Berita

ilustrasi/ist

Kesehatan

Serangan TBC Di Anak Makin Sulit Terdeteksi

Waspadai Jika Berat Anak Mendadak Turun Drastis
MINGGU, 28 APRIL 2013 | 08:10 WIB

Penyakit Tuberkulosis (TB atau TBC) mengincar anak-anak. Pasalnya, penyakit ini menyerang secara tibatiba tanpa gejala yang khas, seperti TBC pada orang dewasa. Sekitar 9,5 juta anak di Asia Tenggara terserang penyakit ini.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, sekitar 9,5 juta anak di Asia Tenggara tidak mendapatkan imunisasi dasar untuk difteri, tetanus dan pertusis (DTP atau vaksin pentavalen) pada tahun 2011.

Akibatnya, anak-anak itu mudah terserang penyakit termasuk TBC. Apalagi, penyakit ini bisa menular saat anak mengisap udara. Jika sistem imun dalam tubuh anak lemah, otomatis bisa langsung terjangkit TBC.


Menurut dokter spesialis anak dari RSCM, dr Wahyuni Indawati, tuberkulosis pada anak menginfeksi primer di parenkim paru yang tidak menyebabkan refleks batuk, sehingga jarang ditemukan gejala khas seperti batuk berdahak.

“Beberapa gejala awalnya, anak gampang jatuh sakit, atau berat badan turun tanpa sebab. Selain memberikan vaksin dan menjaga kebersihan lingkungan, penting pula untuk mencari sumber penularan,” ungkap Wahyuni Indawati saat seminar kesehatan anak di Kantor Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Matraman Dalam, Jakarta, Selasa (23/4).

Dilanjutkan Wahyuni, penyakit TBC pada anak tidak menular karena kuman berkembang biak di kelenjar paru-paru yang tidak terbuka. Sementara pada TBC dewasa, kuman berada di paru-paru dan membuat lubang untuk keluar melalui jalan napas. Nah, pada saat batuk, percikan ludahnya mengandung kuman. Ini yang biasanya terisap oleh anak-anak, lalu masuk ke paru paru.

Parenkim paru ini, kata dia, cenderung mengandung lebih sedikit kuman, maka TBC tidak menular antar sesama anak. “Tuberkulosis sangat mudah menular dari orangtua ke anak, tapi tidak menular dari anak ke anak,” katanya.

Staf pengajar Depertemen Ilmu Kes Anak FKUI/RSCM, Prof. Dr. dr. Sri Rezeki S. Hadinegoro menerangkan, khusus untuk anak di bawah lima tahun, bila sudah terkena TBC sebaiknya diajari supaya tidak menjadi sumber penularan. Seperti mengajarkan agar tidak buang dahak sembarangan.

Dia menyarankan, anak sebaiknya segera diberikan vaksinasi BCG. Kemudian diberikan makanan dengan gizi seimbang dan menjaga lingkungan rumah, tidak lembap, dan sinar matahari dapat masuk ke rumah.

“Waspadai juga adanya sumber penularan di sekitar, seperti orang dewasa serumah misalnya pembantu dan supir atau lingkungan rumah dan sekolah seperti guru dan satpam,” tegasnya.

TBC pada anak, lanjut Sri, memiliki ciri-ciri, yaitu demam lebih dari 2 minggu dan berulang, batuk lebih dari 3 minggu, anak lesu, nafsu makan turun, kontak erat dengan pasien TBC paru dewasa, teraba benjolan leher.

Agar anak terhindar dari TBC, orangtua disarankan mengikuti Program Imunisasi Nasional yaitu melakukan imunisasi rutin, imunisasi tambahan dan imunisasi khusus Imunisasi ini harus diberikan anak-anak sejak anak dilahirkan sampai usia 12 bulan.

