Berita

hugo chavez/ist

Dunia

Hugo Chavez Ternyata Pengagum Bung Karno!

SELASA, 09 APRIL 2013 | 18:09 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Presiden Republik Bolivar Venezuela Hugo Chavez yang meninggal dunia 5 Maret lalu ternyata sangat mengagumi pemikiran Bung Karno, terutama gagasan menyatukan bangsa dari berbagai negara di kawasan Amerika Selatan dan Afrika.

Chavez menjadi promotor utama organisasi negara-negara Amerika Selatan dan Afrika (ASA) yang digagas dalam pertemuan di Nigeria pada 2006 dan pertemuan di Venezuela pada 2009.

Pada tanggal 22 Februari lalu, dalam kondisi kesehatan yang memburuk, Hugo Chavez mengirimkan sepucuk surat kepada 63 delegasi negara Amerika Latin dan Afrika yang tengah menggelar pertemuan ke-3 ASA di Equatorial Guinea.


Dalam surat itu, Chavez mengajak semua negara ASA membangun jaringan kerja yang otentik dan permanen untuk menemukan strategi pembangunan berkelanjutan yang menguntungkan kedua benua.

"Adalah di benua kita, dimana terdapat sumber alam yang cukup, juga sumber sumber politik dan sejarah… untuk menyelamatkan planet dari kekacauan yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme," ujarnya dalam surat yang dibacakan Menteri Luar Negeri Elias Jaua itu seperti dikutip dari www.venezuelanalysis.com.

Dia mengajak agar negara-negara anggota ASA tidak kehilangan kesempatan untuk menyatukan kapasitas dalam sebuah kutub kekuatan yang sesungguhnya. Kekuatan Barat, sebutnya, bukanlah sumber dari solusi yang komprehensif dan definitif yang dapat digunakan untuk menyelasaikan berbagai persoalan yang kini ada.

"Presiden Chavez sangat mengagumi perjuangan Bung Karno di masa lalu. Gagasannya tentang ASA juga dipengaruhi oleh perjuangan Bung Karno menggelar Konferensi Asia Afrika tahun 1955 lalu," ujar Duta Besar Venezuela, Darwin Tovar, dalam pertemuan dengan Rachmawati Soekarnoputri di Universitas Bung Karno (UBK), siang tadi (Selasa, 9/4).

Dubes Tovar yakin, keberanian Bung Karno dan pemimpin-pemimpin Asia-Afrika lainnya kala itu juga menginspirasi pemimpin-pemimpin negara dunia saat ini yang ingin menjalin kerjasama damai dan saling menguntungkan dengan negara lain tanpa tekanan dan kecurangan.

Dalam sambutannya Rachma mengatakan, kendati Perang Dingin sudah berakhir, namun ajaran-ajaran Bung Karno terasa masih sangat relevan. Dalam praktik hubungan antar-bangsa dan antar-negara, ujar Rachma, masih ada penindasan yang terjadi. Terkadang penindasan itu berlangsung dengan cukup halus dan tanpa terasa.

Sebagai kenang-kenangan Rachmawati memberikan buku Di Bawah Bendera Revolusi yang telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris menjadi Under the Banner of Revolution kepada Dubes Tovar.

Dubes Tovar mengunjungi Rachma untuk menjajaki kemungkinan membentuk sebuah organisasi persahabatan yang menghubungkan masyarakat kedua negara. Rachma yang merupakan pendiri Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea Utara mengatakan, sudah sepatutnya masyarakat kedua negara didekatkan melalui sebuah wadah persahabatan.

Dubes Tovar juga mengatakan bahwa negara-negara kapitalis Barat tengah berusaha untuk mengganggu sistem demokrasi yang ada di negara itu. Mereka berusaha mempengaruhi hasil pemilihan presiden yang akan diselenggarakan pada tanggal 14 Februari mendatang dengan mendukung calon kubu oposisi Henrique Capriles Radonski dari Koalisi untuk Persatuan Demokrasi.

Setelah Chavez meninggal dunia, wakil presiden Nicolas Maduro kini menjadi presiden sementara hingga presiden baru terpilih. Dalam pemilihan presiden nanti, Radonski akan berhadapan dengan Maduro yang diusung Partai Persatuan Sosialis Venezuela. Sebelum meninggal dunia, Chavez berpesan agar Maduro melanjutkan kekuasaannya.

Dalam pertemuan dengan Rachmawati itu, Dubes Tovar juga mengatakan bahwa kaum oposisi di negaranya menjadi kepanjangan tangan dari negara-negara asing yang ingin menguasai kekayaan alam Venezuela dan terganggu dengan sikap Venezuela selama ini dalam melindungi kekayaan alam itu.

"Venezuela adalah negara dengan cadangan minyak bumi terbesar di Amerika Latin. Kami juga memiliki pertambangan mineral. Pertanian dan peternakan kami juga cukup maju," ujarnya lagi.

Menurut Tovar, dalam pemilihan presiden nanti sebagian besar rakyat Venezuela akan memilih Maduro. Bagaimanapun, rakyat Venezuela dapat menyaksikan bagaimana sistem kapitalisme yang terjadi di banyak negara hanya menguntungkan sebagian kecil kelompok elite ekonomi dan politik. [guh]

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Bos Danantara Ungkap Proses Pangkas BUMN Tak Mudah

Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:11

Hingga Siang Nusron Belum Hadir, KPK Masih Menunggu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:53

PJBS Direvisi, Porsi Saham Bayan Resources yang Dibeli Haji Isam Bertambah Jadi 10,08 Miliar

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:44

Nasib Gibran Kini Tergantung Prabowo

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:37

Empat WNI Pulang ke Tanah Air usai Enam Bulan Disandera Bajak Laut Somalia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

PDIP: Kebohongan Gibran Lulus SMA Sederajat Tercatat dalam Putusan Negara!

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

Putusan MK soal Gibran Buka Perdebatan Demokrasi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:21

DPR Minta Pemerintah Percepat Huntara bagi Korban Gempa Flores

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:19

Rita Widyasari Kembali Diperiksa KPK

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:17

Badai Dekati Amerika, Harga Minyak Naik Lagi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:01

Selengkapnya