Berita

ilustrasi/ist

Masyarakat Harus Pantau Jejak Rekam Caleg

JUMAT, 29 MARET 2013 | 07:31 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Masyarakat diimbau untuk memantau track record atau jejak rekam para calon anggota legislatif (caleg) yang akan maju pada Pemilihan Umum 2014 mendatang. Partisipasi aktif warga akan sangat menentukan kualitas pelaksanaan Pemilu 2014 nanti.

Demikian kesimpulan hasil Diskusi Publik “Kandidasi Karbit Partai Politik, Rekruitmen Caleg”, yang digelar Forum Pemuda Lintas Agama Kota Tangerang Selatan (Tangsel) di kawasan Serpong, kemarin.

Turut hadir pada diskusi tersebut Wakil Pemimpin Redaksi Harian Umum Rakyat Merdeka Ricky Handayani, praktisi hukum Rudi Alfonso dan praktisi politik Very Muhlis Arifuzzaman.


Menurut Ketua Panitia Abdul Rajak, terselenggaranya acara ini adalah bagian dari pendidikan politik kepada masyarakat agar tidak salah memilih pada Pemilu 2014 nanti.

Karena, menurut Sekretaris MUI Kota Tangsel ini, Pemilu 2014 nanti sangat menentukan kemajuan Indonesia lima tahun mendatang.

“Kita tidak ingin Indonesia jalan di tempat hanya dikarenakan caleg-caleg yang terpilih pada Pemilu 2014 nanti tidak berkualitas. Maka acara ini sangat penting sebagai pembelajaran politik masyarakat,” ucapnya.

Sementara itu menurut Ricky, saat ini tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai politik sudah pada titik nadir yang mengkhawatirkan. Hal itu terjadi dikarenakan prilaku aktor-aktor partai politik (politisi) yang cenderung melakukan korupsi.

“Prilaku korupsi itu yang membuat kredibilitas partai politik di Indonesia semakin merosot,” katanya.

Partisipasi aktif dari masyarakat akan membantu meningkatkan kualitas Pemilu 2014 nanti. Indikator dari berkualitasnya Pemilu 2014 nanti, imbuhnya, adalah terpilihnya caleg-caleg yang barkualitas.

Ke arah sana, lanjut Ricky, partai politik sebagai wadah para caleg harus juga berkualitas. Secara ideal partai politik itu bagaikan rahim yang akan melahirkan calon pemimpin berkualitas.

Agar bisa melahirkan calon pemimpin yang berkualitas, maka asupan gizi partai politik juga harus berkualitas. “Jangan sampai yang dilahirkan partai politik pemimpin yang instan yang tidak berkualitas,” tuturnya.

Hal serupa juga diutarakan Very Muhlis. Kata dia, saat ini penentuan caleg yang dilakukan partai politik sering kali berlandasan nasab atau garis keturunan. Partai politik sering kali belum memandang penting kapasitas dan kapabilitas caleg yang akan diusung pada Pemilu 2014 nanti. Kondisi itu yang membuat partai politik belum dijadikan harapan bagi masyarakat.

“Masyarakat masih menempatkan partai politik belum bisa memberikan harapan. Diharapkan partai politik menjadi tumpuan dan harapan masyarakat yang mampu melahirkan kader-kader pemimpin yang berkualitas dan berintegritas tinggi,” tuturnya.

Hal yang penting bagi Very adalah masyarakat mampu mengakses rekam jejak caleg yang akan bertarung pada Pemilu 2014 nanti. Akses informasi ini berkaitan dengan jumlah harta kekayaan, tingkat intelektual dan latarbelakang sosial lainnya yang dijadikan referensi dalam memilih pada Pemilu 2014 nanti.

“Kita tidak ingin caleg-caleg yang terpilih nanti tidak memiliki kapasitas dalam membuat peraturan perundang-undangan, menjalankan tugas budjeting dan pengawasan,” tambahnya.

Sementara Rudi Alfonso melihat dari kacamata hukum. Kata dia, saat ini hukum sering kali dijadikan komoditas politik. Hal itu yang membuat kondisi politik di Indonesia selalu carut-marut.

Partai politik sebagai wadah kaderisasi pemimpin yang berkualitas sering kali gagal dalam menjalankan tugasnya. “Bisa dilihat kader-kadernya yang terlibat dalam kasus hukum. Ini yang harus dibenahi,” ujarnya. [zul]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

UPDATE

Perang di Meja Runding

Kamis, 09 April 2026 | 06:16

Kecanggihan Alat Perang AS-Israel Bisa Dikalahkan

Kamis, 09 April 2026 | 06:04

Polisi di Jateng Dilaporkan Usai Rekam Polwan Mandi

Kamis, 09 April 2026 | 05:36

Tatanan Baru Dunia di Bawah Naungan Syariah Islam dan Khilafah

Kamis, 09 April 2026 | 05:26

Pemuda di Solo Tanam Ganja di Rumah

Kamis, 09 April 2026 | 05:10

Polda Sumsel Pamerkan 1.715 Unit Motor Hasil Curian

Kamis, 09 April 2026 | 04:20

Bandung Masuk 5 Besar Destinasi Wisata Terpopuler di Asia

Kamis, 09 April 2026 | 04:16

Pemprov Jateng Gratiskan Bea Balik Nama Kendaraan Bekas

Kamis, 09 April 2026 | 04:01

Mental Baja di Ujung Kiamat, Iran Tetap Berkata ‘Tidak’

Kamis, 09 April 2026 | 03:30

Jusuf Kalla Tersinggung Berat Omongan Rismon

Kamis, 09 April 2026 | 03:28

Selengkapnya