Hasil Foto Rontgen Tidak Bisa Jadi Jaminan Ada TBC

Gejala TBC (Tuberculosis) pada anak lebih susah didiagnosis, dan seringkali terjadi salah diagnosa, karena gejala yang dialami bisa juga merupakan gejala penyakit lain.

Tuberculosis pada anak bisa ditandai dengan gejala-gejala demam lama atau berulang, tapi tidak terlalu tinggi, tidak ada nafsu makan (anoreksia), berat badan tidak naik-naik, malnutrisi atau gangguan gizi, multi L (lemah, letih, lesu, lelah, lemas letoy, loyo, lambat), batuk lama atau berulang, tetapi tidak berdahak (tapi seringkali ini merupakan gejala asma) serta diare berulang.

Staf pengajar Depertemen Ilmu Kes Anak FKUI Prof Dr dr Sri Rezeki S. Hadinegoro mengatakan, gejala yang tidak khas, sering kali tidak menjadi perhatian orangtua.

“Tuberkulosis yang terjadi pada anak sering kali terpinggirkan dan dianggap masalah kesehatan biasa. Hingga beberapa tahun terakhir ini jumlahnya terus meningkat. Setelah mendapat pemeriksaan menyeluruh di rumah sakit, baru diketahui kalau si anak terkena TBC,” kata dokter di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) ini.

Gejala TBC sendiri tidak sertamerta muncul. Saat awal, 4-8 minggu setelah infeksi, bisa jadi anak hanya demam sedikit.Beberapa bulan kemudian, gejalanya mulai muncul di paru-paru. Kemudian anak batuk-batuk sedikit, tahap berikutnya (3-9 bulan setelah infeksi), anak tidak nafsu makan, kurang gairah, dan berat badan turun tanpa sebab. Juga ada pembesaran kelenjar di leher, sementara di paru-paru muncul gambaran flek.

Saat itu, kata dia, ada dua kemungkin apakah akan muncul gejala TBC yang benar-benar atau sama sekali tidak muncul. Ini tergantung kekebalan anak. Kalau anak kebal (daya tahan tubuhnya bagus), TBC tidak muncul.

“Tapi bukan berarti sembuh. Setelah bertahun-tahun, bisa saja muncul, bukan di paru-paru lagi, melainkan di tulang, ginjal, otak, dan sebagainya. Ini yang berbahaya dan butuh waktu lama untuk penyembuhannya,” cetus Sri. Menurutnya, diagnosis TB pada anak tidak bisa dilakukan dengan uji dahak (sputum test), karena memang jarang pasien TB anak mengalami batuk berdahak. Selain itu, foto rontgen pada anak juga tidak bisa memberikan diagnosa yang tepat.

Karena itu, kata Rezeki, diperlukan uji Tuberkulin atau uji Mantoux. Uji Tuberkulin dilakukan dengan menyuntikkan tuberkulin PPD intrakutan di lengan bawah. Reaksi obat dapat dilihat 48-72 jam setelah penyuntikan. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Setelah 19 Kapolda Berganti, Apa yang Berubah bagi Masyarakat?

Selasa, 06 Oktober 2026 | 06:19

King Indo Sah Jadi Raja ASEAN Usai Geprek Thailand 4-2

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:54

Jika Gugatan Denny Indrayana Cs Diterima MK Tak Otomatis Gibran Lengser

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:33

Ada Beking Politik, Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Jaksinema Bakal Jadi Mesin Baru Ekonomi Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:55

Bonus Timnas Indonesia Diatur Ketum PSSI

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:38

Nasib Gibran di Tangan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:19

Tak Mudah Pecat Gibran Meski Gugatan Denny Indrayana Cs Dikabulkan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 03:28

Festival Indonesia 2026 Perkuat Diplomasi Budaya Jakarta-Seoul

Selasa, 06 Oktober 2026 | 03:03

Jakarta Butuh Regulasi Parkir Valet

Selasa, 06 Oktober 2026 | 02:23

Selengkapnya