari 2026 | 01:11

Baznas-Angkasa Malaysia Perkuat Pemberdayaan Ekonomi Umat Berbasis Masjid

Senin, 09 Februari 2026 | 01:01

Kata Pengantar Buku, YIM: Keadilan yang Memulihkan Hak

Senin, 09 Februari 2026 | 00:35

Bahlil Takut Disebut Pengkhianat soal Prabowo-Gibran Dua Periode

Senin, 09 Februari 2026 | 00:32

Tradisi Jual Beli Istri di Eropa, Budaya Rakyat Abad ke-17 sampai ke-20

Senin, 09 Februari 2026 | 00:09

Sakit Jokowi Dicurigai cuma Sandiwara

Minggu, 08 Februari 2026 | 23:27

Prestasi Timnas Futsal Jadi Kebanggaan Rakyat

Minggu, 08 Februari 2026 | 23:22

Delegasi Indonesia Paparkan Konsep Diplomasi Humanis di YFS 2026 Jenewa

Minggu, 08 Februari 2026 | 23:05

Selengkapnya